PETI Kapur IX Kian Menggila, Dugaan Upeti hingga Beking Aparat Jadi Sorotan: Hukum Dinilai Tajam ke Bawah, Tumpul ke Atas

- Penulis

Sabtu, 9 Mei 2026 - 16:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumbar — Aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Jorong Galugua dan Jorong Tanjuang Jajaran, Nagari Galugua, Kecamatan Kapur IX, seolah menjadi “kerajaan ilegal” yang sulit disentuh hukum. Meski telah beberapa kali dirazia aparat kepolisian, deru excavator dan mesin sedot emas masih terus menggema siang dan malam di kawasan hutan lindung aliran Sungai Kampar.

Ironisnya, di tengah kerusakan lingkungan yang semakin parah dan air sungai yang berubah keruh, masyarakat justru menilai penegakan hukum berjalan setengah hati. Aparat Penegak Hukum (APH) pun mulai disorot tajam dan dituding melakukan pembiaran, bahkan diduga tebang pilih dalam menindak para pelaku tambang ilegal tersebut.

Informasi yang dihimpun dari berbagai sumber menyebutkan, para penambang manual diduga hanya dijadikan “tameng hidup” demi membangun opini bahwa aktivitas itu untuk ekonomi rakyat kecil. Padahal, keuntungan terbesar disebut mengalir ke kantong para cukong dan pemodal besar yang diduga mengendalikan operasi tambang dari balik layar.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lebih mengejutkan lagi, beredar dugaan keterlibatan oknum perangkat nagari hingga oknum ninik mamak yang disebut-sebut ikut “melegalkan” aktivitas haram tersebut. Dugaan adanya perlindungan dari oknum aparat pun semakin memperkuat asumsi publik bahwa PETI Kapur IX bukan lagi aktivitas sembunyi-sembunyi, melainkan praktik ilegal yang diduga telah terorganisir rapi.

“Sudah berkali-kali dirazia, tapi alat tetap masuk, aktivitas tetap jalan. Publik bertanya-tanya, siapa sebenarnya yang bermain di belakang semua ini?” ungkap seorang warga dengan nada kecewa.

Tak hanya merusak lingkungan, aktivitas PETI juga disebut mulai memicu keresahan sosial di tengah masyarakat. Sungai yang dahulu menjadi sumber kehidupan warga kini tercemar lumpur dan limbah tambang. Ancaman longsor dan kerusakan ekosistem pun semakin nyata menghantui masyarakat sekitar.

Di balik beroperasinya puluhan excavator itu, terselip dugaan aliran dana fantastis yang disebut mencapai puluhan juta rupiah setiap bulannya. Informasi yang beredar menyebut adanya setoran koordinasi hingga Rp75 juta per alat berat excavator. Dengan banyaknya alat yang beroperasi, total uang yang berputar diduga mencapai angka yang mencengangkan.

Baca Juga:  Hari Lahir Pancasila ke-81, Ditlantas Polda Sumbar Teguhkan Api Persatuan di Tengah Dinamika Bangsa

Tak berhenti di situ, masyarakat juga mengungkap adanya dugaan praktik “tutup mata” serta pasokan BBM ilegal yang menopang aktivitas tambang agar tetap berjalan lancar tanpa hambatan. Dugaan adanya keterlibatan oknum aparat dari unsur tertentu sebagai beking pun menjadi isu paling panas yang kini menyedot perhatian publik.

Situasi ini membuat kepercayaan masyarakat terhadap penegakan hukum mulai dipertanyakan. Warga mendesak Kapolda Sumbar, Pangdam I/BB, Mabes Polri hingga Panglima TNI agar turun tangan langsung membongkar dugaan mafia tambang ilegal yang dinilai semakin terang-terangan beroperasi di Kapur IX.

“Hukum jangan hanya tajam kepada rakyat kecil, tapi tumpul terhadap cukong dan aktor besar di balik PETI,” tegas seorang tokoh masyarakat.

Secara hukum, aktivitas PETI jelas melanggar Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Minerba. Pasal 158 menyebutkan pelaku penambangan tanpa izin dapat dipidana hingga lima tahun penjara dan denda maksimal Rp100 miliar. Jika terbukti menyebabkan kerusakan lingkungan, pelaku juga dapat dijerat Undang-Undang Lingkungan Hidup dengan ancaman pidana berat.

Namun hingga berita ini mencuat luas, belum terlihat langkah besar yang benar-benar mampu menghentikan aktivitas tambang ilegal tersebut. Excavator masih terus bekerja. Sungai terus tercemar. Dan masyarakat terus bertanya: apakah hukum benar-benar masih berdiri untuk keadilan, atau justru kalah oleh kekuatan uang dan jaringan mafia tambang?

Hingga berita ini diterbitkan, Kasat Reskrim Polres 50 Kota IPTU Muhammad Indra Prakoso, S.Tr.K., S.I.K., M.H. belum memberikan tanggapan resmi terkait konfirmasi yang telah dilayangkan.

Rilisan ini disampaikan sebagai bentuk kontrol sosial serta aspirasi masyarakat agar penegakan hukum terhadap dugaan PETI, praktik upeti, dan kerusakan lingkungan di Kapur IX dapat dilakukan secara transparan, tegas, dan tanpa pandang bulu.

M bakara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel pakarinvestigasi.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Prof. Dr. Sutan Nasomal Bersuara Keras: Jangan Fitnah dan Bunuh Karakter Orang Tanpa Bukti, Poster Bukan Alat Penghakiman!
Setetes Darah, Sejuta Harapan: PT Musim Mas Hadirkan Kepedulian, 463 Warga Medan Rasakan Manfaat Layanan Kesehatan Gratis
Pelindo Regional 1 Belawan Perkuat Integrasi Layanan, Penerbitan Nota Beralih Mulai 1 November 2026
Enam Kelompok P3A Mengaku Tertekan, Pekerjaan Tersendat, APH dan BWS Didesak Bongkar Dugaan Permainan Dana
Pelindo Multi Terminal Hadirkan Jamur Berdaya HUB, Buka Peluang Usaha dan Kemandirian Ekonomi Masyarakat
Optimalisasi Aset Negara, KSOP Utama Belawan dan Pelindo Resmi Sepakati Tukar Menukar BMN
SIMPANG TITI PAPAN JADI NERAKA KEMACETAN! Bertahun-Tahun Terabaikan, Rakyat Dipaksa Bertaruh Waktu dan Keselamatan di Jalan Rusak
“TOLAK EKSEKUSI! WARGA PASAR IV HELVETIA BERTAHAN DI TENGAH ANCAMAN PENGOSONGAN: ‘KAMI SIAP MATI DEMI TANAH INI!’”
Berita ini 14 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 1 November 2026 - 09:58 WIB

Prof. Dr. Sutan Nasomal Bersuara Keras: Jangan Fitnah dan Bunuh Karakter Orang Tanpa Bukti, Poster Bukan Alat Penghakiman!

Minggu, 1 November 2026 - 08:58 WIB

Setetes Darah, Sejuta Harapan: PT Musim Mas Hadirkan Kepedulian, 463 Warga Medan Rasakan Manfaat Layanan Kesehatan Gratis

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 00:17 WIB

Pelindo Regional 1 Belawan Perkuat Integrasi Layanan, Penerbitan Nota Beralih Mulai 1 November 2026

Jumat, 30 Oktober 2026 - 10:34 WIB

Enam Kelompok P3A Mengaku Tertekan, Pekerjaan Tersendat, APH dan BWS Didesak Bongkar Dugaan Permainan Dana

Jumat, 30 Oktober 2026 - 09:33 WIB

Pelindo Multi Terminal Hadirkan Jamur Berdaya HUB, Buka Peluang Usaha dan Kemandirian Ekonomi Masyarakat

Berita Terbaru