Medan – Di bawah teriknya matahari yang membakar aspal Kota Medan, ratusan mahasiswa berdiri tegak di depan Gedung DPRD Sumatera Utara. Dengan suara lantang dan semangat yang tak surut, mereka membawa keresahan rakyat yang berharap didengar oleh para pemegang kebijakan.
Senin (15/06/2026) menjadi saksi bagaimana demokrasi hidup dan bergerak di jalanan. Sekitar 200 mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (BEM USU) menyampaikan aspirasi terkait kondisi ekonomi yang semakin dirasakan berat oleh masyarakat, mulai dari isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) hingga harapan agar nilai tukar rupiah tetap stabil demi menjaga daya beli rakyat kecil.
Di tengah riuhnya orasi dan gelombang tuntutan yang menggema, aparat keamanan dari Polda Sumatera Utara melalui Satuan Brimob Polda Sumut bersama Polrestabes Medan dan unsur pengamanan lainnya berdiri siaga. Bukan dengan wajah garang, melainkan dengan sikap humanis yang mencerminkan bahwa negara hadir untuk menjaga, bukan membungkam.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Barisan personel Brimob yang bertugas tampak kokoh mengawal jalannya aksi. Mereka berdiri berjam-jam di bawah panas matahari, mengorbankan waktu dan tenaga demi memastikan setiap suara yang disampaikan mahasiswa dapat tersalurkan dengan aman dan tertib. Di balik seragam dan perlengkapan yang dikenakan, tersimpan tanggung jawab besar untuk menjaga keseimbangan antara keamanan dan kebebasan demokrasi.
Satuan Brimob Polda Sumut menurunkan 1 SSK PHH, 1 Detasemen Satuan Penindak Perusuh, serta 1 Tim Escape yang dipimpin langsung oleh Danyon A Pelopor Satuan Brimob Polda Sumut, Kompol Mukhtar I. Kadoli, S.I.K., M.H. Seluruh personel menjalankan tugas dengan penuh kesabaran, kedisiplinan, dan pengendalian diri demi memastikan tidak ada gesekan yang mencederai semangat demokrasi.
Pemandangan yang tersaji di depan Gedung DPRD Sumut hari itu bukan sekadar aksi unjuk rasa. Ia menjadi gambaran tentang harapan, kepedulian, dan kecintaan generasi muda terhadap masa depan bangsa. Di sisi lain, kehadiran aparat keamanan menjadi simbol bahwa demokrasi dapat tumbuh dalam suasana aman ketika semua pihak saling menghormati.
Dansat Brimob Polda Sumut, Kombes Pol Rantau Isnur Eka, menegaskan bahwa setiap personel yang bertugas harus mengedepankan pendekatan humanis dalam mengawal setiap aksi penyampaian pendapat di muka umum.
“Polri hadir untuk memastikan masyarakat dapat menyampaikan aspirasi secara aman dan tertib. Pengamanan yang dilakukan bukan untuk membatasi ruang demokrasi, melainkan untuk menjaga agar demokrasi itu sendiri tetap berjalan dengan baik, damai, dan bermartabat,” ujarnya.
Ketika matahari mulai condong ke barat dan suara orasi perlahan mereda, aksi pun berakhir dalam suasana aman dan tertib. Tidak ada bentrokan. Tidak ada kekacauan. Yang tersisa hanyalah pesan bahwa demokrasi masih memiliki ruang untuk tumbuh, selama ada kesadaran untuk saling menghormati dan menjaga.
Hari itu, di depan Gedung DPRD Sumut, mahasiswa telah menyampaikan suara rakyat. Dan aparat keamanan telah menunjukkan bahwa mengawal demokrasi bukan hanya soal menjaga ketertiban, tetapi juga tentang menjaga harapan agar tetap hidup di tengah masyarakat.













