BELAWAN – Di tengah riuhnya suara kritik dan silang pendapat, ada satu suara yang lahir dari lorong-lorong sempit, dari dermaga yang lelah, dari hati masyarakat yang lama hidup dalam bayang-bayang ketakutan. Suara itu datang dari Lembaga Asli Anak Belawan (LAAB), yang dengan tegas dan penuh emosi menyatakan keberatan atas narasi yang dinilai tidak mencerminkan realitas pahit yang selama ini mereka rasakan.
Ketua Umum LAAB, Ustadz Muhammad Nabawi, berbicara bukan sekadar sebagai pemimpin lembaga, tetapi sebagai bagian dari denyut nadi Belawan itu sendiri. Dengan suara yang sarat kepedulian, ia menggambarkan luka lama yang belum sepenuhnya sembuh—luka akibat begal, tawuran, dan aksi premanisme yang merenggut rasa aman masyarakat.
“Apa yang kami rasakan di Belawan ini bukan teori… ini nyata. Ini tentang ibu-ibu yang menangis menunggu anaknya pulang, tentang buruh yang berangkat kerja dengan rasa cemas, tentang anak-anak yang takut keluar rumah. Jadi ketika ada yang berbicara dari jauh dan menyebut ini ‘ilusi keamanan’, itu seperti mengabaikan jeritan kami,” ucapnya penuh haru (06/05/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sinergitas yang Menyelamatkan, Bukan Mengancam
Bagi LAAB, kehadiran sinergitas antara POMAL dan Polres Pelabuhan Belawan bukanlah ancaman, melainkan secercah harapan yang selama ini dinanti. Di saat jalanan terasa mencekam, kehadiran aparat menjadi simbol bahwa negara tidak benar-benar meninggalkan mereka.
“Kami tidak butuh wacana saat nyawa dipertaruhkan di jalanan. Kami butuh tindakan. Sinergi ini bukan pelanggaran, tapi penyelamatan,” tegas Ustadz Nabawi.
Membela yang Menjaga
LAAB juga menyuarakan kepedihan atas tudingan yang dinilai menyudutkan aparat. Di mata mereka, aparat yang turun ke lapangan bukanlah sosok yang patut dicurigai, tetapi mereka yang mempertaruhkan nyawa demi ketenangan masyarakat.
“Ketika aparat disudutkan tanpa bukti yang adil, itu melukai kami juga. Karena merekalah yang berdiri di garis depan saat kami dalam bahaya,” lanjutnya.
Realita yang Tak Bisa Ditutup Narasi
LAAB tidak menutup mata terhadap persoalan kemiskinan dan pendidikan. Namun bagi mereka, rasa aman adalah fondasi utama sebelum semua itu bisa diperbaiki.
“Bagaimana anak bisa sekolah dengan tenang jika jalan menuju sekolah saja penuh ancaman? Keamanan adalah napas pertama sebelum kehidupan bisa berjalan,” ungkapnya lirih.
Apresiasi untuk Keberanian
Dengan penuh rasa hormat, LAAB menyampaikan terima kasih kepada Kapolres Pelabuhan Belawan dan jajaran POMAL yang berani hadir di titik-titik rawan—tempat yang dulu kerap dihindari.
Bagi warga, itu bukan sekadar patroli. Itu adalah bukti nyata bahwa negara hadir, mendengar, dan bertindak.
Seruan dari Hati Rakyat
Di akhir pernyataannya, Ustadz Nabawi mengajak masyarakat untuk tetap bersatu dan tidak terprovokasi oleh narasi yang berpotensi memecah belah.
“Kami hanya ingin hidup tenang. Jangan jadikan kami medan perdebatan. Dengarkan suara kami yang hidup di sini, yang merasakan langsung setiap ketakutan dan harapan,” pesannya.
Penutup yang Menggetarkan
Dengan mata yang memandang jauh ke masa depan Belawan yang lebih aman, LAAB menegaskan satu sikap: mereka berdiri bersama aparat yang berjuang di lapangan.
“Kami tidak berbicara atas nama kepentingan, tapi atas nama rasa aman yang mulai kami rasakan kembali. Jangan rampas harapan itu dari kami,” tutup Ustadz Muhammad Nabawi, dengan suara yang membawa satu pesan sederhana—bahwa di balik semua polemik, ada rakyat yang hanya ingin hidup tanpa rasa takut.
Redaksi













