Jakarta – Alarm bahaya bagi perekonomian nasional kembali dibunyikan. Anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat dinilai telah menjadi ancaman serius yang meluluhlantakkan sendi-sendi kehidupan masyarakat. Kondisi ini memicu keprihatinan mendalam dari Profesor Dr. Sutan Nasomal, SH, MH, yang mendesak Presiden RI Prabowo Subianto segera mengambil langkah strategis untuk menyelamatkan rupiah dari tekanan mata uang asing.
Dalam keterangannya kepada sejumlah pimpinan redaksi media nasional dan internasional dari kantornya di kawasan Cijantung, Jakarta, Jumat (12/6/2026), Prof. Sutan Nasomal menilai melemahnya rupiah bukan sekadar fenomena ekonomi biasa, melainkan situasi yang diduga dipengaruhi permainan mafia pasar dan para spekulan keuangan global yang memanfaatkan dinamika politik dunia.
“Presiden bersama para ahli ekonomi dan penasihat strategis negara harus segera merumuskan langkah konkret untuk mengembalikan kekuatan rupiah. Indonesia tidak boleh terus-menerus menjadi korban tekanan dollar, yen, maupun mata uang asing lainnya yang mengendalikan pasar dunia,” tegasnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, Indonesia memiliki sumber daya manusia dan potensi besar untuk bangkit menjadi negara dengan mata uang yang kuat. Ia mendorong pemerintah mempercepat pengembangan industri berteknologi tinggi, mulai dari pesawat canggih, kendaraan modern, chip semikonduktor hingga perlengkapan pertahanan yang mampu bersaing di pasar internasional.
“Jika Indonesia mampu menghasilkan produk-produk bernilai tinggi yang dibutuhkan dunia, maka rupiah akan kembali sehat dan memiliki daya tawar yang kuat di tingkat global,” ujarnya.
Rakyat Semakin Terhimpit
Prof. Sutan Nasomal mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah telah memukul kehidupan masyarakat hingga ke lapisan terbawah. Harga kebutuhan pokok terus merangkak naik, biaya hidup semakin mahal, sementara lapangan pekerjaan semakin sulit diperoleh.
“Rakyat semakin susah. Ketika rupiah melemah, harga-harga melonjak. Daya beli masyarakat habis terkikis. Tabungan yang dikumpulkan bertahun-tahun lenyap hanya untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari,” katanya.
Ia menggambarkan kondisi ekonomi saat ini sebagai situasi yang membuat masyarakat hidup dalam ketidakpastian. Menurutnya, jutaan rakyat kini menghadapi tekanan berat akibat kenaikan harga BBM, mahalnya kebutuhan pokok, serta minimnya kesempatan kerja.
“Keadaan semakin tidak baik-baik saja. Banyak keluarga harus berjuang keras hanya untuk mempertahankan kehidupan yang layak. Jika ini terus dibiarkan, bukan hanya ekonomi yang terancam, tetapi juga stabilitas sosial masyarakat,” ungkapnya.
Kritik Keras terhadap Kebijakan Pemerintah
Dalam pernyataannya, Prof. Sutan juga melontarkan kritik tajam terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai belum menunjukkan keberpihakan penuh kepada rakyat.
Ia menyoroti imbauan hidup hemat yang kerap disampaikan kepada masyarakat, sementara di sisi lain masih terdapat pengeluaran negara yang dianggap tidak menyentuh kebutuhan mendesak rakyat.
“Masyarakat diminta berhemat, tetapi rakyat melihat masih banyak anggaran yang dihamburkan untuk hal-hal yang tidak prioritas. Kenaikan harga BBM seolah menjadi pesan bahwa beban negara justru dipindahkan ke pundak rakyat,” kritiknya.
Menurutnya, pemerintah tidak boleh hanya menyajikan narasi optimisme tanpa disertai bukti nyata di lapangan.
“Rakyat tidak membutuhkan cerita manis yang terdengar seperti madu. Yang dibutuhkan adalah bukti bahwa ekonomi benar-benar membaik. Faktanya, banyak masyarakat justru semakin terpuruk dan kesulitan bertahan hidup,” tegasnya.
Korupsi dan Krisis Kepercayaan
Lebih lanjut, Prof. Sutan menyoroti maraknya kasus korupsi bernilai fantastis yang terus terungkap di tengah kesulitan ekonomi rakyat.
Ia menilai kebocoran anggaran dan lemahnya pengawasan telah memperburuk kondisi negara. Bahkan, menurutnya, muncul persepsi di masyarakat bahwa penegakan hukum terhadap pelaku korupsi masih tebang pilih.
“Ketika rakyat diminta berkorban, di saat yang sama kasus korupsi triliunan rupiah terus bermunculan. Ini menjadi pukulan telak bagi kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah,” katanya.
Pendidikan dan Lapangan Kerja Terabaikan
Tak hanya sektor ekonomi, Prof. Sutan juga menyinggung nasib para guru honorer yang masih menghadapi berbagai kesulitan hidup di tengah tuntutan mencerdaskan generasi bangsa.
Menurutnya, Indonesia sedang menghadapi ancaman krisis tenaga pendidik karena kurangnya perhatian terhadap kesejahteraan para guru.
“Bagaimana mungkin bangsa ini ingin maju jika guru-gurunya masih hidup dalam kesulitan? Mereka adalah ujung tombak masa depan Indonesia, tetapi justru sering kali diabaikan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa krisis lapangan kerja dapat menjadi badai besar yang menggerus kepercayaan publik terhadap pemerintah apabila tidak segera diatasi.
Peringatan Keras untuk Masa Depan Bangsa
Di akhir pernyataannya, Prof. Sutan Nasomal mengingatkan bahwa masyarakat kini semakin kritis dalam menilai arah kebijakan negara. Janji-janji politik yang tidak diwujudkan, menurutnya, hanya akan memperbesar kekecewaan publik.
“Rakyat sudah cukup lama menunggu perubahan. Jika persoalan ekonomi, lapangan kerja, dan kesejahteraan tidak segera dibenahi, maka kepercayaan masyarakat akan semakin terkikis. Indonesia membutuhkan langkah nyata, bukan sekadar janji dan retorika,” pungkasnya.
Narasumber: Prof. Dr. Sutan Nasomal, SH, MH Pakar Hukum Internasional, Ekonom, Presiden Partai Oposisi Merdeka, Ketua Umum Perkumpulan Advokat Muda Indonesia, Ketua Umum YLBH Cendrawasih Celebes Indonesia, Pengasuh Ponpes ASS SAQWA PLUS.
Indra













