Pekanbaru — Ini bukan sekadar perampokan. Ini potret kebiadaban yang lahir dari racun bernama narkoba—zat yang tak hanya merusak tubuh, tetapi menghancurkan akal sehat hingga manusia kehilangan nurani.
Seorang wanita paruh baya ditemukan tewas mengenaskan di kamar mandi rumahnya di Jalan Kurnia, Kelurahan Limbungan Baru, Kecamatan Rumbai, Rabu siang (29/4/2026). Tubuhnya tertelungkup, bersimbah darah. Ia tidak melawan. Ia tidak berdaya. Namun nyawanya tetap direnggut dengan cara yang begitu keji.
Lebih memilukan, pelaku bukan orang asing. Mereka adalah bagian dari lingkaran yang pernah dekat—bahkan terikat dalam hubungan keluarga. Mantan menantu yang seharusnya menjaga, justru menjadi algojo tanpa belas kasihan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Balok kayu menjadi saksi bisu. Pukulan demi pukulan menghantam tubuh renta yang tak tahu apa-apa tentang dunia gelap narkotika. Di titik itu, kemanusiaan runtuh—digantikan oleh brutalitas tanpa hati.
Tim gabungan Resmob Jatanras Polda Riau dan Satreskrim Polresta Pekanbaru bergerak cepat. Dalam waktu kurang dari sepekan, empat pelaku berhasil diringkus di dua provinsi berbeda—Aceh Tengah dan Kota Binjai.
Namun fakta yang terungkap jauh lebih mengerikan: hasil pemeriksaan menunjukkan para pelaku positif mengonsumsi narkoba, bahkan lebih dari satu jenis. Racun itu telah mengambil alih kesadaran mereka—menghapus batas benar dan salah, bahkan memutus ikatan darah.
Inilah wajah nyata narkoba. Ia tidak hanya mencuri masa depan, tetapi juga merampas kemanusiaan. Dari pencurian kecil hingga pembunuhan berdarah, benang merahnya kerap sama: narkotika.
Kasus ini menjadi peringatan keras—bahwa narkoba bukan lagi ancaman biasa. Ia adalah kejahatan luar biasa yang diam-diam menggerogoti sendi kehidupan, bahkan hingga ke dalam rumah dan keluarga sendiri.
Dan di balik satu nyawa yang hilang, ada luka yang tak akan pernah benar-benar sembuh—luka dari pengkhianatan, dari kebiadaban, dari manusia yang telah kehilangan nuraninya sendiri.
Fahmi













