MEDAN — Di balik setiap batu yang disusun, ada doa yang dipanjatkan. Di balik setiap rupiah yang disumbangkan, ada harapan agar anak-anak kelak memiliki tempat untuk mengenal Tuhan, belajar tentang kasih, dan menemukan jalan menuju masa depan.
Suasana penuh haru dan kebersamaan itu terasa dalam Pesta Pembangunan Gedung Sekolah Minggu GKPI Maranatha Simalingkar, Minggu (23/8/2026).
Anggota DPR RI Komisi XIII Fraksi Partai Golkar Daerah Pemilihan Sumatera Utara I, Kombes Pol. (Purn.) Dr. Maruli Siahaan, S.H., M.H., hadir di tengah jemaat di Jalan Damar 15 Perumnas No. 08, Simalingkar A, Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang.
Kehadiran Dr. Maruli Siahaan bukan sekadar seremoni.
Ia datang membawa kepedulian, menyatukan langkah dengan jemaat, dan ikut merasakan perjuangan mereka yang sedang bergotong royong membangun sebuah ruang sederhana yang kelak akan menjadi tempat tumbuhnya iman anak-anak.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebab sebuah gedung mungkin hanya berdiri dari semen, pasir dan batu.
Namun Sekolah Minggu dibangun dari doa, air mata, pengorbanan, dan harapan orang-orang yang percaya bahwa masa depan harus dipersiapkan sejak hari ini.
Dr. Maruli Siahaan menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh jemaat dan panitia yang tidak mengenal lelah dalam mewujudkan pembangunan tersebut.
“Pembangunan Gedung Sekolah Minggu bukan hanya pembangunan fisik, tetapi merupakan investasi untuk iman dan masa depan anak-anak kita. Di tempat inilah mereka akan belajar mengenal Tuhan, membangun karakter, bertumbuh dalam iman, serta belajar tentang kasih, persaudaraan, kedisiplinan dan kepedulian terhadap sesama,” ujar Dr. Maruli Siahaan.
Sebagai bentuk nyata kepeduliannya, Dr. Maruli Siahaan memberikan bantuan dana kepada panitia pembangunan. Ia juga turut berpartisipasi dalam lelang pembangunan yang menjadi bagian dari rangkaian acara.
Bantuan tersebut mungkin tidak akan mampu menggambarkan seluruh perjuangan jemaat. Namun bagi mereka yang sedang membangun, setiap dukungan memiliki arti.
Karena terkadang, yang paling dibutuhkan bukan hanya besarnya bantuan, tetapi keyakinan bahwa masih ada tangan-tangan yang bersedia membantu dan hati-hati yang mau peduli.
Di tengah keterbatasan, jemaat terus bergandengan tangan.
Ada yang menyumbangkan tenaga.
Ada yang menyisihkan rezeki.
Ada yang membawa doa.
Dan ada yang hadir memberikan semangat.
Semuanya berpadu menjadi satu harapan: agar anak-anak GKPI Maranatha Simalingkar kelak memiliki tempat yang nyaman untuk belajar dan bertumbuh dalam iman.
Momen haru semakin terasa ketika pihak gereja dan panitia pembangunan menyematkan ulos kepada Dr. Maruli Siahaan sebagai tanda penghormatan dan kasih.
Ulos itu bukan sekadar kain yang disematkan.
Ia menjadi simbol ikatan persaudaraan, penghormatan, dan ucapan terima kasih atas kepedulian yang telah diberikan.
Turut hadir Pdt. Pardi Silalahi selaku Pendeta Korwil, Pdt. Paian Nababan selaku Pendeta Ressort GKPI Maranatha, Pdt. H. Hutabarat selaku Pendeta Ressort GKPI Pancur Batu, Pdt. P. Sipahutar selaku Pendeta Ressort GKPI Gloria, jajaran pengurus gereja, panitia pembangunan, jemaat serta para undangan.
Pihak gereja menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kehadiran serta dukungan Dr. Maruli Siahaan. Mereka berharap semangat kebersamaan tersebut terus terjaga hingga pembangunan gedung selesai dan dapat digunakan oleh anak-anak.
Kelak, ketika gedung itu telah berdiri kokoh, mungkin tidak ada yang akan mengingat berapa banyak keringat yang jatuh ketika pembangunannya dimulai.
Namun suara anak-anak yang berdoa di dalamnya akan menjadi saksi.
Suara kecil yang menyebut nama Tuhan.
Suara yang menyanyikan pujian.
Suara yang mungkin suatu hari nanti tumbuh menjadi suara pemimpin, guru, pelayan gereja, orang tua, dan pribadi-pribadi yang membawa kebaikan bagi masyarakat dan bangsa.
Hari ini mereka mungkin masih anak-anak. Tetapi dari tempat inilah masa depan sedang ditanam.
Dr. Maruli Siahaan menegaskan, membangun generasi muda bukan hanya persoalan menghadirkan bangunan, tetapi juga menanamkan iman, moral, karakter, kasih, dan kepedulian sejak usia dini.
“Anak-anak adalah generasi penerus. Karena itu, apa yang kita tanamkan kepada mereka hari ini akan menjadi bagian penting dari masa depan gereja, masyarakat dan bangsa,” pungkasnya.
Dan pada akhirnya, pembangunan Gedung Sekolah Minggu GKPI Maranatha Simalingkar bukan hanya tentang sebuah bangunan yang sedang didirikan.
Ini tentang doa yang sedang diwujudkan.
Tentang harapan yang sedang diperjuangkan.
Tentang iman yang sedang diwariskan.
Dan tentang masa depan anak-anak yang hari ini sedang kita titipkan kepada Tuhan.
(*)













