BELAWAN, SUMATERA UTARA — Di tengah lalu lintas kapal yang membelah Selat Malaka, sebuah ancaman besar terhadap masa depan bangsa berhasil diungkap. Sebanyak 1,18 ton narkotika jenis ketamine hydrochloride diamankan dalam operasi gabungan lintas instansi. Pengungkapan ini bukan sekadar keberhasilan membongkar penyelundupan narkotika, melainkan juga gambaran nyata betapa beratnya perjuangan negara menghadapi ancaman narkoba yang terus mengintai dari jalur laut.
Kehadiran Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia, Jenderal Pol. Dr. (H.C.) Suyudi Ario Seto, S.I.K., S.H., M.Si., di Pelabuhan Belawan, Medan, Jumat (23/10/2026), menjadi momentum penting untuk menegaskan bahwa perang melawan narkotika tidak boleh berhenti pada satu pengungkapan. Di balik setiap kilogram barang terlarang yang diamankan, terdapat tanggung jawab besar untuk melindungi masyarakat dari ancaman peredaran gelap narkotika.
Operasi ini melibatkan Badan Narkotika Nasional (BNN) RI, Bareskrim Polri, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, TNI Angkatan Laut, serta Polda Sumatera Utara. Sinergi tersebut memperlihatkan bahwa menghadapi jaringan penyelundupan lintas negara membutuhkan kerja bersama, ketajaman informasi, pengawasan perairan, dan penegakan hukum yang konsisten.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di hadapan ancaman yang dapat merusak kehidupan masyarakat, negara dituntut hadir bukan hanya melalui pernyataan, tetapi melalui tindakan nyata.
1,18 TON KETAMINE TERUNGKAP, JALUR LAUT MENJADI MEDAN PERJUANGAN
Pengungkapan kasus ini bermula dari operasi gabungan yang mengamankan kapal tanker MT. Global 168. Kapal tersebut tiba di Dermaga Kade 002, Pelabuhan Bandar Deli, Kelurahan Belawan I, Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan, pada Rabu (21/10/2026).
Kapal bernomor IMO 9078347 dan MMSI 457615000 itu tercatat berbendera Mongolia, berjenis oil products tanker/liquid bulk carrier, dengan panjang sekitar 56,99 meter dan bobot mati 776 ton. Kapal yang dibangun pada 1993 tersebut kini menjadi bagian penting dalam penanganan perkara dugaan penyelundupan narkotika yang tengah diproses aparat.
Dari hasil operasi, petugas mengamankan 59 karung ketamine hydrochloride dengan perkiraan berat sekitar 20 kilogram per karung. Total barang bukti diperkirakan mencapai 1.180 kilogram atau 1,18 ton.
Angka itu bukan sekadar deretan kilogram yang tercatat dalam dokumen penyitaan. Jumlah tersebut menjadi gambaran besarnya tantangan yang dihadapi aparat dalam mengawasi jalur laut dan mencegah narkotika memasuki jaringan peredaran gelap.
Delapan awak kapal turut diamankan untuk menjalani pemeriksaan dan proses hukum lebih lanjut. Mereka terdiri atas tujuh warga negara Indonesia dan seorang kapten kapal berkewarganegaraan Taiwan. Status hukum dan dugaan keterlibatan masing-masing pihak tetap harus ditentukan berdasarkan hasil penyidikan serta proses hukum yang berlaku.
Pengungkapan ini menjadi pengingat bahwa di balik aktivitas pelayaran internasional, pengawasan yang ketat dan pertukaran informasi antarlembaga merupakan benteng penting untuk mempersempit ruang gerak penyelundupan narkotika.
KAPOLRI HADIR, SINERGI NEGARA DIPERTEGAS
Dalam kunjungan kerja tersebut, Kapolri didampingi sejumlah pejabat tinggi dari unsur Polri, BNN, Bea dan Cukai, TNI, serta pemerintah daerah.
Turut hadir Kabareskrim Polri Komjen Pol. Asep Safrudin, S.I.K.; Astama Ops Polri Komjen Pol. Dr. Roycke Harry Langie, S.I.K., M.H.; Kadiv Propam Polri Irjen Pol. Mahmud Nazly Hrp, S.I.K.; Kepala Ditjen Bea dan Cukai Letjen TNI (Purn.) Djaka Budhi Utama; Sestama BNN RI Irjen Pol. Asep Saefudin, S.I.K.; Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol. Sonny Irawan, S.I.K., M.H.; Gubernur Sumatera Utara M. Bobby Nasution, S.E., M.M.; Pangdam I/Bukit Barisan Mayjen TNI Hendy Antariksawan; Ketua DPRD Sumatera Utara Erni Sitorus; serta Kepala BNNP Sumatera Utara Brigjen Pol. Tatar Nugroho.
Kehadiran lintas institusi tersebut menegaskan pentingnya kolaborasi dalam menghadapi kejahatan narkotika yang tidak mengenal batas wilayah maupun negara.
Tidak ada satu lembaga pun yang dapat bekerja sendiri menghadapi ancaman sebesar ini. Ketika informasi, pengawasan, dan tindakan penegakan hukum berjalan searah, peluang jaringan penyelundupan untuk bergerak semakin dapat dipersempit.
Dalam kegiatan tersebut, insan pers dan para undangan juga mengikuti deklarasi tolak narkoba di Sumatera Utara. Deklarasi ini menjadi ajakan agar perang melawan narkotika tidak hanya berlangsung di laut, pelabuhan, dan ruang penyidikan, tetapi juga di tengah keluarga, lingkungan pendidikan, serta kehidupan masyarakat.
NARKOBA BUKAN SEKADAR KEJAHATAN, MELAINKAN ANCAMAN BAGI MASA DEPAN
Ancaman narkotika tidak berhenti pada barang bukti yang disita atau tersangka yang diperiksa. Dampaknya dapat menjalar ke keluarga, merusak kehidupan sosial, mengganggu masa depan generasi muda, dan menambah beban masyarakat.
Karena itulah, setiap upaya mengungkap penyelundupan narkotika harus diikuti penyidikan yang menyeluruh. Aparat perlu menelusuri asal barang, jalur pengiriman, tujuan distribusi, serta kemungkinan adanya jaringan lain yang terlibat.
Pengungkapan 1,18 ton ketamine di Selat Malaka menjadi langkah penting. Namun, keberhasilan yang lebih besar adalah ketika mata rantai penyelundupan dapat dibongkar hingga ke pihak-pihak yang bertanggung jawab dan ruang peredaran gelap semakin dipersempit.
Penegakan hukum harus berjalan tegas, profesional, transparan, dan berlandaskan bukti. Pada saat yang sama, masyarakat membutuhkan edukasi, pencegahan, serta perlindungan agar ancaman narkotika tidak terus merenggut kesempatan generasi muda untuk tumbuh dan membangun masa depan.
BRIMOB SUMUT, BERDIRI DALAM BARISAN PERLINDUNGAN BANGSA
Sebagai bagian dari jajaran Polda Sumatera Utara, Satuan Brimob Polda Sumut senantiasa mendukung upaya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat serta memperkuat sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan.
Di tengah tantangan keamanan yang semakin kompleks, semangat pengabdian aparat harus terus diarahkan pada perlindungan masyarakat, penegakan hukum, dan pemeliharaan situasi kamtibmas yang aman serta kondusif.
Perang melawan narkotika bukan perjuangan sehari atau sekadar keberhasilan dalam satu operasi. Ini adalah perjuangan panjang yang menuntut konsistensi, keberanian, integritas, dan kerja sama seluruh elemen bangsa.
Sebab yang dipertaruhkan bukan hanya barang bukti seberat 1,18 ton. Yang dipertaruhkan adalah keselamatan masyarakat, ketenteraman keluarga, dan masa depan generasi penerus Indonesia.
Selat Malaka menjadi saksi sebuah pengungkapan besar. Kini, komitmen bersama harus terus dijaga agar setiap celah penyelundupan dapat ditutup, setiap jaringan yang terbukti terlibat diproses sesuai hukum, dan masyarakat tidak dibiarkan berjuang sendirian menghadapi ancaman narkotika.
Bersama kita lawan narkoba. Bersama kita lindungi generasi bangsa. Jangan biarkan narkotika merampas masa depan Indonesia!
BRIGADE BRIMOB UNTUK NUSA DAN BANGSA 🇮🇩
Indra/humas













