JAMBI — Suasana kampus Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Syaifuddin Jambi mendadak berubah. Bukan karena aksi demonstrasi atau kericuhan, melainkan gelombang antusiasme ratusan mahasiswa yang memadati aula, menyambut kehadiran sosok penting dari kepolisian.
Dirresnarkoba Polda Jambi, Dewa Made Palguna, hadir langsung di tengah-tengah mahasiswa—membawa pesan tegas yang tak bisa diabaikan: perang terhadap narkoba dimulai dari kampus.
Momen ini terjadi bertepatan dengan pelantikan Presiden Mahasiswa UIN STS Jambi, Abel Gaesca Sandya. Namun siapa sangka, pelantikan tersebut justru menjadi panggung lahirnya semangat baru—semangat melawan ancaman narkoba yang kian mengintai generasi muda.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam paparannya, Kombes Pol. Dewa Made Palguna tak sekadar menyampaikan materi. Ia membedah realitas pahit tentang narkoba yang bukan lagi sekadar persoalan hukum, melainkan ancaman nyata bagi masa depan bangsa—sebuah extraordinary crime yang harus dilawan bersama.
“Mahasiswa bukan hanya dituntut menjauhi narkoba, tapi harus berdiri di garis depan sebagai agen perubahan,” tegasnya di hadapan peserta yang tampak terpaku, menyimak setiap kata.
Suasana semakin hidup ketika sesi tanya jawab dibuka. Mahasiswa silih berganti mengangkat tangan—menunjukkan bahwa keresahan terhadap narkoba bukan lagi hal yang jauh dari kehidupan mereka.
Gelombang kesadaran itu pun terasa nyata. Bukan hanya mendengar, tetapi tumbuh menjadi sikap: menolak, melawan, dan siap bergerak.
Presiden Mahasiswa, Abel Gaesca Sandya, tak mampu menyembunyikan kesan mendalam atas kehadiran Dirresnarkoba. Ia menyebut momen tersebut sebagai “angin segar” yang membawa wawasan baru sekaligus membakar semangat kolektif mahasiswa.
“Kehadiran beliau bukan sekadar sebagai pemateri, tapi sebagai inspirasi. Ini bukan hanya tentang pengetahuan, tapi tentang membangun keberanian dan komitmen untuk menjaga masa depan bangsa,” ungkapnya.
Ia menegaskan, apa yang disampaikan tidak akan berhenti sebagai materi seminar semata. Lebih dari itu, akan menjadi gerakan nyata yang hidup di tengah mahasiswa—mendorong lahirnya generasi yang sehat, berkarakter, dan bebas dari jerat narkoba.
Di akhir acara, satu pesan menggema kuat di ruang auditorium: mahasiswa tidak boleh diam.
Dari kampus inilah, harapan itu disemai—bahwa perang melawan narkoba bukan hanya tugas aparat, tetapi panggilan bersama. Dan hari itu, di UIN STS Jambi, api perlawanan itu mulai menyala.
Fahmi
Redaksi













