Gunungsitoli — Pagi itu, di Lapangan Pelita, Gunungsitoli, suasana terasa berbeda. Bukan sekadar upacara pembukaan, melainkan awal dari sebuah pengabdian yang lahir dari kebersamaan. Dalam keheningan yang khidmat, langkah-langkah pasti para prajurit dan aparat negara menjadi simbol harapan bagi masyarakat Kepulauan Nias, Rabu (06/05/2026).
Kompi 4 Batalyon C Satuan Brimob Polda Sumatera Utara hadir, bukan hanya sebagai undangan, tetapi sebagai bagian dari denyut nadi pengabdian. Di tengah barisan itu, tergambar jelas satu tekad: hadir untuk rakyat, bekerja untuk negeri.
Upacara Pembukaan Karya Bakti TNI AD untuk Rakyat yang dimulai pukul 08.30 WIB dipimpin langsung oleh Gubernur Sumatera Utara, Bobby Afif Nasution. Dalam amanatnya, tersirat pesan yang sederhana namun dalam—bahwa pembangunan tidak bisa berjalan sendiri. Ia membutuhkan kebersamaan, sinergi, dan hati yang tulus untuk melayani.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kehadiran TNI, Polri, dan pemerintah daerah dalam satu barisan bukanlah sekadar simbol seremonial. Itu adalah bukti bahwa di balik perbedaan seragam, ada satu tujuan yang sama: menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat, terutama di wilayah yang selama ini terus berjuang mengejar pemerataan pembangunan.
Personel Brimob yang turut ambil bagian dalam kegiatan ini menjadi representasi nyata dari komitmen Polri. Mereka tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga ikut menanam harapan—bahwa negara selalu hadir, bahkan di wilayah kepulauan yang jauh dari hiruk pikuk pusat.
Di balik upacara yang berlangsung tertib dan lancar, tersimpan makna yang lebih dalam: tentang gotong royong, tentang kepedulian, dan tentang pengabdian tanpa batas. Setiap langkah kaki di lapangan itu seakan menyatu dalam satu irama—irama untuk Indonesia yang lebih kuat.
Hari itu, di Gunungsitoli, bukan hanya Karya Bakti yang dimulai. Tetapi juga harapan baru yang kembali dinyalakan—bahwa dengan sinergi TNI–Polri, mimpi masyarakat akan masa depan yang lebih baik bukanlah hal yang mustahil.
Dan Brimob Polda Sumut, seperti biasa, tetap berdiri di garis pengabdian—setia, senyap, namun penuh arti.
Indra/humas













