Medan ~ Pemandangan mengharukan terlihat di Dusun 2, Desa Tanjung Gusta. Di saat sebagian orang sibuk dengan urusannya masing-masing, masyarakat desa ini justru berkumpul sejak pagi hari membawa cangkul, parang, dan alat seadanya untuk bersama-sama membersihkan jalan tani serta parit yang selama ini menjadi jalan harapan para petani mencari nafkah.
Tak ada bayaran. Tak ada kemewahan. Yang ada hanyalah ketulusan, kepedulian, dan rasa cinta terhadap kampung halaman.
Kegiatan bakti sosial dan gotong royong sepanjang kurang lebih satu kilometer itu dipimpin langsung oleh tokoh masyarakat Heri atau yang akrab disapa Heri Daging. Dengan penuh semangat, ia turun langsung bersama warga, berjalan di tengah lumpur, membersihkan semak belukar, hingga mengangkat tanah dari parit demi memperlancar akses jalan tani masyarakat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di lokasi kegiatan, tampak para orang tua, pemuda, hingga masyarakat sekitar bahu-membahu tanpa mengenal lelah. Keringat bercucuran, pakaian penuh lumpur, namun wajah mereka tetap memancarkan semangat dan kebersamaan yang begitu tulus.
Turut hadir Calon Kepala Desa Tanjung Gusta nomor urut 2, St. Benget Sihombing, bersama tokoh pemuda Naldes Sibarani ST dan Ketua Ranting Pemuda Pancasila Tanjung Gusta, Suyadi.
Kehadiran St. Benget Sihombing di tengah masyarakat menjadi perhatian tersendiri. Ia tidak hanya datang melihat, namun ikut berbaur bersama warga, mendengarkan keluhan masyarakat, dan menyaksikan langsung bagaimana jalan tani tersebut menjadi urat nadi kehidupan para petani desa.
Salah satu warga mengaku terharu melihat masih kuatnya rasa persaudaraan di tengah masyarakat Tanjung Gusta.
“Sekarang sudah jarang melihat masyarakat mau turun bersama seperti ini. Tapi di sini, kami masih percaya kalau kampung bisa maju kalau rakyatnya tetap kompak,” ucap seorang warga dengan mata berkaca-kaca.
Dalam keterangannya, Heri Daging mengatakan bahwa gotong royong adalah warisan yang tidak boleh hilang ditelan zaman.
“Jalan ini bukan sekadar tanah dan batu. Di jalan inilah masyarakat mencari rezeki, membawa hasil panen, dan menggantungkan harapan untuk keluarga mereka. Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi,” ucapnya penuh haru.
Sementara itu, St. Benget Sihombing menyampaikan bahwa dirinya ingin pembangunan desa nantinya benar-benar menyentuh masyarakat kecil, terutama para petani yang selama ini menjadi tulang punggung desa.
“Kita ingin masyarakat tidak hanya mendengar janji, tapi merasakan perhatian dan pembangunan yang nyata. Desa ini harus dibangun dengan hati, bukan sekadar kata-kata,” ungkapnya.
Gotong royong itu pun berlangsung hingga siang hari dengan penuh rasa kekeluargaan. Tidak ada sekat antara tokoh masyarakat, pemuda, maupun warga biasa. Semua menyatu dalam semangat yang sama: menjaga kampung, menjaga persaudaraan, dan menjaga harapan agar Desa Tanjung Gusta menjadi desa yang lebih maju, bersih, dan penuh kebersamaan.
Red













