Sukabumi Raya — Indonesia adalah negeri yang lahir dari pelukan laut. Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Rote, garis-garis pantai membentang panjang seperti untaian permata yang diwariskan Tuhan kepada bangsa ini.
Dengan panjang garis pantai mencapai sekitar 99.083 kilometer, bahkan sejumlah catatan geospasial menyebut hingga 108.000 kilometer, Indonesia berdiri sebagai negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada. Namun ironisnya, di tengah anugerah sebesar itu, masih banyak pantai Indonesia yang seolah menunggu uluran tangan.
Pantai-pantai yang dahulu menjadi ruang bermain anak-anak, tempat nelayan menggantungkan harapan, dan tempat keluarga menanam kenangan, kini sebagian terlihat kusam, kurang tertata, bahkan seperti dibiarkan menua dalam kesedihan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Melihat kenyataan tersebut, Profesor Dr. Sutan Nasomal, S.H., M.H., Pakar Hukum Internasional dan Ekonom Nasional, menyerukan agar Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, segera memberikan perhatian besar terhadap pembangunan, penataan, dan perawatan pantai-pantai di seluruh Nusantara.
Prof. Sutan Nasomal berharap Presiden dapat memerintahkan kementerian terkait, gubernur, wali kota, dan bupati agar bersatu membangun pantai sebagai ruang kehidupan, ruang wisata, ruang pendidikan, sekaligus ruang harapan bagi masyarakat.
“Indonesia memiliki pantai yang luar biasa indah. Jangan sampai pantai-pantai itu hanya menjadi saksi bisu dari ketidakpedulian. Jangan biarkan pantai kita hidup segan, mati pun enggan. Pantai harus dibangkitkan, dirawat, dipercantik, dan dijadikan kebanggaan rakyat Indonesia,” tegas Prof. Sutan Nasomal saat menjawab pertanyaan para pemimpin redaksi media cetak dan daring dari dalam maupun luar negeri, Kamis (9/7/2026), melalui sambungan telepon seluler dari kantor pusat Partai Oposisi Merdeka di kawasan Cijantung, Jakarta.
Menurutnya, pembangunan pantai tidak semata berbicara tentang beton, jalan, atau bangunan besar. Lebih dari itu, pantai harus disentuh dengan cinta, seni, dan imajinasi yang berpihak kepada keluarga serta anak-anak Indonesia.
Ia membayangkan kawasan pantai yang dihiasi rumah-rumah tembok berbentuk jamur dengan warna-warna cerah, ornamen hewan lucu, taman bermain anak, lampu-lampu indah yang menyala ketika senja tiba, serta toilet bersih yang mudah dijangkau oleh pengunjung.
Ketika matahari mulai tenggelam di cakrawala, pantai-pantai Indonesia seharusnya tidak hanya menghadirkan pemandangan indah, tetapi juga menghadirkan rasa aman, kebahagiaan, dan kebanggaan bagi setiap keluarga yang datang.
“Anak-anak Indonesia membutuhkan tempat bermain yang aman dan ramah. Mereka harus mengenal laut, mengenal pasir, mengenal angin pantai, dan belajar mencintai alam sejak kecil. Pantai bukan hanya tempat rekreasi, tetapi juga ruang pendidikan untuk membangun generasi yang mencintai tanah air,” ujarnya.
Prof. Sutan Nasomal menilai setiap pantai memiliki nilai ekonomi yang sangat besar. Jika dikelola dengan baik, pantai dapat menjadi sumber pendapatan daerah, membuka lapangan pekerjaan, menggerakkan usaha kecil masyarakat, serta memperkuat ekonomi warga pesisir.
Masyarakat lokal, terutama putra-putri daerah yang tinggal di sekitar pantai, menurutnya harus menjadi bagian utama dalam pembangunan tersebut. Mereka bukan sekadar penonton, tetapi harus menjadi pelaku, penjaga, dan penerima manfaat dari kemajuan pariwisata pantai di daerahnya.
Salah satu pantai yang mendapat perhatian adalah Pantai Pelabuhan Ratu di Kabupaten Sukabumi. Kawasan pantai yang memiliki keindahan alam dan sejarah panjang itu dinilai masih membutuhkan penataan serta pembangunan yang lebih serius agar mampu menjadi ikon wisata kelas nasional bahkan internasional.
Prof. Sutan Nasomal meyakini Bupati Sukabumi, Drs. H. Asep Japar, M.M., memiliki kemampuan untuk membawa perubahan besar bagi Pantai Pelabuhan Ratu. Ia berharap kawasan tersebut dapat ditata menjadi pantai yang bersih, cantik, nyaman, dan menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia.
“Pelabuhan Ratu harus menjadi percontohan. Jika pantainya ditata dengan serius, dibangun dengan rasa cinta, dan dikelola bersama masyarakat, maka wisatawan domestik maupun mancanegara akan datang. Dari sana ekonomi rakyat akan bergerak, UMKM akan hidup, dan nama Sukabumi akan semakin harum,” katanya.
Ia juga mendorong agar setiap hari besar nasional dapat diisi dengan kegiatan seni, budaya, lomba rakyat, edukasi lingkungan, serta berbagai kegiatan kreatif di kawasan pantai. Menurutnya, pantai dapat menjadi panggung kebudayaan, tempat masyarakat merawat tradisi, sekaligus ruang untuk memperkuat rasa cinta kepada Indonesia.
“Pantai jangan hanya dipandang sebagai hamparan pasir dan ombak. Pantai adalah wajah bangsa. Pantai adalah halaman depan Indonesia. Jika halaman depan negeri ini indah, bersih, dan terawat, maka dunia akan melihat bahwa Indonesia benar-benar bangsa besar,” ungkapnya.
Prof. Sutan Nasomal menegaskan bahwa kepala daerah memegang kunci penting dalam menjaga dan membangkitkan pantai-pantai di wilayahnya. Ia meminta agar tidak ada lagi pantai yang berubah menjadi kawasan kumuh, lahan kritis, atau tempat pembuangan yang menghilangkan keindahan alam.
“Jangan biarkan pantai-pantai Indonesia menangis dalam diam. Jangan biarkan ombak terus datang membawa keindahan, tetapi manusia justru membalasnya dengan pembiaran. Indonesia yang hebat harus dimulai dari keberanian merawat setiap jengkal anugerah Tuhan,” pungkasnya.
Narasumber:
Prof. Dr. Sutan Nasomal, S.H., M.H.
Pakar Hukum Internasional, Ekonom Nasional, Presiden Partai Oposisi Merdeka, Ketua Umum YPLBH Profesor Doktor Sutan Nasomal, Ketua Umum Perkumpulan Advokat Muda Indonesia/Association of Young Indonesian Advocate, serta Ketua Umum YPP dan Pengasuh Ponpes ASS SAQWA PLUS.
In













