Deli Serdang – Di saat banyak orang hanya memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia dengan seremonial dan kata-kata, masyarakat nelayan Desa Percut memilih berbicara lewat tindakan. Mereka menanam harapan di lumpur pesisir, menancapkan ribuan bibit mangrove demi menyelamatkan masa depan anak cucu mereka.
Memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Lembaga Lingkungan Hidup AMPHIBI bersama Kelompok Tani Hutan Nelayan (KTHn) AMPHIBI Percut melakukan aksi besar penanaman 75.000 bibit mangrove di sepanjang pesisir Pantai Desa Percut, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang.
Namun, penanaman kali ini memiliki cerita yang jauh lebih dalam daripada sekadar kegiatan penghijauan. Di balik setiap bibit yang ditanam, tersimpan luka, perjuangan, dan air mata masyarakat pesisir yang pernah menyaksikan jerih payah mereka hancur dalam sekejap.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketua KTHn AMPHIBI Percut, A. Sayuti, mengenang bagaimana ribuan mangrove yang dahulu ditanam dengan penuh harapan tumbuh perlahan menjadi tunas kehidupan. Para nelayan datang pagi dan sore untuk merawatnya. Mereka percaya mangrove itu akan menjadi benteng yang melindungi kampung mereka dari abrasi dan gelombang pasang.
Namun harapan itu seakan direnggut begitu saja.
Awal tahun 2025 menjadi masa yang menyakitkan. Saat bibit-bibit mangrove mulai tumbuh dan mengeluarkan daun-daun muda, gelombang sampah dalam jumlah sangat besar datang menghantam kawasan penanaman. Sampah yang terbawa arus sungai menumpuk, merobohkan pagar pelindung, lalu menimbun dan mematikan tanaman yang selama berbulan-bulan dirawat dengan penuh kasih.
“Kami melihat tanaman-tanaman itu mati satu per satu. Rasanya seperti melihat harapan kami tenggelam bersama tumpukan sampah,” ungkap salah seorang nelayan dengan mata berkaca-kaca.
Investigasi AMPHIBI menemukan bahwa ratusan ton sampah yang menghancurkan kawasan rehabilitasi mangrove tersebut diduga berasal dari aliran yang dilepas dari Bendungan Sidoras. Akibat peristiwa itu, sekitar 200.000 bibit mangrove yang telah ditanam rusak dan mati.
Bagi sebagian orang, angka itu mungkin hanya statistik. Namun bagi masyarakat pesisir Percut, setiap batang mangrove yang mati adalah simbol dari tenaga, waktu, dan harapan yang ikut terkubur.
Ketua Umum AMPHIBI, Agus Salim Tanjung (AST), mengaku sangat prihatin atas kejadian tersebut. Menurutnya, kerusakan itu seharusnya dapat dicegah apabila pengelolaan sampah dilakukan secara serius sebelum air bendungan dialirkan ke hilir.
Meski demikian, AMPHIBI dan masyarakat nelayan tidak memilih menyerah.
Di saat banyak pihak diam, mereka kembali turun ke lumpur. Di saat harapan nyaris padam, mereka kembali menanam. Di saat ribuan pohon mati, mereka memilih menumbuhkan kehidupan baru.
Pada Agustus 2025 mereka kembali menanam 65.000 bibit mangrove, disusul 50.000 bibit pada Januari 2026. Kini, dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, mereka kembali menanam 75.000 bibit propagul mangrove jenis Rhizophora Mucronata dan Rhizophora Apiculata.
Penanaman itu bukan sekadar upaya penghijauan. Itu adalah simbol perlawanan terhadap kerusakan lingkungan. Simbol cinta masyarakat kepada laut yang selama ini memberi mereka kehidupan.
Di bawah terik matahari dan kaki yang terbenam lumpur, para nelayan, relawan, dan pegiat lingkungan menanam satu per satu bibit mangrove dengan keyakinan bahwa alam harus terus diperjuangkan, meski berkali-kali dikhianati oleh ulah manusia.
“Kalau hari ini kami berhenti menanam, maka anak cucu kami yang akan menanggung akibatnya. Karena itu kami akan terus menanam, terus menjaga, dan terus berjuang,” tegas AST.
Bagi AMPHIBI, Hari Lingkungan Hidup Sedunia bukan hanya tentang memperingati sebuah momentum. Ini adalah pengingat bahwa bumi membutuhkan tindakan nyata, bukan sekadar janji.
Di pesisir Percut, 75.000 mangrove yang ditanam hari ini bukan hanya akar yang akan mencengkeram tanah. Mereka adalah 75.000 harapan baru, yang tumbuh dari luka, bangkit dari kehancuran, dan menjadi saksi bahwa cinta kepada lingkungan tidak pernah mati, meski berkali-kali diterpa badai.
Indra













