Medan — Seharusnya Kuala Lumpur menjadi kota yang menyimpan kenangan indah bagi para atlet muda Aquatic asal Kabupaten Deli Serdang. Mereka berangkat membawa semangat, menenteng mimpi, dan menyimpan harapan untuk pulang dengan medali serta kebanggaan bagi keluarga dan daerah.
Namun di balik perjalanan itu, muncul cerita lain yang kini mengguncang hati para orang tua. Bukan hanya tentang pertandingan dan podium kemenangan, tetapi tentang dugaan kekecewaan, biaya yang belum sepenuhnya kembali, fasilitas yang dipersoalkan, hingga rasa cemas yang menyelimuti keluarga ketika anak-anak mereka berada jauh di negeri orang.
Polemik dugaan penelantaran atlet Aquatic Deli Serdang dalam ajang olahraga di Kuala Lumpur, Malaysia, kini menjadi perhatian publik. Sejumlah orang tua atlet mendatangi Ketua DPP Srikandi LSM PAKAR Indonesia, Elyta Megawati, membawa keluhan yang selama ini mereka pendam.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Mereka datang bukan sekadar membawa tuntutan. Mereka datang membawa kegelisahan sebagai orang tua yang menitipkan anak-anaknya untuk bertanding, berprestasi, dan mengharumkan nama daerah.
Keluhan itu sebelumnya mengemuka dalam konferensi pers di Hotel Lexus, Jalan Sisingamangaraja, Medan, Senin (29/6/2026). Di hadapan puluhan awak media, para orang tua mengungkapkan dugaan persoalan yang mereka alami, mulai dari mekanisme kerja sama yang dinilai tidak terbuka, janji pembiayaan yang disebut belum terpenuhi, hingga biaya tambahan yang akhirnya harus ditanggung sendiri.
Paspor, atribut kontingen, kebutuhan perjalanan, hingga sejumlah biaya lainnya disebut menjadi beban yang harus dipikul para orang tua. Padahal, bagi banyak keluarga, keberangkatan anak ke ajang internasional bukan perkara kecil. Ada tabungan yang dikumpulkan perlahan, ada harapan yang dijaga siang dan malam, dan ada doa yang terus dipanjatkan agar anak-anak mereka pulang membawa kabar baik.
Namun harapan itu disebut mulai retak ketika persoalan fasilitas selama di Malaysia turut mencuat. Para orang tua menyoroti dugaan ketidakjelasan akomodasi, transportasi, konsumsi, hingga tempat menginap atlet saat tiba di lokasi kegiatan.
Yang paling membuat hati mereka tersentuh adalah dugaan bahwa para atlet hanya diberikan makanan instan selama berada di Malaysia. Bagi para orang tua, kabar itu bukan sekadar soal menu makanan. Itu adalah soal perhatian, kepedulian, dan penghormatan terhadap anak-anak yang telah berjuang membawa nama Deli Serdang.
“Anak-anak itu berangkat bukan untuk merasakan ketidakpastian. Mereka berangkat untuk bertanding dan membawa nama daerah,” menjadi kegelisahan yang kini bergema di tengah keluarga para atlet.
Menanggapi pengaduan tersebut, Ketua DPP Srikandi LSM PAKAR Indonesia, Elyta Megawati, menyatakan pihaknya akan mengawal persoalan ini hingga tuntas. Ia memberi batas waktu 3×24 jam kepada pihak Event Organizer Milenial untuk menyelesaikan kewajiban pengembalian dana kepada para orang tua atlet.
“Kami memberi waktu 3×24 jam. Jika tidak ada penyelesaian, maka kami akan melaporkan ke Aparat Penegak Hukum,” ujar Elyta kepada awak media, Rabu (8/7/2026).
Pernyataan itu menjadi peringatan keras bahwa persoalan yang menyangkut masa depan atlet muda tidak boleh dipandang sebelah mata. Sebab, ketika seorang atlet berangkat membawa nama daerah, sesungguhnya ia membawa kepercayaan dari keluarga, pelatih, masyarakat, dan pemerintah.
DPP Srikandi LSM PAKAR Indonesia juga mendesak Dinas Pemuda dan Olahraga Sumatera Utara serta Pemerintah Kabupaten Deli Serdang agar turun tangan. Evaluasi menyeluruh dinilai perlu dilakukan, agar tidak ada lagi atlet muda yang harus bertanding dengan beban persoalan di luar arena.
Sementara itu, Farhan selaku PIC EO Milenial memberikan klarifikasi atas berbagai tudingan yang beredar. Ia membantah dugaan keterlibatan dalam penyelundupan barang elektronik melalui atlet.
“Tidak benar ada penyelundupan melalui atlet. Saya hanya membawa dua unit handphone pribadi dan sudah membayar bea cukai sebesar Rp500 ribu,” ujarnya.
Farhan juga mengakui adanya bantuan dana sebesar Rp12 juta dari Bupati Deli Serdang yang disebut digunakan untuk mendukung kebutuhan atlet selama kegiatan berlangsung.
Terkait pengembalian biaya kepada orang tua atlet, ia menyatakan telah melakukan pembayaran secara bertahap dan memiliki bukti transfer.
“Saya sudah mengembalikan sebagian biaya kepada orang tua atlet dengan sistem cicilan dan memiliki bukti transfer,” jelasnya.
Kini, persoalan tersebut masih bergulir. Di satu sisi ada orang tua yang menuntut kepastian dan keadilan. Di sisi lain, ada klarifikasi dari pihak penyelenggara yang menyatakan telah melakukan langkah penyelesaian.
Namun satu hal yang tidak boleh hilang dari perhatian semua pihak: para atlet muda itu bukan sekadar nama dalam daftar peserta. Mereka adalah anak-anak yang berangkat membawa mimpi. Mereka adalah masa depan olahraga daerah. Dan mimpi mereka tidak seharusnya pulang dalam keadaan terluka.
Redaksi Mediapakar tetap membuka ruang konfirmasi dan hak jawab bagi seluruh pihak terkait demi menjaga keberimbangan, akurasi, serta prinsip jurnalistik yang bertanggung jawab.
Hingga berita ini diturunkan, para orang tua atlet masih menunggu kepastian. Mereka berharap persoalan ini tidak berhenti pada janji, melainkan berakhir dengan penyelesaian yang terbuka, adil, dan benar-benar berpihak kepada anak-anak yang telah berjuang di kolam pertandingan, jauh dari pelukan keluarga mereka.
Ind













