MEDAN — Ada pertemuan yang tidak sekadar mempertemukan manusia. Ada pertemuan yang mempertemukan kenangan, pengorbanan dan sejarah.
Di tengah tawa yang terdengar dari Aula Kolam Renang Primbana, Jalan Melati Raya No. 55, Sempakata, Kecamatan Medan Selayang, Kota Medan, Jumat (28/8/2026), terselip kisah panjang tentang mereka yang pernah mengabdikan hidupnya untuk Korps Brimob.
Hari itu, sekitar 250 anggota PKBB bersama keluarga berkumpul dalam syukuran HUT Paguyuban Keluarga Besar Brimob (PKBB) dan Hari Juang Polri.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tema “Setia dalam Kebersamaan” seakan bukan hanya rangkaian kata.
Ia menjadi cermin perjalanan sebuah keluarga besar yang telah melewati begitu banyak cerita—tentang perjuangan, pengabdian, perpisahan, kehilangan, dan kesetiaan yang tetap hidup meski waktu terus berjalan.
Kehadiran Komandan Satuan Brimob Polda Sumut Kombes Pol. M. Rendra Salipu, S.I.K., M.Si., bersama para Pejabat Utama Satuan Brimob Polda Sumut dan Kapolres Langkat AKBP Hannry P.H. Tambunan, S.E., S.I.K., semakin menguatkan suasana kekeluargaan.
Mereka disambut Ketua PKBB Sumut Kombes Pol. (Purn) Alisman Nainggolan, para Sesepuh Brimob, warakawuri dan keluarga besar PKBB Sumut.
Di Balik Seragam, Ada Air Mata yang Pernah Jatuh
Rangkaian acara diawali dengan doa bersama.
Dalam keheningan doa, seolah terbayang kembali wajah-wajah para Bhayangkara yang dahulu berangkat menjalankan tugas dengan satu tekad: mengabdi kepada bangsa dan negara.
Mereka mungkin telah meninggalkan masa tugas.
Sebagian telah kembali kepada Sang Pencipta.
Namun nama, perjuangan dan pengorbanan mereka tidak pernah benar-benar pergi.
Ia tinggal dalam ingatan.
Ia hidup dalam cerita.
Dan ia diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Pemotongan tumpeng untuk para Sesepuh Brimob menjadi salah satu momen yang begitu menggetarkan.
Tangan-tangan yang dahulu mungkin menggenggam senjata dan berdiri tegak menghadapi berbagai tantangan, kini menerima tumpeng dalam suasana penuh penghormatan.
Waktu memang mengubah usia.
Namun tidak pernah mampu menghapus jasa.
Untuk Para Warakawuri, Terima Kasih Telah Menjaga Pengabdian
Momen haru juga terasa ketika bingkisan diberikan kepada para warakawuri senior.
Di balik setiap warakawuri, ada kisah tentang seorang perempuan yang pernah menunggu.
Menunggu suami pulang dari tugas.
Menunggu kabar di tengah malam.
Menahan rindu ketika tugas memanggil.
Dan, bagi sebagian lainnya, harus belajar menerima kenyataan bahwa sosok yang dicintai tidak akan pernah kembali ke rumah.
Karena itu, ketika bingkisan diberikan, yang disampaikan sesungguhnya bukan sekadar sebuah pemberian.
Tetapi sebuah pesan:
“Kami tidak melupakan perjuanganmu.”
Sebab pengabdian seorang Bhayangkara tidak pernah berdiri sendiri.
Di belakangnya ada keluarga yang ikut berkorban.
Ada istri yang menguatkan.
Ada anak-anak yang belajar memahami mengapa ayah mereka lebih sering berada di medan tugas daripada di rumah.
Dan ada air mata yang sering jatuh diam-diam, tanpa pernah tercatat dalam lembar sejarah.
Hari Itu, Senior dan Junior Duduk dalam Satu Meja
Usai acara, suasana berubah menjadi lebih hangat.
Mereka makan bersama.
Bernyanyi bersama.
Tertawa bersama.
Cerita masa lalu kembali dikenang.
Tak ada lagi sekat antara senior dan junior.
Tak ada lagi jarak antara masa lalu dan masa kini.
Semuanya menjadi satu keluarga.
Dalam tawa itu mungkin tersimpan rindu.
Dalam candaan mungkin terselip kenangan.
Dan di balik senyum para sesepuh, mungkin ada cerita panjang tentang masa muda yang telah berlalu.
Namun justru di situlah keindahannya.
Waktu boleh mengambil masa muda, tetapi tidak akan pernah mampu mengambil persaudaraan.
Satu Foto, Ribuan Kenangan
Ketika seluruh keluarga besar PKBB Sumut berdiri untuk foto bersama, sejenak semua seolah terdiam dalam satu bingkai.
Para sesepuh.
Para senior.
Warakawuri.
Generasi penerus.
Keluarga besar Brimob.
Semuanya berdiri bersama.
Satu foto.
Namun di balik satu foto itu tersimpan ribuan kenangan.
Ada mereka yang pernah berjuang.
Ada mereka yang pernah menunggu.
Ada mereka yang pernah kehilangan.
Dan ada generasi yang kini meneruskan cerita.
Foto itu kelak mungkin hanya menjadi gambar yang tersimpan dalam album.
Tetapi bagi keluarga besar Brimob, ia adalah jejak sebuah persaudaraan yang tidak boleh hilang ditelan zaman.
Sebab pengabdian boleh berakhir ketika masa tugas selesai.
Seragam boleh dilepas.
Jabatan boleh berganti.
Tetapi persaudaraan yang lahir dari sebuah pengabdian akan tetap tinggal di hati.
Hari itu mereka kembali mengingat satu hal:
Brimob bukan hanya tentang keberanian menghadapi ancaman.
Brimob juga tentang keluarga.
Tentang mereka yang saling menguatkan.
Tentang mereka yang tidak melupakan jasa para pendahulu.
Tentang warakawuri yang tetap dihormati.
Dan tentang sebuah janji yang sederhana namun dalam:
Selama masih ada kebersamaan, tidak ada perjuangan yang benar-benar hilang.
Karena mereka boleh menua bersama waktu.
Tetapi nama, jasa dan pengabdian para pendahulu akan tetap hidup dalam hati keluarga besar Brimob.
Indra/humas













