MEDAN — Ada suasana yang berbeda di Lapangan Apel Makosat Brimob Polda Sumut, Ksatriaan K.E. Lumi, Jalan Bhayangkara, Indra Kasih, Medan Tembung, Rabu (26/8/2026).
Di tempat para personel biasanya berdiri tegap dalam satu barisan, hari itu terselip suasana hening dan berat. Sebuah upacara PTDH digelar—bukan sebagai kebanggaan, melainkan sebagai peringatan bahwa satu kesalahan dapat mengubah perjalanan hidup seseorang, keluarganya, dan masa depannya.
Upacara Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH) personel sekaligus apel kesiapsiagaan tersebut dipimpin langsung Komandan Satuan Brimob Polda Sumut Kombes Pol Rendra Salipu, S.I.K., M.Si.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di hadapan seluruh personel, Dansat menyampaikan pesan yang terasa lebih dalam dari sekadar perintah kedinasan.
“Upacara ini tidak membanggakan. Setiap keputusan yang diambil merupakan konsekuensi dari sebuah pelanggaran. Saya berharap ini menjadi pelajaran bagi kita semua dan semoga upacara PTDH seperti ini menjadi yang terakhir di lingkungan Satuan Brimob Polda Sumut.”
Kalimat itu seolah mengajak seluruh personel untuk menundukkan hati sejenak.
Sebab di balik sebuah keputusan PTDH, ada cerita panjang yang tidak selalu terlihat. Ada keluarga yang mungkin pernah menaruh kebanggaan. Ada orang tua yang pernah berpesan agar anaknya menjaga nama baik. Ada pasangan yang selalu menunggu kepulangan. Ada anak-anak yang mungkin pernah tersenyum bangga melihat orang tuanya mengenakan seragam Polri.
Namun ketika pelanggaran terjadi, semuanya dapat berubah dalam sekejap.
Seragam bisa dilepas, tetapi luka bagi keluarga belum tentu mudah dilepaskan.
Dansat menegaskan, peristiwa tersebut jangan dilihat hanya sebagai persoalan pribadi seorang personel.
“Jangan pernah menganggap ini hanya persoalan individu. Sesungguhnya kita kehilangan salah satu bagian dari keluarga besar Polri, khususnya Brimob Polda Sumut.”
Kata “kehilangan” menjadi pesan yang begitu dalam.
Sebab dalam sebuah institusi yang dibangun dengan semangat kebersamaan, seorang anggota bukan sekadar nama dalam daftar personel. Ia adalah bagian dari keluarga. Ia pernah berdiri dalam satu barisan, menjalankan tugas bersama, menghadapi risiko bersama, dan membawa nama satuan bersama-sama.
Karena itulah, Dansat meminta seluruh jajaran untuk tidak menunggu seorang anggota terjatuh terlalu jauh.
Para komandan diminta kembali mengecek keberadaan dan kondisi personel, termasuk anggota yang diketahui TK (tanpa keterangan).
Pengawasan, kata Dansat, harus dilakukan dengan hati dan kepedulian.
Jangan hanya bertanya ketika masalah sudah terjadi. Bertanyalah ketika seorang rekan mulai berubah.
Jangan menunggu seorang anggota kehilangan arah untuk kemudian menegurnya.
Jangan menunggu keluarganya menangis untuk kemudian mencari tahu apa yang terjadi.
Dan jangan menunggu semuanya terlambat untuk mengatakan, “Seharusnya sejak awal kita saling mengingatkan.”
Dansat juga memberikan perhatian serius terhadap judi online, penyalahgunaan narkoba dan berbagai perilaku yang bertentangan dengan aturan serta kode etik Polri.
“Jangan hanya hadir ketika sudah terjadi masalah. Ingatkan anggota sejak awal. Kepedulian dan pengawasan harus dilakukan sebelum persoalan menjadi lebih besar.”
Pesan tersebut menjadi tamparan sekaligus pelukan bagi seluruh personel.
Tamparan agar tidak pernah bermain-main dengan aturan.
Dan pelukan agar setiap anggota yang sedang menghadapi persoalan tidak merasa sendirian.
Dansat menegaskan dirinya akan bersikap tegas terhadap setiap pelanggaran. Namun setiap personel yang sedang menghadapi masalah diminta tidak memilih jalan sendiri.
Bicaralah kepada komandan. Buka komunikasi. Jangan pendam persoalan seorang diri.
Sebab bisa jadi, persoalan yang hari ini terasa berat masih dapat diselesaikan dengan sebuah nasihat, sebuah teguran, atau uluran tangan seorang pimpinan.
Sebelum semuanya berubah menjadi penyesalan.
Mengakhiri arahannya, Kombes Pol Rendra Salipu mengajak seluruh personel bercermin kepada diri sendiri.
“Apakah hari ini kita sudah menjadi pribadi dan anggota Polri yang lebih baik?”
Pertanyaan itu bukan hanya untuk dijawab dengan kata-kata.
Tetapi dengan sikap.
Dengan kedisiplinan.
Dengan kesetiaan kepada tugas.
Dengan keberanian menolak godaan.
Dan dengan keberanian mengatakan kepada seorang rekan:
“Kawan, jangan lanjutkan. Itu salah. Saya tidak ingin melihatmu kehilangan masa depan.”
Karena sesungguhnya, mengingatkan bukan berarti menjatuhkan. Menegur bukan berarti membenci. Mencegah seorang rekan berbuat salah adalah bentuk kepedulian yang paling tulus.
Upacara PTDH hari itu akhirnya bukan sekadar tentang seseorang yang harus meninggalkan institusi.
Lebih dari itu, ia menjadi cermin bagi seluruh personel.
Bahwa di balik setiap seragam ada kehormatan yang harus dijaga.
Di balik setiap pangkat ada tanggung jawab.
Di balik setiap tugas ada keluarga yang menaruh harapan.
Dan di balik setiap langkah seorang anggota, ada nama besar institusi yang ikut dibawa.
Jangan biarkan satu kesalahan menghapus ribuan kebaikan yang pernah dilakukan.
Jangan biarkan sesaat godaan menghancurkan masa depan yang dibangun bertahun-tahun.
Dan yang paling penting—
jangan biarkan seorang rekan berjalan sendirian menuju kesalahan.
Jika melihat ada yang mulai menyimpang, rangkul dan ingatkan.
Jika ada yang mulai lemah, kuatkan.
Jika ada yang sedang menghadapi masalah, dengarkan.
Sebab mungkin saja, satu teguran hari ini dapat menyelamatkan satu seragam, satu keluarga, dan satu masa depan.
Semoga PTDH ini menjadi yang terakhir.
Semoga tidak ada lagi keluarga yang harus menahan air mata karena kehilangan kebanggaan terhadap orang yang mereka cintai.
Semoga tidak ada lagi orang tua yang menundukkan kepala karena kecewa.
Dan semoga tidak ada lagi seorang personel yang harus meninggalkan barisan dengan membawa penyesalan seumur hidup.
Karena Brimob bukan hanya tentang keberanian menghadapi musuh di luar sana. Brimob juga tentang keberanian menjaga diri, menjaga kawan, menjaga keluarga, dan menjaga kehormatan institusi.
“Jaga kehormatan diri, jaga nama baik satuan, patuhi aturan, dan jangan pernah ragu untuk saling mengingatkan.”
Sebuah pesan yang sederhana, namun mungkin menjadi penyelamat bagi seseorang sebelum semuanya benar-benar terlambat.
Indra/humas













