MEDAN, 28/4/2026 — Sungai Deli kembali “menjerit” dalam diam. Di tengah deru industri di Jalan KL Yos Sudarso, aliran yang seharusnya menjadi sumber kehidupan itu kini diduga berubah menjadi saluran pembuangan limbah.
Sorotan mengarah ke PT Ayu Bumi Sejati (ABS), perusahaan pengolah hasil laut di Lingkungan 31, Kelurahan Pekan Labuhan. Dari balik tembok pabrik, cairan pekat diduga mengalir tanpa henti melalui pipa yang menembus benteng sungai—langsung menuju tubuh Sungai Deli.
Air berubah. Bau menyengat. Busa mengapung.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Setiap hari. Tanpa jeda.
“Pipa itu sudah lama terpasang, tapi seperti tak pernah dilihat. Seolah tak ada yang peduli,” ujar seorang warga, menahan kecewa.
Namun yang mengalir bukan hanya limbah—melainkan juga ancaman. Tanah di sekitar benteng sungai mulai tergerus. Retakan demi retakan muncul. Warga kini hidup dalam bayang-bayang ketakutan: jika hujan deras turun dan debit air meninggi, benteng itu bisa jebol kapan saja.
“Kalau tanggul ini runtuh, air bisa menyeret rumah kami,” kata warga lainnya.
Yang lebih mengkhawatirkan, hingga kini belum ada kepastian soal jenis limbah yang dibuang—berbahaya atau tidak. Namun bagi warga, bau menyengat dan perubahan drastis pada air sungai sudah cukup menjadi alarm bahaya.
Padahal, Pasal 28H ayat (1) UUD 1945 menegaskan bahwa setiap orang berhak mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat. Sementara Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 menyatakan bahwa bumi dan air dikuasai negara untuk kemakmuran rakyat—bukan untuk dicemari.
Lebih jauh, dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, setiap kegiatan usaha dilarang membuang limbah ke media lingkungan tanpa izin dan tanpa memenuhi baku mutu yang ditetapkan. Pelanggaran terhadap ketentuan ini dapat berujung pada sanksi administratif, pidana, hingga perdata.
Artinya, jika dugaan ini terbukti, persoalan ini bukan lagi sekadar keluhan warga—melainkan potensi pelanggaran serius terhadap hak lingkungan hidup dan hukum yang berlaku.
Warga pun mendesak pemerintah dan aparat penegak hukum untuk tidak lagi menutup mata. Mereka menuntut pemeriksaan menyeluruh: menelusuri aliran pipa, menguji kandungan limbah, serta mengambil tindakan tegas tanpa kompromi.
Upaya konfirmasi kepada pihak perusahaan tak membuahkan hasil. Humas PT ABS belum berhasil ditemui. Nomor kontak telah ditinggalkan, namun hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan.
Sementara itu, Sungai Deli terus mengalir—membawa bau, membawa busa, dan mungkin… membawa ancaman yang suatu saat bisa berubah menjadi bencana.
Tim













