Marelan,10-06-2026~ Di saat ratusan warga berbondong-bondong pulang membawa beras dan minyak goreng bantuan pemerintah, seorang lansia renta di Kelurahan Paya Pasir, Kecamatan Medan Marelan, hanya mampu berdiri memandang dengan tatapan kosong. Tak ada karung beras di tangannya. Tak ada minyak goreng yang bisa dibawa pulang. Yang tersisa hanyalah rasa kecewa dan segudang tanda tanya.
Adalah Zainuddin (74), warga Jalan Jala IX, Lingkungan IV, Kelurahan Paya Pasir. Di usia senjanya, ketika sebagian orang menikmati masa tua bersama keluarga dalam kondisi yang lebih layak, Wak Jay—sapaan akrabnya—justru masih harus berjuang menjalani hidup dalam keterbatasan ekonomi, menempati rumah kontrakan sederhana dengan biaya sewa sekitar Rp300 ribu setiap bulan.
Rabu pagi (10/6/2026), suasana Kantor Lurah Paya Pasir dipadati warga yang datang mengambil bantuan sosial berupa beras dan minyak goreng dari program Pemerintah Republik Indonesia. Satu per satu warga datang membawa surat undangan, lalu pulang dengan wajah sumringah karena membawa bantuan yang dapat meringankan kebutuhan dapur keluarga.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun tidak demikian dengan Wak Jay.
Pria lanjut usia itu hanya bisa menyaksikan para tetangganya berlalu-lalang membawa bantuan. Dadanya terasa sesak ketika mengetahui dirinya tidak menerima surat panggilan sebagaimana warga lainnya.
Lebih menyakitkan lagi, menurut pengakuannya, ada warga yang kondisi ekonominya dinilai lebih baik justru masuk dalam daftar penerima bantuan.
“Saya heran… saya ini hidup susah, tinggal di rumah kontrakan. Untuk makan sehari-hari saja harus hemat. Tapi kenapa saya tidak dapat bantuan? Sementara ada yang hidupnya lebih senang malah dapat. Apa saya sudah tidak dianggap lagi?” ucapnya dengan suara bergetar.
Kalimat itu terlontar bukan dengan amarah, melainkan dengan kepasrahan seorang lansia yang merasa luput dari perhatian. Sorot matanya menyimpan kekecewaan yang sulit disembunyikan.
Di tengah upaya pemerintah menggulirkan bantuan bagi masyarakat yang membutuhkan, kisah Wak Jay menjadi potret ironi yang mengundang pertanyaan. Bagaimana mungkin seorang lansia yang tinggal di rumah kontrakan sederhana justru tidak masuk daftar penerima bantuan pangan?
Pertanyaan tersebut semakin mengemuka ketika masyarakat mulai mempertanyakan akurasi data penerima bantuan sosial di lapangan. Sebab bantuan yang sejatinya ditujukan untuk rakyat kecil harus benar-benar menyentuh mereka yang hidup dalam kesulitan, bukan sekadar angka dalam lembaran administrasi.
Saat dikonfirmasi awak media melalui WhatsApp, Camat Medan Marelan belum memberikan jawaban terkait persoalan tersebut.
Sementara itu, Lurah Paya Pasir, Serly, menjelaskan bahwa berdasarkan hasil pengecekan data, Zainuddin masuk kategori Desil 5, sehingga tidak termasuk penerima bantuan beras dan minyak goreng. Ia hanya tercatat sebagai penerima manfaat BPJS.
“Sudah kami cek, yang bersangkutan masuk Desil 5. Untuk bantuan beras dan minyak goreng tidak ada, hanya BPJS,” jelasnya.
Namun penjelasan administratif itu belum mampu menghapus luka di hati Wak Jay.
Bagi pria yang setiap bulan harus memikirkan biaya kontrakan dan kebutuhan hidup sehari-hari itu, status “Desil 5” tidak serta-merta mengubah kenyataan bahwa dirinya masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar. Ia mengaku sulit memahami bagaimana dirinya dinilai tidak layak menerima bantuan, sementara sejumlah warga yang menurut pengamatannya lebih berkecukupan justru mendapatkan bantuan tersebut.
Kisah ini menjadi tamparan bagi semua pihak agar kembali menengok realitas di lapangan. Sebab di balik angka-angka dan kategori dalam sistem pendataan, ada manusia yang sedang berjuang bertahan hidup.
Di usia 74 tahun, Wak Jay tidak meminta kemewahan. Ia hanya berharap negara hadir melalui bantuan yang memang diperuntukkan bagi warga yang hidup dalam keterbatasan.
“Kalau saya yang tinggal di kontrakan, hidup pas-pasan, masih dianggap tidak layak menerima bantuan, lalu siapa sebenarnya yang disebut rakyat miskin?” ucapnya lirih.
Pertanyaan sederhana itu kini menggema di tengah masyarakat, menjadi simbol kegelisahan warga kecil yang berharap bantuan negara benar-benar sampai kepada mereka yang paling membutuhkan. Sebab bagi rakyat miskin, sekarung beras dan beberapa liter minyak goreng bukan sekadar bantuan—melainkan harapan untuk bisa tetap bertahan hidup di tengah kerasnya keadaan.
Indra













