Samosir,23/4/2026 — Di tengah citra tenang kawasan wisata Samosir, dugaan praktik perjudian togel dan gelanggang permainan (gelper) kembali menyeruak dan memantik keresahan. Aktivitas yang disebut berlangsung di sejumlah titik, termasuk wilayah Pangururan, diduga tetap berjalan tanpa sentuhan penindakan yang signifikan.
Di lapangan, warga menyebut situasi ini bukan lagi sekadar isu, melainkan fakta yang dirasakan sehari-hari. Aktivitas yang diduga terorganisir itu disebut tetap hidup, meski berada dalam ruang yang secara hukum jelas dilarang.
Informasi yang beredar menyebut adanya dugaan peran sejumlah pihak. Seorang pria berinisial BK disebut sebagai pengendali, sementara ML diduga mengatur jalannya operasional di lapangan. Namun hingga kini, tidak ada konfirmasi resmi yang dapat memastikan keterlibatan pihak-pihak tersebut, dan semuanya masih menunggu proses pembuktian hukum.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Yang paling terasa justru dampaknya di tengah masyarakat. Warga mengaku resah karena praktik tersebut perlahan menggerus ekonomi keluarga dan memicu konflik rumah tangga.
“Kalau sudah masuk situ, uang habis, rumah jadi tidak tenang,” ujar seorang warga yang TDK mau di sebutkan namanya dengan nada kecewa, Selasa (22/4/2026).
Kekhawatiran itu kini meluas. Warga menilai pembiaran, jika benar terjadi, bisa menjadi pintu masuk semakin kuatnya pengaruh perjudian di tengah masyarakat, terutama terhadap generasi muda yang paling rentan terdampak.
Desakan pun mulai menguat. Publik meminta Kapolda Sumatera Utara dan Pemerintah Kabupaten Samosir untuk tidak sekadar merespons secara administratif, tetapi turun dengan tindakan nyata—menutup ruang, membongkar jaringan, dan memastikan tidak ada pihak yang kebal hukum.
Secara aturan, perjudian dalam bentuk apa pun merupakan tindak pidana yang memiliki konsekuensi hukum jelas. Namun di tengah itu, masyarakat mulai mempertanyakan satu hal mendasar: sejauh mana hukum benar-benar bekerja di lapangan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian maupun pemerintah daerah terkait dugaan yang beredar. Sementara itu, keresahan publik terus menguat, menunggu jawaban yang tidak berhenti pada janji, tetapi pada tindakan nyata.
Tim












