Jakarta ~ Dunia sedang berada di persimpangan yang mengkhawatirkan. Dentuman perang, ketegangan geopolitik, krisis ekonomi, hingga perebutan sumber daya alam dunia kini bukan lagi sekadar tontonan politik internasional, melainkan ancaman nyata yang dapat menentukan nasib hidup dan mati jutaan manusia.
Di tengah suhu politik global yang terus memanas, Prof. Dr. Sutan Nasomal, SH, MH, Pakar Hukum Internasional dan Ekonom, melontarkan peringatan keras kepada para pemimpin dunia, termasuk Presiden Republik Indonesia. Menurutnya, rakyat dunia saat ini sedang menjadi korban dari pertaruhan besar para elit global yang haus kekuasaan dan kendali ekonomi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Yang sedang terjadi bukan sekadar perang antarnegara. Ini adalah perjudian raksasa para elit global yang mempertaruhkan harga minyak, sumber daya alam, stabilitas ekonomi, bahkan masa depan umat manusia,” tegas Prof. Sutan kepada media.
Menurutnya, lahir dan menguatnya blok ekonomi BRICS telah mengubah peta kekuatan dunia. Kehadiran kekuatan baru yang dimotori oleh China, Rusia, India, dan negara-negara berkembang lainnya disebut telah mengguncang dominasi ekonomi Barat yang selama puluhan tahun mengendalikan pasar global.
Prof. Sutan menilai, kemajuan pesat China dalam bidang teknologi, industri, perdagangan, dan investasi telah menciptakan ketakutan baru bagi negara-negara besar yang selama ini menikmati posisi dominan dalam percaturan ekonomi dunia.
“China bukan lagi sekadar pesaing. Hari ini China telah menjadi kekuatan ekonomi yang mampu menembus seluruh lapisan pasar dunia. Dari teknologi sederhana hingga industri bernilai triliunan dolar, mereka hadir dan memenangkan persaingan. Kondisi inilah yang membuat suhu politik global semakin panas,” ujarnya.
Lebih jauh, Prof. Sutan menilai konflik yang terus berkobar di berbagai kawasan sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari perebutan sumber energi dunia. Kawasan Timur Tengah, Persia, Afrika, hingga sebagian Asia disebutnya sedang menjadi arena pertarungan kepentingan ekonomi global yang sangat brutal.
Menurutnya, minyak bumi, gas alam, dan sumber daya strategis lainnya kini menjadi “harta karun” yang diperebutkan berbagai kekuatan besar dunia. Akibatnya, perang dan konflik terus bermunculan dengan dalih yang beragam.
“Di balik narasi demokrasi, keamanan, atau perdamaian, yang dipertaruhkan sesungguhnya adalah penguasaan sumber daya alam dunia. Yang menjadi korban adalah rakyat kecil, sementara para elit global menghitung keuntungan dari setiap krisis yang terjadi,” katanya.
Prof. Sutan bahkan mengingatkan bahwa eskalasi konflik internasional saat ini dapat menyeret dunia ke dalam ketidakpastian yang lebih besar apabila tidak segera dikendalikan.
Ia menilai Indonesia harus mengambil sikap yang cermat, bijaksana, dan mengutamakan kepentingan nasional di tengah pertarungan raksasa antarblok kekuatan dunia tersebut.
“Jangan sampai Indonesia terseret menjadi pion dalam permainan para raksasa dunia. Ketika para gajah bertarung dan berjudi memperebutkan kekuasaan, rumput di bawahnya yang akan hancur. Dan rumput itu adalah rakyat,” tegasnya.
Dalam pernyataannya, Prof. Sutan juga mengingatkan Presiden Republik Indonesia agar lebih fokus memperkuat ketahanan ekonomi nasional, menjaga kedaulatan sumber daya alam, serta memastikan kesejahteraan rakyat di tengah ancaman gejolak global yang semakin tidak menentu.
“Gunakan kekayaan alam Indonesia untuk memperkuat bangsa sendiri. Jangan ikut larut dalam permainan para elit global yang sedang mempertaruhkan masa depan dunia. Sejarah telah membuktikan, ketika keserakahan mengalahkan akal sehat, yang lahir adalah penderitaan umat manusia,” ujarnya.
Di akhir pernyataannya, Prof. Sutan menyampaikan pesan yang sarat peringatan. Menurutnya, ancaman terbesar bagi sebuah negara bukan hanya datang dari luar, melainkan ketika rakyat mulai kehilangan kepercayaan terhadap pemimpinnya.
“Perang bisa menghancurkan gedung, tetapi hilangnya kepercayaan rakyat dapat menghancurkan sebuah bangsa. Karena itu, pemimpin harus berdiri bersama rakyat, bukan menjadi bagian dari permainan para elit yang sedang mempertaruhkan nasib dunia,” pungkasnya.
Indra













