BELAWAN — Ada pertemuan yang sekadar mempertemukan manusia.
Namun ada pula pertemuan yang mampu membuka kembali lembaran sejarah, menghadirkan kenangan yang lama tersimpan, sekaligus mengingatkan bahwa sebuah perjuangan tidak pernah benar-benar selesai.
Minggu (9/8/2026), Sekretariat PAC Pemuda Pancasila Medan Belawan di Jalan Sumatera, Belawan, seolah berubah menjadi rumah bagi sebuah kerinduan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Para senioren kembali datang.
Mereka yang dahulu pernah berdiri di garis depan perjuangan organisasi, mereka yang pernah menanamkan semangat, mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, bahkan mungkin air mata demi membesarkan keluarga besar Pemuda Pancasila.
Hari itu, mereka tidak datang membawa kebanggaan masa lalu.
Mereka datang membawa kenangan.
Dan di antara jabat tangan yang erat, pelukan yang hangat, serta senyum yang menyimpan seribu cerita, terasa satu pesan yang begitu dalam:
Sejauh apa pun waktu berjalan, persaudaraan tidak mengenal kata selesai.
Acara “Silaturahmi Senioren Pemuda Pancasila Medan Belawan” digelar dengan tema “Mempererat Silaturahmi, Membangun Kebersamaan, dan Persaudaraan Keluarga Besar Pemuda Pancasila Medan Belawan.”
Bukan sekadar seremoni.
Momentum itu menjadi ruang untuk mempertemukan kembali generasi yang dahulu berjuang dengan generasi yang kini meneruskan amanah.
DI SINILAH SEJARAH KEMBALI BERBICARA
Ratusan senioren hadir bersama jajaran pengurus dan kader Pemuda Pancasila.
Wajah-wajah yang mungkin telah berubah dimakan usia, rambut yang dahulu hitam kini sebagian telah memutih, langkah yang dulu begitu tegap mungkin tak lagi sekuat dahulu.
Namun semangatnya masih sama.
Semangat persaudaraan.
Mereka yang pernah bersama-sama melewati pahit manis perjalanan organisasi, hari itu duduk dalam satu ruangan.
Saling menyapa.
Saling mengenang.
Dan sesekali tertawa kecil ketika cerita masa lalu kembali dibuka.
Karena bagi mereka, waktu boleh membawa usia pergi jauh.
Tetapi kenangan tidak pernah kehilangan jalan untuk pulang.
AIR MATA YANG TAK MAMPU DISSEMBUNYIKAN
Suasana berubah menjadi haru ketika Bung Kamel, mewakili Ketua Panitia Syaiful Bahri Siregar, menyampaikan sambutan.
Awalnya biasa.
Namun ketika berbicara tentang perjuangan, penghormatan kepada senioren, serta dukungan Ketua PAC Pemuda Pancasila Medan Belawan Hadi Suhendra, S.H., suaranya mulai bergetar.
Matanya berkaca-kaca.
Dan akhirnya, air mata jatuh.
Bukan karena kesedihan.
Melainkan karena terlalu banyak rasa yang sulit dirangkai menjadi kata.
“Terima kasih yang tak terhingga atas segala bantuan dan perhatian yang diberikan oleh Ketua PAC PP, Hadi Suhendra, S.H., sehingga acara ‘Lepas Rindu’ ini dapat terlaksana dengan begitu sukses.”
Kamel kemudian menyampaikan doa agar Hadi Suhendra beserta seluruh jajaran senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT.
“Kami mendoakan agar Ananda beserta seluruh jajaran selalu dalam lindungan Allah SWT, semakin jaya, dan kembali terpilih sebagai anggota dewan pada Pemilu 2029 mendatang.”
Suasana seketika hening.
Ada yang menundukkan kepala.
Ada yang tersenyum sambil menyeka air mata.
Sebab terkadang, doa yang keluar dari hati orang-orang yang pernah berjuang bersama jauh lebih mahal daripada tepuk tangan.
“KANTOR INI ADALAH RUMAH KITA SEMUA”
Ketua PAC Pemuda Pancasila Medan Belawan sekaligus Wakil Ketua DPRD Kota Medan, Hadi Suhendra, S.H., menyambut para senioren dengan penuh penghormatan.
Baginya, kedatangan para senior bukan sekadar memenuhi undangan.
Mereka adalah bagian dari sejarah.
“Kantor ini adalah rumah bagi kita semua. Jangan pernah sungkan untuk hadir dan memberikan nasihat kepada kami yang muda ini, sebab kelak kami pun akan berada di posisi yang sama.”
Kalimat itu terasa sederhana.
Namun maknanya begitu dalam.
Sebab seorang kader mungkin suatu hari akan menjadi pemimpin.
Tetapi sebelum menjadi pemimpin, ia pernah menjadi seorang junior yang belajar dari seniornya.
Dan ketika waktu terus berputar, generasi hari ini pun kelak akan berdiri sebagai senior, menatap generasi berikutnya dengan harapan yang sama.
“Semoga silaturahmi ini mempererat ikatan emosional dan menjadikan Pemuda Pancasila di Medan Belawan semakin solid. Kegiatan bernilai positif ini harus terus berkesinambungan,” ucap Hadi.
MEREKA YANG DULU MENANAM, KINI MELIHAT POHON PERJUANGAN BERTUMBUH
Ketua MPC Pemuda Pancasila Kota Medan, M. Rahmaddiansyah, S.H., M.H., juga memberikan penghormatan kepada para senioren.
Ia menegaskan bahwa apa yang dinikmati organisasi hari ini tidak lahir begitu saja.
Ada tangan-tangan yang dahulu menanam.
Ada langkah-langkah yang dahulu berjalan lebih dulu.
Ada pengorbanan yang mungkin tidak pernah tercatat dalam sejarah, tetapi tetap menjadi bagian penting dari perjalanan organisasi.
“Kami berdiri di sini hari ini adalah berkat perjuangan para senioren yang telah membesarkan Pemuda Pancasila. Medan Belawan sejak dulu dikenal sebagai salah satu basis utama Pemuda Pancasila di Sumatera Utara.”
Pesan itu menjadi pengingat bagi generasi muda bahwa sejarah bukan untuk dibanggakan semata, tetapi untuk diteruskan dengan tanggung jawab.
Rahmaddiansyah berharap seluruh kader terus hadir memberikan manfaat nyata kepada masyarakat, khususnya warga Medan Utara dan Belawan.
MENJAGA BELAWAN, MENJAGA PERSAUDARAAN
Di tengah pertemuan yang penuh haru tersebut, satu pesan kembali ditegaskan:
“Mari Menjaga Kondusifitas Kota Belawan yang Kita Cintai.”
Pemuda Pancasila Medan Belawan menyatakan komitmennya untuk terus bersama-sama menjaga suasana yang aman, damai, dan harmonis.
Kolaborasi dengan TNI, Polri, pemerintah, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga Belawan tetap kondusif.
Karena Belawan bukan hanya tempat mereka berdiri.
Belawan adalah rumah yang harus dijaga bersama.
KETIKA PERPISAHAN BUKANLAH AKHIR
Acara akhirnya sampai di penghujung.
Satu per satu tangan berjabat.
Pelukan kembali diberikan.
Senyum kembali mengembang.
Namun jauh di dalam hati, mungkin ada satu kesadaran yang sama:
Waktu tidak pernah bisa diajak berhenti.
Hari ini mereka berkumpul.
Esok, mungkin usia kembali memisahkan.
Karena itu, silaturahmi menjadi begitu berharga.
Selagi masih ada kesempatan untuk bertemu, mari bertemu.
Selagi masih ada waktu untuk bersalaman, mari eratkan tangan.
Selagi masih bisa mengatakan rindu, jangan biarkan rindu menjadi penyesalan.
Dan selagi para senior masih hadir memberikan nasihat, dengarkanlah.
Sebab suatu hari nanti, ketika mereka tidak lagi duduk di ruangan ini, yang tersisa mungkin hanyalah foto, cerita, dan kenangan.
“SEKALI LAYAR TERKEMBANG, SURUT KITA BERPANTANG!”
Pekik semboyan itu akhirnya menggema.
“SEKALI LAYAR TERKEMBANG, SURUT KITA BERPANTANG!”
Suara itu membelah suasana.
Ada semangat di dalamnya.
Ada sejarah.
Ada air mata.
Dan ada janji untuk terus menjaga persaudaraan.
Para senior telah menanamkan jejak.
Generasi muda kini menerima tongkat estafet perjuangan.
Maka biarlah silaturahmi hari itu menjadi pengingat bahwa sebesar apa pun sebuah organisasi, kekuatan terbesarnya bukan hanya pada struktur, jabatan, atau jumlah kader.
Melainkan pada persaudaraan yang tetap hidup meski waktu terus berjalan.
Dari Belawan, dari sebuah pertemuan yang sederhana namun sarat makna, kembali lahir pesan:
Jangan pernah melupakan mereka yang pernah berjalan bersama.
Karena sebelum generasi hari ini berdiri tegak, ada para senior yang lebih dahulu melangkah.
Dan sebelum mereka menjadi sejarah, mereka adalah saudara yang pernah berjuang bersama.
Kini, tugas generasi penerus adalah menjaga agar api perjuangan itu tidak pernah padam.
Indra













