BELAWAN, 30 April 2026 — Pernah ada masa ketika dermaga di pesisir Sumatera Utara terasa lebih sunyi dari biasanya. Deru alat berat tak lagi seramai dulu, dan lalu-lalang peti kemas seolah melambat, tertahan oleh gelombang krisis global yang tak terlihat namun terasa nyata.
Kini, perlahan namun pasti, harapan itu kembali.
Di awal tahun 2026, denyut logistik Sumatera Utara mulai berdetak lagi. Aktivitas di Pelabuhan Belawan dan Kuala Tanjung menunjukkan tanda-tanda kebangkitan—bukan lonjakan besar yang gegap gempita, melainkan langkah kecil yang penuh arti.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
PT Prima Multi Terminal (PMT) mencatat, hingga Maret 2026, arus peti kemas mencapai 168.478 TEUs. Angka itu memang “hanya” tumbuh sekitar 5 persen dibanding tahun lalu, namun di baliknya tersimpan cerita tentang roda ekonomi yang kembali berputar, tentang harapan yang pelan-pelan menemukan jalannya.
Di Terminal 1 Belawan, aktivitas domestik menjadi penopang utama. Sebanyak 152.452 TEUs mengalir, membawa kebutuhan pokok, bahan baku industri, hingga denyut kehidupan masyarakat yang tak pernah benar-benar berhenti. Di sana, setiap kontainer bukan sekadar angka—melainkan simbol bertahannya daya beli dan keberlangsungan usaha.
Sementara itu, dari Kuala Tanjung, kabar menggembirakan datang dari jalur internasional. Volume peti kemas melonjak lebih dari dua kali lipat, mencapai 5.579 TEUs. Ini bukan sekadar peningkatan statistik, tetapi tanda bahwa pintu-pintu ekspor mulai kembali terbuka, dan produk-produk dari tanah Sumatera kembali menemukan jalannya ke pasar dunia.
Direktur Utama PMT, Rudi Susanto, melihat ini sebagai secercah cahaya di tengah ketidakpastian. “Pergerakan barang mulai membaik. Industri perlahan bergerak lagi, meski pelaku usaha masih berhati-hati menghadapi situasi global,” ujarnya.
Namun di balik angka-angka itu, ada kerja keras yang tak terlihat. Ada operator yang berjaga di bawah terik dan hujan, ada koordinasi yang terus diperkuat, ada upaya tanpa henti untuk menjaga ritme agar tetap stabil.
PMT pun terus berbenah. Efisiensi layanan ditingkatkan, terlihat dari rasio effective time terhadap berthing time (ET/BT) yang mencapai 85,95 persen di Belawan. Di Kuala Tanjung, angka ini juga menunjukkan perbaikan—sebuah bukti bahwa di tengah tekanan, profesionalisme tetap dijaga.
Tak hanya soal kecepatan, keselamatan juga menjadi prioritas. Melalui penguatan program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), perusahaan berupaya memastikan bahwa setiap langkah pemulihan tidak harus dibayar dengan risiko nyawa.
Di tengah tantangan global yang belum sepenuhnya reda—dari fluktuasi permintaan hingga perubahan jalur perdagangan—pelabuhan kini menjadi lebih dari sekadar tempat bongkar muat. Ia menjadi simpul harapan, tempat di mana ekonomi kembali dirajut, perlahan namun pasti.
Dan dari dermaga-dermaga itu, Sumatera Utara seakan berbisik:
bahwa setelah badai panjang, selalu ada jalan untuk kembali bangkit.
Indra/humas













