Medan — Tidak semua orang yang datang ke kantor CU Karya Murni Menteng 7, Kamis (9/7/2026), datang dengan amarah. Sebagian datang dengan wajah letih. Sebagian datang dengan suara yang bergetar. Sebagian lagi datang sambil menggenggam buku simpanan, seolah menggenggam satu-satunya bukti bahwa mereka pernah menitipkan harapan di tempat itu.
Di depan kantor yang tampak setengah tertutup di Jalan Menteng 7, Kelurahan Menteng, Kecamatan Medan Denai, para anggota mengaku tidak lagi sekadar menunggu uang.
Mereka menunggu kepastian. Mereka menunggu jawaban. Mereka menunggu seseorang yang bersedia berdiri di hadapan mereka dan mengatakan kapan dana yang selama ini dipercayakan akan dikembalikan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bagi mereka, dana itu bukan angka di atas kertas. Ada uang sekolah anak yang menunggak. Ada obat orang tua yang harus dibeli. Ada kebutuhan dapur yang tidak bisa ditunda. Ada modal usaha kecil yang berhenti berputar.
Ada tabungan masa depan yang kini, menurut pengakuan mereka, justru berubah menjadi beban pikiran setiap hari.
Sejumlah anggota mengaku hanya menerima pencairan sekitar Rp30 ribu hingga Rp50 ribu. Itu pun disebut tidak rutin. Ada yang mengaku harus menunggu hingga dua minggu sekali untuk menerima nominal kecil yang bahkan tidak cukup untuk menjawab kebutuhan rumah tangga sehari-hari.
“Kadang Rp30 ribu, kadang Rp50 ribu. Tidak setiap hari. Kami mau ribut pun bingung. Kami takut kalau terlalu bersuara, uang kami malah semakin tidak kembali,” ujar seorang anggota dengan suara cemas, meminta identitasnya tidak dipublikasikan.
Di balik kalimat singkat itu, tersimpan ketakutan yang lebih besar. Para anggota mengaku berada dalam keadaan serba salah. Diam membuat mereka terus menunggu tanpa kepastian. Bersikap tegas pun membuat mereka khawatir dana yang mereka harapkan semakin sulit kembali.
Suasana semakin tegang ketika Ketua DPP Srikandi LSM PAKAR Indonesia, Elyta Megawati, hadir sebagai penerima kuasa dari Ida Sinurat. Ida disebut menuntut pengembalian dana kurang lebih Rp600 juta yang dipercayakan kepada CU Karya Murni.
Elyta Megawati bersama Ketua Umum DPP LSM PAKAR Indonesia datang untuk mempertanyakan langsung keberadaan pimpinan dan pengurus CU Karya Murni. Mereka meminta penjelasan terbuka terkait tuntutan pengembalian dana serta keluhan anggota yang terus mencuat.
Namun, menurut pihak pendamping dan sejumlah anggota, pimpinan maupun pengurus yang diharapkan dapat memberi penjelasan tidak dapat ditemui di kantor. Di saat anggota datang membawa kecemasan dan harapan terakhir, jawaban yang mereka cari disebut belum juga hadir.
Ketua Umum DPP LSM PAKAR Indonesia menilai persoalan ini tidak dapat dibiarkan menggantung. Ia menyebut banyak anggota diduga mengalami keluhan serupa dan masih menunggu pengembalian dana secara penuh.
“Ratusan orang di sini jadi korban. Mereka datang setiap hari, tetapi hanya diberi Rp30 ribu. Bahkan ada yang dua minggu sekali. Ini uang masyarakat, bukan uang yang boleh dipermainkan,” tegasnya di hadapan awak media.
Pernyataan itu menjadi suara bagi anggota yang selama ini mengaku memilih diam. Jika pengakuan para anggota mengenai dana yang belum dikembalikan secara utuh benar adanya, maka persoalan ini bukan hanya soal administrasi atau sengketa internal. Ini menyangkut dapur keluarga, pendidikan anak, kesehatan orang tua, dan masa depan masyarakat yang menggantungkan harapan pada uang mereka sendiri.
Dugaan investasi bermasalah yang mencuat diminta untuk ditelusuri secara serius dan transparan. Para anggota berharap tidak ada pihak yang berlindung di balik nama koperasi atau credit union, sementara mereka harus menanggung kecemasan akibat dana yang belum kembali.
DPP Srikandi LSM PAKAR Indonesia bersama DPP LSM PAKAR Indonesia menyatakan akan terus mengawal persoalan tersebut. Mereka mendesak pengurus CU Karya Murni untuk tidak menutup diri, membuka data pengelolaan dana secara transparan, serta memberikan kepastian mengenai mekanisme dan jadwal pengembalian dana kepada seluruh anggota.
Redaksi Pakarinvestigasi.com telah berupaya melakukan konfirmasi kepada pimpinan CU Karya Murni terkait keluhan anggota, tuntutan pengembalian dana, serta dugaan investasi bermasalah yang mencuat. Namun hingga berita ini diterbitkan, pimpinan CU Karya Murni belum memberikan jawaban maupun tanggapan atas pesan konfirmasi yang disampaikan redaksi.
Belum adanya jawaban itu membuat tanda tanya semakin besar. Para anggota kini tidak hanya menunggu uang mereka kembali. Mereka menunggu kejelasan, tanggung jawab, dan keberanian pihak pengurus untuk tidak membiarkan masyarakat kecil terus hidup dalam kecemasan.
Mereka meminta instansi terkait serta aparat penegak hukum menelusuri dugaan yang berkembang agar persoalan ini tidak menjadi luka panjang bagi keluarga-keluarga yang telah bekerja keras, menabung dengan penuh kepercayaan, tetapi kini harus bertahan di tengah ketidakpastian.
Hingga berita ini diterbitkan, pengurus maupun pimpinan CU Karya Murni belum memberikan keterangan resmi terkait tuntutan pengembalian dana, keluhan anggota, serta dugaan investasi bermasalah tersebut.
Redaksi Pakarinvestigasi.com tetap membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi pihak CU Karya Murni sesuai ketentuan jurnalistik.
Indra













