BATAM || Angin malam di sudut Kota Batam terasa lebih dingin dari biasanya. Diantara hiruk-pikuk berita dan deretan 11 mobil yang kini terparkir bisu dalam sitaan, ada sebuah jiwa yang sedang menanggung beban sepi terasing.
Kasus hukum yang menerpa Tempat Hiburan Malam akhir ini, tak hanya menyita barang bukti, tetapi juga merenggut seluruh jejak kebaikan seorang anak manusia.
Dunia memang kerap kali kejam. Seseorang bisa disanjung setinggi langit ketika ia memberi, namun seketika dihempas ke dasar bumi saat satu badai datang menghampirinya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua Fast Respon Indonesia Center (FRIC) KEPRI, Hendri. Merenungi fenomena ini dengan dada yang sesak. Ada duka yang tak tertampung saat menyaksikan bagaimana bayang-bayang kesalahan begitu cepat menghapus jejak-jejak tangan yang dulu selalu terulur hangat.
“Antara nyaman dan Cinta berbuah Dilema,apakah satu hembusan angin malam harus memadamkan seluruh lilin kebaikan yang telah bertahun-tahun beliau nyalakan? Gumam rasa kemanusiaan kita yang tersisa diuji saat ini.”
Luka dari tangan yang pernah tercipta malah menjadi yang paling merajam hati dari peristiwa ini bukanlah ringkik suara sirine atau dinginnya prosedur hukum, melainkan riak ingatan tentang mereka yang pernah diayomi. oknum-oknum yang di masa lalu mengetuk pintunya dengan wajah penuh harapan dan mereka yang setiap bulannya disentuh dengan kepedulian, dinaungi dengan perhatian, dan disokong kehidupan profesi karyanya. Namun kini, ketika sang penolong jatuh terantuk batu kehidupan, jemari yang dulu menerima bantuan justru bergegas mengetik bait-bait penghakiman yang membabi buta.
Tinta yang dulu basah oleh rasa terima kasih, kini mengering dan berubah menjadi sembilu yang menikam dari belakang. Sungguh ironis memang betapa perihnya melihat kacang yang tak lagi mengenali kulit tempatnya dulu berlindung.
Kesaksian Sunyi di Antara Riuh Penghakiman,nurani rakyat kecil tidak pernah bisa dibohongi.
Di kolam komentar nitizen masih terselip sebuah unggahan TikTok Berita Batam, kejujuran itu menetes pelan, menyisakan jejak air mata bagi siapa pun yang membacanya.
Di antara ribuan kata penghakiman masih ada jemari sederhana yang gemetar mengetikkan doa:
– “Saya bersaksi dia orang baik…” bisik akun @B&Y di balik layar ponselnya.
– “Ya Allah, lindungi abangku… semoga sehat selalu,” tutur akun @Putra mandiri
Hal inimenyertakan harapan tulus ke udara.
Dua baris kalimat itu bukan sekadar teks. Itu adalah rintihan jiwa dari mereka yang benar-benar pernah merasakan hangatnya kebaikan beliau.
Sebuah bukti bisu bahwa di balik tuduhan dan nama besar yang kini mencuat, ada sosok manusia yang pernah menjadi alasan orang lain bisa tersenyum dan melanjutkan hidup.
“Kami Fast Respon Indonesia Center Kepri tidak sedang mengajak dunia untuk menutup mata dari hukum. Jika hukum harus ditegakkan, biarlah ia berjalan di atas kebenaran. Jika ada salah yang terbukti, biarlah evaluasi dan penyesalan menjadi penawarnya. Sebab hukum yang sejati dihadirkan bukan untuk menghancurkan harkat dan martabat manusia, melainkan untuk membimbing jiwa yang tersesat pulang ke jalan perbaikan.” Ungkap Hendri
“Adilkah kita jika menakar seluruh hidup seseorang hanya dari satu titik legam di atas kain putih yang panjang? Manusia bukan diciptakan dari kesempurnaan. Setiap kita menyimpan luka, kekhilafan, dan dosa yang belum sempat terungkap ke permukaan. Kebaikan yang pernah ditanamnya tetaplah benih luhur yang tidak pantas dicabut secara paksa hanya karena satu musim gugur. Biarkan hukum bekerja dengan dinginnya pasal-pasal, namun jangan biarkan hati kita membeku tanpa rasa iba. Karena pada akhirnya, hal paling indah yang bisa dilakukan sesama manusia bukanlah memukul mereka yang sudah terjatuh, melainkan merangkulnya untuk bangkit dan memperbaiki diri.” Lanjut Hendri
“Hukum tetaplah berjalan dikoridornya dan Kebaikan tetaplah kemulian,bagi setiap jiwa yang terluka selalu layak diberi ruang untuk dimaafkan dan kembali menata cahaya yang sempat redup.”Tutup Hendri tegas.
H3NDRI













