Tano Tombangan — Aktivitas tambang ilegal di kawasan perbatasan Tapanuli Selatan dan Kabupaten Mandailing Natal, tepatnya di Aek Jarum Muara Batanggadis, Hulu Barat Daya Desa Panabari, Kecamatan
Tanotombangan Angkola, kembali menjadi sorotan publik.
Belasan alat berat dilaporkan kembali memasuki kawasan yang diduga kuat sebagai lokasi tambang ilegal tersebut, meski sebelumnya sempat dilakukan penindakan oleh aparat kepolisian.
“Sudah enam belas, Lae… alat berat masuk lagi,” ungkap salah seorang warga Desa Panabari berinisial H, Minggu (17/5/2026), dengan nada kecewa.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Warga lainnya berinisial R juga membenarkan aktivitas tersebut sudah berlangsung kembali dalam sepekan terakhir.
“Sudah satu minggu ini bang,” ujarnya.
Menurut warga, aktivitas alat berat itu tidak hanya merusak kawasan hutan, tetapi juga berdampak langsung pada lingkungan sekitar. Air Pancuran yang selama ini menjadi sumber pemandian umum warga kini berubah keruh dan berlumpur. Kondisi tersebut diperparah saat hujan, ketika aliran air diduga tersumbat material kayu dan tanah dari aktivitas pembukaan lahan.
Dugaan dan Kecurigaan Warga Muncul Di tengah aktivitas yang kembali berjalan, warga mulai mempertanyakan efektivitas penegakan hukum di lapangan. Sejumlah masyarakat bahkan menilai penindakan sebelumnya yang dilakukan aparat hanya bersifat sementara.
“Penggerebekan kemarin itu seperti tidak ada hasil. Tidak ada yang ditahan, sekarang malah alat berat masuk lagi,” keluh warga.
Bahkan, beredar informasi di tengah masyarakat bahwa aktivitas di lokasi tersebut seolah mendapat “pengamanan” dari pihak-pihak tertentu. Namun demikian, informasi tersebut masih berupa dugaan dan belum dapat diverifikasi secara resmi.
“Polda ini…,” ujar warga berinisial R menirukan pernyataan seorang yang diduga koordinator lapangan di lokasi.
Upaya Konfirmasi Belum Berhasil
Untuk memperoleh kejelasan, tim wartawan mencoba melakukan konfirmasi ke sejumlah pihak di lingkungan Polda Sumatera Utara, termasuk Ditreskrimsus dan Bidang Humas.
Namun, saat mendatangi ruang pelayanan, pihak piket menyampaikan bahwa pejabat terkait sedang berada dalam rapat. Setelah menunggu, tim kemudian diarahkan ke Bidang Humas, namun kembali mendapat penjelasan bahwa pejabat yang bersangkutan juga sedang mengikuti agenda rapat.
Tim hanya bertemu dengan salah satu staf humas bernama Fajar, yang menyampaikan bahwa informasi tersebut akan diteruskan kepada pimpinan.
“Akan kami sampaikan ke atasan,” ujar Fajar kepada tim wartawan.
Karena belum mendapatkan keterangan resmi dari pihak berwenang, tim media akhirnya meninggalkan lokasi dengan catatan akan terus melakukan penelusuran dan konfirmasi lanjutan pada pemberitaan berikutnya.
Catatan Redaksi
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian terkait kembali masuknya alat berat di lokasi yang diduga tambang ilegal tersebut, termasuk soal dugaan keterlibatan pihak-pihak tertentu yang beredar di masyarakat.
Tim













