“HAJI BUKAN SEKADAR PERJALANAN… TAPI PERUBAHAN HATI DAN AIR MATA TAUBAT”
Medan Marelan 27/05/2026~Suasana haru menyelimuti Masjid Ar Ridha Jalan Jala 09 LK 04 Kelurahan Paya Pasir Kecamatan Medan Marelan Kota Medan, Rabu pagi (27/6/2026).
Ribuan doa menggema di antara lantunan takbir Idul Adha 1447 H.

Udara pagi terasa syahdu. Sebagian jamaah tampak menundukkan kepala, sebagian lainnya menyeka air mata ketika Ustad H Oki Darmawan menyampaikan khutbah yang mengguncang relung hati terdalam manusia.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dengan suara lirih namun penuh getaran iman, beliau mengingatkan bahwa perjalanan menuju Allah bukan dimulai dari kaki yang melangkah ke Tanah Suci… melainkan dari hati yang bersujud penuh penyesalan.
“Haji bukan sekadar perjalanan menuju Ka’bah… tapi perjalanan jiwa menuju Allah…” ucap beliau perlahan.
Kalimat itu membuat suasana masjid mendadak hening.
Tak sedikit jamaah yang meneteskan air mata.
Dalam khutbahnya yang penuh renungan kehidupan, Ustad H Oki Darmawan menyampaikan bahwa banyak manusia bermimpi pergi ke Makkah, namun lupa memperbaiki hati sebelum dipanggil Allah.
“Berapa banyak orang yang belum pernah melihat Ka’bah… tetapi setiap malam menangis dalam sujudnya… lisannya basah dengan istighfar… hatinya dipenuhi rasa takut kepada Allah…” tuturnya penuh haru.
Beliau menegaskan, bisa jadi di sisi Allah mereka jauh lebih mulia dibanding orang yang telah berkali-kali ke tanah suci namun pulang tanpa perubahan akhlak.
Tangis jamaah pecah saat beliau berkata:
“Jangan tunggu kaya untuk bertaubat… jangan tunggu tua untuk berubah… karena kematian tidak pernah menunggu kesiapan manusia…”
Khutbah semakin mengguncang ketika beliau berbicara kepada para jamaah yang telah berhaji.
“Engkau sudah berdiri di Arafah… engkau sudah menangis di depan Ka’bah… tapi setelah pulang… apakah hatimu berubah?” katanya dengan suara bergetar.
Beliau mengingatkan bahwa haji bukan gelar kehormatan dunia.
Bukan sekadar panggilan “Pak Haji”.
Tetapi tentang sejauh mana hati menjadi lembut, lisan menjadi terjaga, dan hidup menjadi lebih dekat kepada Allah.
“Kalau setelah haji masih mudah marah… masih menyakiti sesama… masih sombong dengan jabatan dan harta… maka kita harus bertanya kepada diri sendiri… apakah kita benar-benar berhaji… atau hanya sekadar berkunjung?” ungkapnya tajam menusuk hati.
Suasana Masjid Ar Ridha semakin larut dalam keheningan.
Tangisan kecil terdengar di beberapa saf jamaah.
Ada yang menunduk memejamkan mata. Ada yang diam sambil mengusap wajah penuh haru.
Dalam bagian paling menggetarkan, beliau mengingatkan tentang panggilan terakhir manusia.
“Suatu hari nanti… kita bukan dipanggil ke Makkah… tapi dipanggil menghadap Allah…”
“Tidak ada tiket…
tidak ada pengawal…
tidak ada jabatan…
tidak ada kesempatan kedua…”
“Yang dibawa hanyalah amal… dan hati yang pernah kita miliki…”
Kalimat demi kalimat yang keluar dari mimbar itu terasa seperti mengetuk keras pintu hati manusia yang selama ini lalai oleh dunia.
Pada penutup khutbah, doa panjang yang dipanjatkan Ustad H Oki Darmawan membuat suasana semakin mengharukan. Beliau mendoakan ayah dan ibu, anak-anak, negeri, para sahabat yang telah wafat, hingga memohon agar seluruh jamaah diberikan husnul khatimah.
Saat doa “La ilaha illallah Muhammadur Rasulullah” menggema di akhir khutbah, banyak jamaah terlihat tak kuasa membendung air mata.
Idul Adha di Masjid Ar Ridha pagi itu bukan hanya tentang takbir dan ibadah kurban…
tetapi tentang hati-hati yang kembali diingatkan untuk pulang kepada Allah sebelum terlambat.
Laporan : Irwan S Pane/red













