JAKARTA, 17 Juni 2026 — Sebuah gelombang perlawanan tengah bergemuruh. Bukan datang dari jalanan yang dipenuhi massa. Bukan pula dari demonstrasi besar-besaran. Namun dari jeritan hati rakyat yang selama bertahun-tahun memikul beban hidup yang semakin berat.
Ketika harga kebutuhan pokok terus merangkak naik, biaya pendidikan semakin mencekik, lapangan pekerjaan kian sulit didapat, dan daya beli masyarakat melemah, rakyat berharap hadirnya solusi. Namun yang muncul justru wacana baru: mengejar penerimaan pajak lebih agresif demi membayar utang negara yang terus membengkak.
Pernyataan Ketua Komisi XI DPR RI itu bak menyiram bensin ke bara yang selama ini terpendam.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kemarahan publik meledak.
Di tengah kegelisahan itu, satu suara lantang muncul menembus kebisingan politik nasional.
Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal, SH, MH, Pakar Hukum Internasional, Ekonom Nasional, Presiden Partai Oposisi Merdeka, sekaligus Ketua Umum Perkumpulan Advokat Muda Indonesia, tampil tanpa kompromi.
Dengan nada tegas dan penuh keprihatinan, ia melontarkan kritik yang mengguncang ruang publik.
“Ini bukan solusi! Ini bukan jalan keluar! Jangan jadikan rakyat sebagai mesin ATM negara untuk menutup utang yang terus membengkak!”
Pernyataan itu menyebar cepat dan menjadi perbincangan luas. Sebab yang dipersoalkan bukan sekadar soal pajak. Yang dipersoalkan adalah soal keadilan.
Menurut Prof. Sutan Nasomal, negara tidak boleh menjadikan kesulitan fiskal sebagai alasan untuk semakin menekan masyarakat yang hari ini sedang berjuang mempertahankan kehidupan mereka.
“Rakyat sudah babak belur!”
Kalimat itu meluncur keras.
“Harga sembako naik. Pendidikan makin mahal. Kesehatan semakin sulit dijangkau. Lapangan kerja terbatas. Daya beli menurun. Lalu sekarang rakyat lagi yang diminta menanggung utang negara? Sampai kapan rakyat harus menjadi korban?”
Suara itu dianggap mewakili jutaan rakyat kecil yang selama ini merasa hanya menjadi penonton dalam pembangunan, tetapi selalu diminta ikut membayar ketika negara menghadapi kesulitan.
Di sisi lain, angka utang Indonesia disebut telah mendekati Rp10.000 triliun. Sebuah angka yang sulit dibayangkan oleh masyarakat biasa. Namun dampaknya terasa nyata dalam kehidupan sehari-hari melalui tekanan ekonomi yang terus menghantam keluarga-keluarga Indonesia.
Prof. Sutan Nasomal kemudian mengajukan pertanyaan yang menggugah kesadaran publik.
“Mengapa yang terus dikejar rakyat kecil? Mengapa bukan kebocoran anggaran yang diberantas habis-habisan? Mengapa bukan korupsi yang ditumpas tanpa ampun? Mengapa bukan para pemilik modal besar yang selama ini menikmati keuntungan paling besar dari sistem ekonomi?”
Pertanyaan itu menggema.
Media sosial dipenuhi komentar. Diskusi bermunculan di berbagai kalangan. Warung kopi, ruang akademik, hingga forum-forum masyarakat ramai memperdebatkan arah kebijakan negara.
Bagi Prof. Sutan Nasomal, fungsi negara bukan sekadar memungut, melainkan melindungi.
“Pajak memang kewajiban rakyat. Tetapi melindungi rakyat adalah kewajiban yang jauh lebih besar bagi negara!”
Kalimat tersebut menjadi simbol perlawanan terhadap kebijakan yang dianggap semakin menjauh dari denyut nadi kehidupan masyarakat bawah.
Kini publik menunggu.
Akankah suara rakyat benar-benar didengar?
Akankah para pengambil kebijakan membuka mata terhadap realitas yang dihadapi masyarakat setiap hari?
Ataukah rakyat kembali diminta berkorban sementara akar persoalan tak pernah disentuh?
Satu hal yang pasti, kritik yang dilontarkan Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal telah menjadi alarm keras bagi bangsa ini.
Karena sejarah menunjukkan, sebuah negara tidak runtuh semata-mata karena besarnya utang.
Negara runtuh ketika jeritan rakyat dianggap biasa.
Negara melemah ketika keadilan hanya menjadi slogan.
Dan negara kehilangan arah ketika mereka yang paling lemah justru dipaksa menanggung beban paling berat.
Dengan lantang Prof. Sutan Nasomal menyerukan:
“Jangan sentuh kantong rakyat untuk menutupi kegagalan pengelolaan negara!”
Seruan itu kini bergema dari Senayan hingga pelosok desa, dari ruang diskusi hingga warung kopi rakyat.
Sebuah pesan sederhana namun mengguncang nurani bangsa:
Rakyat bukan tumbal.
Rakyat bukan mesin ATM negara.
Rakyat adalah alasan negara ini berdiri
Indra













