Jakarta — Di sebuah ruang rumah sakit di Kota Medan, tangis seorang ibu pecah menahan rasa sakit. Waktu terus berjalan, namun operasi caesar yang harus segera dilakukan belum juga terlaksana. Bukan karena dokter tak mampu, bukan pula karena rumah sakit tak siap, melainkan karena satu kenyataan pahit yang terus menghantui rakyat kecil: tidak punya biaya dan tidak memiliki BPJS kesehatan.
Supiati, warga Jalan Gambir, Kelurahan Percut Sei Rotan, Kabupaten Deli Serdang, hanya bisa pasrah. Keluarganya diliputi ketakutan. Di tengah himpitan ekonomi yang semakin keras, mereka nyaris kehilangan harapan. Tangisan keluarga pecah di lorong rumah sakit, memohon agar ada jalan untuk menyelamatkan ibu dan bayi yang masih berada dalam kandungan.
Namun di saat keadaan begitu gelap, pertolongan itu akhirnya datang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Anggota DPRD Medan Rajudin Sagala bergerak cepat setelah mengetahui kabar pilu tersebut. Tanpa banyak bicara dan tanpa menunggu sorotan kamera, ia langsung turun melakukan advokasi agar Supiati segera mendapat tindakan medis.
Dan ketika pintu ruang operasi akhirnya terbuka, tangis haru keluarga pun pecah. Supiati berhasil menjalani operasi caesar dengan selamat.
Kisah kemanusiaan itu membuat Pakar Hukum Internasional sekaligus Penanggung Jawab TIMPAS1, Prof. Dr. KH Sutan Nasomal SH MH, ikut tersentuh dan angkat bicara dengan suara bergetar menahan haru.
“Masih ada wakil rakyat yang mau mendengar tangisan rakyat kecil… masih ada hati nurani yang hidup di tengah kerasnya dunia politik hari ini,” ujar Prof. Sutan Nasomal lirih saat memberikan keterangan kepada sejumlah pimpinan redaksi media cetak dan online di Markas DPP Partai Koalisi Rakyat Indonesia, Cijantung, Jakarta, Selasa (26/05/2026).
Menurutnya, apa yang dilakukan Rajudin Sagala bukan sekadar membantu biaya rumah sakit, tetapi menyelamatkan harapan sebuah keluarga yang hampir hancur karena kemiskinan.
“Bayangkan… seorang ibu sedang bertaruh nyawa demi melahirkan anaknya, tetapi tertahan karena tidak punya uang. Ini sangat menyedihkan. Dan di saat keluarga hanya bisa menangis, hadir seorang wakil rakyat yang mengulurkan tangan. Ini bukan pencitraan… ini kemanusiaan,” ucapnya penuh emosi.
Prof. Sutan Nasomal juga mengingatkan bahwa kursi kekuasaan sejatinya adalah amanah untuk menolong rakyat kecil, bukan sekadar simbol kehormatan.
“Jangan hanya datang saat minta suara rakyat. Jangan biarkan rakyat kecil menangis sendirian ketika sakit dan tak punya biaya. Jabatan itu akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan,” tegasnya.
Ia berharap langkah Rajudin Sagala menjadi cahaya dan teladan bagi seluruh anggota DPR RI, DPRD provinsi, maupun DPRD kabupaten/kota di seluruh Indonesia agar lebih peka terhadap penderitaan masyarakat bawah.
Di balik keberhasilan operasi caesar itu, tersimpan sebuah kisah yang menyayat hati tentang perjuangan rakyat kecil melawan kemiskinan. Namun di hari itu, setidaknya satu keluarga kembali percaya bahwa masih ada pemimpin yang mau hadir bukan hanya membawa janji, tetapi membawa kepedulian dan harapan hidup.
Red













