Tebing Tinggi, Sabtu (8/8/2026) — Ketika sebagian orang menikmati akhir pekan dalam ketenangan, di balik kokohnya markas Brimob, kesiapsiagaan justru terus dirawat.
Tak boleh lengah. Tak boleh menunggu. Karena bagi seorang prajurit, tugas bisa datang kapan saja, dan ketika panggilan negara terdengar, tak ada ruang untuk berkata belum siap.
Semangat itulah yang tergambar dalam kunjungan kerja Komandan Satuan Brimob Polda Sumut Kombes Pol. Muhammad Rendra Salipu, S.I.K., M.Si., ke Mako Batalyon B Pelopor Satuan Brimob Polda Sumut, Ksatriaan Paino, S.K., Jalan Ahmad Yani No. 111, Mandailing, Kecamatan Bajenis, Kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara.
Kunjungan tersebut bukan sekadar agenda rutin seorang pimpinan kepada jajaran di bawahnya. Dansat datang untuk melihat langsung, memastikan sendiri, dan mendengar dari dekat denyut kesiapan pasukannya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Didampingi para Pejabat Utama (PJU) Satuan Brimob Polda Sumut dan jajaran Batalyon B Pelopor, Kombes Pol. Muhammad Rendra Salipu memeriksa satu per satu sarana dan prasarana, kendaraan dinas, logistik serta berbagai perlengkapan pendukung tugas.
Tak ada yang luput dari perhatian.
Sebab sebuah kendaraan yang terawat, logistik yang tersedia, perlengkapan yang siap digunakan dan personel yang disiplin bukan sekadar kelengkapan organisasi.
Semua itu adalah bagian dari kesiapan untuk melindungi masyarakat ketika situasi membutuhkan kehadiran Brimob.
“Saya ingin memastikan seluruh personel dan perlengkapan yang dimiliki dalam kondisi siap. Kendaraan, logistik, maupun sarana dan prasarana harus dirawat dan dipersiapkan dengan baik, karena sewaktu-waktu dapat digunakan untuk mendukung pelaksanaan tugas,” ujar Kombes Pol. Muhammad Rendra Salipu.
Di hadapan personel, pesan Dansat pun terasa tegas: jangan pernah menganggap remeh kesiapsiagaan.
Disiplin harus menjadi napas.
Soliditas harus menjadi kekuatan. Profesionalisme harus menjadi karakter. Dan setiap tugas harus dipandang sebagai amanah yang dipertanggungjawabkan kepada masyarakat dan negara.
Namun di balik wajah tegas dan kesiapan operasional itu, ada sisi lain dari pengabdian yang turut ditunjukkan.
Di lingkungan Mako Batalyon B Pelopor, tanah yang selama ini dirawat akhirnya memberikan hasil.
Panen Jagung Raya digelar.
Bukan hanya tentang memetik hasil tanaman, tetapi tentang bagaimana sebuah lahan dimanfaatkan, dirawat dan diubah menjadi sesuatu yang memberikan manfaat.
Kegiatan tersebut menjadi bentuk dukungan terhadap program ketahanan pangan, sekaligus memperlihatkan bahwa semangat pengabdian Brimob tidak hanya hadir ketika menghadapi situasi genting.
Ia juga hadir dalam hal-hal sederhana yang menyentuh kehidupan masyarakat.
Dalam kegiatan itu, turut hadir Ketua Cabang Bhayangkari Satuan Brimob Polda Sumut, Ny. Ucha Rendra Salipu, yang ikut menyaksikan momentum panen tersebut.
Ada kebersamaan. Ada kebanggaan. Dan ada pesan yang lebih dalam: bahwa pengabdian kepada negeri dapat dimulai dari apa yang ada di sekitar kita.
Dari menjaga keamanan hingga menjaga ketahanan pangan.
Dari memastikan kendaraan siap bergerak hingga memastikan tanah tetap produktif.
Semuanya bermuara pada satu tujuan—memberikan manfaat dan menghadirkan rasa aman bagi masyarakat.
Kombes Pol. Muhammad Rendra Salipu kembali mengingatkan seluruh personel agar menjaga kekompakan dan melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab.
“Jaga kekompakan, laksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab dan tetap hadir memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Kesiapan kita adalah bagian dari bentuk pengabdian,” tegas Dansat Brimob Polda Sumut.
Kalimat itu menjadi penegasan bahwa kekuatan Brimob bukan hanya terletak pada seragam, kendaraan, senjata, ataupun perlengkapan operasional.
Kekuatan terbesar adalah kesiapan personelnya.
Kesiapan untuk berdiri ketika masyarakat membutuhkan.
Kesiapan untuk bergerak ketika keadaan memanggil.
Dan kesiapan untuk mengabdi meski tak selalu terlihat oleh banyak mata.
Kunjungan Dansat ke Batalyon B Pelopor akhirnya meninggalkan pesan sederhana namun kuat:
Brimob tidak boleh menunggu keadaan menjadi genting untuk bersiap.
Karena ketika sirene berbunyi, ketika masyarakat membutuhkan perlindungan, ketika negara memanggil—yang dituntut bukan janji, melainkan kesiapan nyata.
Dan dari Mako Batalyon B Pelopor Tebing Tinggi, semangat itu kembali ditegaskan:
Siap dalam tugas.
Solid dalam pengabdian.
Produktif untuk ketahanan pangan.
Dan selalu hadir ketika masyarakat membutuhkan.
Brimob Sumut—bukan sekadar hadir, tetapi siap berdiri di barisan terdepan untuk menjaga negeri.
Indra/humas













