Belawan — Saat dunia masih dibayangi ketidakpastian ekonomi global, perlambatan perdagangan internasional, hingga gejolak rantai pasok yang mengguncang banyak negara, secercah harapan justru tumbuh dari pesisir Sumatera Utara. Di tengah kerasnya tekanan ekonomi dunia, denyut aktivitas logistik di Pelabuhan Belawan dan Kuala Tanjung tetap bergerak, membawa harapan bagi ribuan pekerja, pelaku usaha, hingga masyarakat kecil yang menggantungkan hidup pada roda perdagangan.
PT Prima Multi Terminal (PMT) mencatat arus peti kemas sepanjang empat bulan pertama tahun 2026 mencapai 227.799 TEUs atau tumbuh sekitar 8 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Angka itu bukan sekadar data statistik, melainkan gambaran bahwa denyut ekonomi Sumatera belum padam. Di tengah badai global, pelabuhan masih menjadi nadi kehidupan yang terus bekerja tanpa lelah.
Terminal 1 Belawan masih menjadi tulang punggung distribusi domestik dengan volume mencapai 203.443 TEUs atau tumbuh 7 persen secara tahunan. Dari pelabuhan inilah berbagai kebutuhan masyarakat bergerak setiap hari — bahan pangan, kebutuhan industri, hingga barang konsumsi yang menopang kehidupan jutaan warga.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sementara itu, secercah optimisme besar lahir dari Terminal 2 Kuala Tanjung. Volume peti kemas internasional melonjak hingga 182 persen menjadi 11.630 TEUs. Peningkatan tajam ini menjadi pertanda bahwa produk-produk dari tanah Sumatera mulai kembali dilirik dunia. Komoditas dan hasil hilirisasi industri perlahan menemukan jalannya menuju pasar internasional.
Tak hanya peti kemas, aktivitas bongkar muat nonpeti kemas di Kuala Tanjung juga melonjak drastis. Hingga April 2026, tercatat 319.210 ton barang berhasil dibongkar muat atau meningkat 197 persen dibanding tahun sebelumnya. Di balik angka-angka itu, ada kerja keras para buruh pelabuhan yang siang malam berjibaku di bawah terik matahari dan hujan demi menjaga rantai pasok tetap hidup.
Direktur Operasi dan Teknik PT Prima Multi Terminal, Wahyudi, mengatakan pertumbuhan ini menjadi tanda mulai bangkitnya kepercayaan dunia usaha terhadap aktivitas perdagangan di Sumatera.
“Pergerakan arus peti kemas menunjukkan industri dan perdagangan mulai kembali tumbuh. Meski situasi global masih dinamis, kebutuhan distribusi domestik tetap kuat dan ekspor mulai meningkat,” ujarnya.
Namun perjalanan itu tidak mudah. Pelabuhan kini harus menghadapi tantangan baru, mulai dari perubahan jalur logistik dunia, ketegangan geopolitik internasional, hingga tingginya biaya distribusi yang terus menghantui pelaku usaha.
Di tengah tantangan tersebut, PMT terus berupaya menjaga efisiensi dan keandalan layanan. Rasio effective time terhadap berthing time (ET/BT) di Terminal Belawan mencapai 86,22 persen. Sementara di Kuala Tanjung, rasio ET/BT internasional berada di angka 75,94 persen dan domestik 66,85 persen. Perbaikan dilakukan melalui optimalisasi alat bongkar muat, penataan lapangan penumpukan, hingga penguatan koordinasi operasional.
Tak hanya mengejar produktivitas, keselamatan para pekerja juga menjadi perhatian utama. Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) terus diperkuat demi menjaga setiap insan pelabuhan dapat bekerja dengan aman dan pulang berkumpul bersama keluarga.
Bagi Sumatera Utara, pelabuhan bukan hanya tempat kapal bersandar dan barang dibongkar. Pelabuhan adalah urat nadi ekonomi, tempat ribuan harapan masyarakat bergantung. Ketika aktivitas pelabuhan bergerak, maka kehidupan masyarakat ikut berdenyut.
Dengan posisi strategis di jalur perdagangan internasional Selat Malaka, Pelabuhan Belawan dan Kuala Tanjung kini bukan hanya gerbang logistik, tetapi simbol ketahanan ekonomi Indonesia di tengah badai global yang belum reda. Di sana, di antara deru kapal dan tumpukan kontainer, harapan itu terus dijaga agar ekonomi bangsa tetap hidup dan masa depan tetap menyala.
Indra/humas













