Medan, — Angka Rp6 triliun pengembalian Transfer ke Daerah (TKD) untuk Sumatera Utara terdengar megah di atas kertas, namun di banyak sudut kampung, desa, dan pesisir, angka itu masih sebatas harapan yang belum menjelma menjadi perubahan nyata.
Di tengah itu, Anggota Komisi A DPRD Sumut, Irham Buana Nasution, menyuarakan peringatan keras sekaligus kegelisahan: jangan sampai dana sebesar itu justru melayang tanpa menyentuh luka paling dalam masyarakat.
“Jangan sampai ini salah sasaran. Jangan sampai rakyat yang paling membutuhkan justru tidak merasakan apa-apa,” ujarnya dengan nada tegas kepada awak media, Selasa (26/5/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menggambarkan bahwa Sumatera Utara bukan hanya soal angka pembangunan, tetapi tentang manusia—tentang keluarga yang rumahnya masih tersisa puing, anak-anak yang belajar di ruang seadanya, serta para orang tua yang kembali menata hidup dari nol setelah bencana menghantam pada akhir 2025.
“Di balik setiap bencana ada cerita yang tidak pernah selesai. Ada air mata yang belum kering. Ada harapan yang masih rapuh,” ungkapnya.
Irham menekankan, dana TKD harus menjadi jalan pulang bagi rakyat yang kehilangan arah akibat bencana: jalan yang rusak diperbaiki, sekolah yang roboh dibangun kembali, puskesmas yang lumpuh dihidupkan lagi, dan ekonomi kecil yang terpuruk diberi napas baru.
Ia meminta agar koordinasi antara Pemerintah Provinsi Sumut dan DPRD Sumut benar-benar diperkuat, agar setiap rupiah tidak hilang di tengah birokrasi, melainkan kembali dalam bentuk manfaat yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.
Menurutnya, wilayah terdampak bencana harus ditempatkan di garis depan prioritas. Namun ia juga mengingatkan bahwa Sumut adalah rumah besar bagi 33 kabupaten/kota yang semuanya menyimpan kebutuhan dan luka masing-masing.
“Tidak boleh ada yang tertinggal. Pembangunan harus menyentuh yang paling jauh, yang paling sunyi, yang paling lama menunggu,” katanya.
Ia turut mengapresiasi Presiden Prabowo Subianto serta Kementerian Dalam Negeri atas perhatian terhadap pemulihan Sumatera Utara, salah satu daerah yang berulang kali diuji oleh bencana.
Namun di balik apresiasi itu, terselip pesan yang lebih dalam: rakyat tidak hanya butuh kebijakan, tetapi kehadiran nyata negara dalam kehidupan sehari-hari.
Karena bagi masyarakat kecil, Rp6 triliun bukan sekadar angka besar yang dibahas di ruang rapat—melainkan sebuah janji: apakah hidup mereka benar-benar akan berubah, atau kembali menjadi cerita yang hanya lewat di berita.
Indra













