SUMATERA BARAT — Mereka terbiasa makan di atas motor. Tergesa, di antara notifikasi pesanan dan waktu yang terus mengejar. Kadang nasi sudah dingin sebelum sempat disentuh. Kadang lelah harus ditelan lebih dulu sebelum rasa lapar.
Namun siang itu berbeda.
Tak ada klakson yang mendesak. Tak ada aplikasi yang berbunyi. Untuk sesaat, waktu seolah berhenti—memberi ruang bagi mereka untuk duduk, menarik napas, dan merasakan sesuatu yang jarang: dihargai.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Melalui kegiatan “Jumat Berkah”, Direktorat Lalu Lintas Polda Sumatera Barat hadir bukan dengan sirene, bukan dengan penindakan, tetapi dengan sepiring nasi dan niat yang sederhana—menyapa mereka yang selama ini lebih sering berjuang dalam diam.
Para pengemudi ojek online duduk bersisian dengan personel kepolisian. Tanpa jarak. Tanpa sekat. Hanya manusia dengan manusia.
Di balik senyum yang tampak, ada cerita yang tak pernah benar-benar selesai. Tentang cicilan yang harus dibayar, tentang keluarga yang menunggu di rumah, tentang harapan yang terus diperjuangkan meski jalanan tak selalu ramah.
Dirlantas Polda Sumbar, Muhammad Reza Chairul Akbar Sidiq, memahami bahwa kehadiran kadang lebih berarti daripada sekadar kata-kata.
“Kami ingin mereka tahu… bahwa mereka dilihat. Bahwa perjuangan mereka tidak dianggap biasa,” ujarnya pelan, namun penuh makna.
Dalam kebersamaan yang sederhana itu, tak hanya makanan yang dibagi. Ada cerita yang mengalir. Ada tawa kecil yang menyelip di antara lelah panjang. Dan mungkin, ada sedikit beban yang terasa lebih ringan—meski hanya untuk hari itu.
Namun pesan yang dibawa tetap kuat: keselamatan.
“Stop Pelanggaran, Stop Kecelakaan, Keselamatan untuk Kemanusiaan.”
Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya slogan. Tapi bagi mereka yang setiap hari hidup di jalan, itu adalah doa—agar setiap perjalanan pulang tidak berubah menjadi kabar duka.
Para pengemudi ojol yang hadir tak banyak bicara. Tapi dari cara mereka duduk lebih lama, dari cara mereka tersenyum lebih lepas, terlihat satu hal yang sederhana… namun langka:
Mereka merasa dianggap ada.
Dan mungkin, di dunia yang sering berjalan terlalu cepat ini, hal sekecil itu—duduk bersama, makan bersama, dan saling mendengar—adalah bentuk kepedulian paling tulus.
Karena pada akhirnya, bukan tentang seberapa besar yang diberikan…
Tapi tentang bagaimana seseorang yang lelah… akhirnya merasa tidak sendirian.
Indra













