BELAWAN — Ia hanya ingin pulang. Setelah lelah bekerja seharian, M. Farrel Fanitra Ritongga (18) mengendarai motornya menyusuri jalan yang seharusnya membawanya kembali ke rumah. Namun di titik itu—di jalan KL Yos Sudarso, tepat di depan sekolah Muhammadiyah—semuanya berakhir.
Bukan kecelakaan. Bukan takdir biasa. Tapi kekerasan yang datang tiba-tiba.
Dua pria muncul, tanpa ampun. Satu tendangan keras menghantam tubuh Farrel. Ia terjatuh ke aspal. Dalam hitungan detik, nyawanya berada di ujung batas.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ragil, temannya yang berada tepat di belakang, hanya bisa menyaksikan detik-detik itu dengan mata kepala sendiri.
“Saya kejar… tapi hampir tertabrak mobil. Pas saya balik, Farrel sudah jatuh…,” ucapnya dengan suara bergetar—kalimat yang seolah tak sanggup menahan rasa bersalah dan kehilangan.
Di rumah sakit, harapan sempat digantung setipis benang. Namun takdir kembali memutusnya. Farrel dinyatakan meninggal dunia di RS Prima Husada Cipta Medan.
Tangis keluarga pecah. Jeritan duka memenuhi ruangan. Seorang anak yang pagi tadi masih berangkat kerja, kini pulang dalam diam—tak lagi bernyawa.
Di hadapan Kapolsek Belawan AKP Ponijo dan tokoh masyarakat Ustad Nabawi, identitas pelaku telah disebutkan. Nama-nama itu bukan lagi rahasia. Namun hingga kini, keadilan masih dalam pengejaran.
Polisi bergerak. Pulbaket dilakukan. Tapi bagi keluarga, waktu terasa berhenti sejak malam itu.
Satu nyawa telah hilang.
Satu rumah kehilangan harapan.
Dan satu pertanyaan terus menggema di lorong-lorong Belawan:
sampai kapan jalanan menjadi tempat terakhir bagi mereka yang hanya ingin pulang?
Tim













