Tapanuli Utara – Di saat sebagian orang beristirahat menjelang senja, sejumlah personel Brimob Polda Sumatera Utara justru memilih berkeringat di bawah langit Desa Pohan Jae, Kecamatan Siborongborong. Dengan tangan yang biasanya sigap menjaga keamanan, kali ini mereka memegang cangkul, mengangkat batu, dan menata tanah demi satu tujuan mulia: memastikan masyarakat tetap memiliki jalan untuk melanjutkan kehidupan.
Selasa sore (16/6/2026), personel Batalyon C Pelopor Satuan Brimob Polda Sumut yang tergabung dalam tugas BKO kembali menunjukkan bahwa pengabdian kepada rakyat tidak selalu dilakukan dengan senjata dan seragam tempur. Dipimpin Danton II Kompi 1 Batalyon C Pelopor, IPDA Jun Happy Sihombing, mereka bergotong royong membangun dinding penahan jalan serta menimbun akses di sekitar Jembatan Gotting, urat nadi penghubung masyarakat di kawasan tersebut.
Setiap batu yang disusun bukan sekadar material bangunan. Ia menjadi simbol kepedulian. Setiap tanah yang ditimbun bukan hanya memperkuat badan jalan, tetapi juga memperkuat harapan warga agar aktivitas mereka dapat berjalan tanpa rasa khawatir.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Jembatan Gotting bukan sekadar bentangan beton yang menghubungkan dua sisi wilayah. Bagi masyarakat, jembatan itu adalah jalan menuju sekolah bagi anak-anak, jalur pengangkut hasil pertanian para petani, serta akses bagi warga untuk mencari nafkah dan menjalin kehidupan sosial. Ketika akses tersebut terancam rusak, yang terancam bukan hanya jalan, melainkan denyut kehidupan masyarakat itu sendiri.
Dengan penuh semangat dan tanpa mengenal lelah, para personel Brimob bekerja bahu-membahu membangun dinding penahan tanah agar tidak mudah longsor diterjang cuaca. Setelah itu, mereka melanjutkan penimbunan badan jalan di sisi seberang jembatan untuk memastikan kendaraan warga dapat melintas dengan aman dan nyaman.
Pemandangan tersebut menjadi bukti bahwa pengabdian Polri tidak selalu hadir dalam sorotan lampu atau pemberitaan besar. Kadang, pengabdian itu hadir dalam bentuk tangan-tangan yang kotor oleh tanah, pakaian yang basah oleh keringat, dan kerja keras yang dilakukan dengan tulus demi kepentingan masyarakat.
Dilengkapi dengan berbagai perlengkapan pendukung seperti tenda lapangan, helm SAR, pelampung, sepatu boots, hingga kendaraan operasional, para personel tetap mengedepankan profesionalisme dalam menjalankan tugas kemanusiaan mereka. Namun lebih dari itu, yang paling terlihat adalah ketulusan mereka untuk hadir dan membantu ketika masyarakat membutuhkan.
Kehadiran Brimob di Desa Pohan Jae menjadi gambaran nyata bahwa Polri tidak hanya berdiri sebagai penjaga keamanan, tetapi juga sebagai sahabat masyarakat yang siap turun langsung membantu menyelesaikan persoalan di lapangan.
Bagi warga sekitar, apa yang dilakukan para personel mungkin terlihat sebagai pembangunan dinding jalan dan penimbunan akses jembatan. Namun sesungguhnya, mereka sedang membangun sesuatu yang jauh lebih besar: rasa aman, harapan, dan keyakinan bahwa negara selalu hadir di tengah masyarakat.
Di balik seragam yang mereka kenakan, tersimpan hati yang tulus untuk mengabdi. Dan di setiap butir keringat yang jatuh di Jembatan Gotting hari itu, terselip doa agar jalan yang mereka bangun dapat menjadi jalan bagi masa depan yang lebih baik bagi masyarakat Tapanuli Utara.
Indra/humas













