TANAH DATAR, 25/08/2026 — Sepuluh tahun perjalanan bukan sekadar hitungan waktu. Ia adalah jejak panjang tentang pengabdian, kepedulian, dan harapan yang terus ditanam untuk masa depan.
Nagari Sungayang, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, peringatan satu dekade Lembaga AMPHIBI diwujudkan dengan cara yang sederhana, namun sarat makna: menanam pohon produktif untuk kehidupan.
Bukan sekadar seremoni ulang tahun organisasi. Bukan pula hanya tentang bibit yang ditanam ke dalam tanah. Di balik setiap pohon yang ditanam, terselip pesan bahwa alam harus dijaga, kehidupan harus diwariskan, dan masa depan tidak boleh dibiarkan kehilangan hijaunya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dengan mengusung tema “Hijau, Lestari, Alam Harmoni, Masyarakat Sejahtera”, kegiatan tersebut melibatkan jajaran AMPHIBI Sumatera Barat, AMPHIBI Tanah Datar, Kelompok Tanah, serta masyarakat Nagari Sungayang.
Hadir dalam kegiatan itu Ketua AMPHIBI Sumatera Barat Lingga Ananda, Sekretaris Wilayah Roni Pasla, S.H., Bendahara Wilayah Lili Fatmah, Ketua AMPHIBI Tanah Datar Noviardi Rajo Mansur, bersama unsur kelompok dan masyarakat Nagari Sungayang.
Ketua AMPHIBI Sumatera Barat, Lingga Ananda, mengatakan bahwa menanam pohon merupakan salah satu bentuk nyata kepedulian terhadap lingkungan sekaligus investasi kehidupan bagi generasi yang akan datang.
“Menanam pohon hari ini adalah investasi untuk lingkungan dan kehidupan generasi yang akan datang,” ujar Lingga.
Kalimat itu menjadi begitu berarti ketika sebuah bibit kecil ditanam ke dalam tanah. Hari ini mungkin ia hanya sebatang pohon yang masih rapuh. Namun bertahun-tahun mendatang, ia diharapkan tumbuh menjadi tempat berteduh, menjaga tanah, memberi buah, menghadirkan udara yang lebih baik, sekaligus menjadi saksi bahwa pernah ada orang-orang yang memilih menanam daripada merusak.
Lingga menegaskan, perjuangan menjaga lingkungan tidak selesai ketika tanah kembali ditutup setelah bibit ditanam. Justru setelah itu, tanggung jawab dimulai.
Perawatan, pengawasan, dan keterlibatan masyarakat menjadi kunci agar pohon-pohon tersebut benar-benar tumbuh dan memberikan manfaat ekologis maupun ekonomi.
Sebab, pohon yang ditanam hari ini mungkin tidak langsung dinikmati oleh tangan yang menanamnya. Namun buahnya kelak bisa dipetik oleh generasi yang bahkan belum lahir.
Di situlah makna terdalam dari gerakan penghijauan.
Ada keikhlasan untuk melakukan sesuatu yang manfaatnya mungkin baru terasa bertahun-tahun kemudian. Ada kesadaran bahwa alam bukan warisan untuk dihabiskan, melainkan titipan yang harus dijaga dan diwariskan dalam keadaan lebih baik.
Keterlibatan masyarakat Nagari Sungayang pun menjadi bagian penting dari harapan tersebut. Ketika masyarakat ikut menanam dan merawat, penghijauan tidak lagi menjadi program sebuah organisasi, melainkan berubah menjadi gerakan bersama.
Sepuluh tahun AMPHIBI akhirnya tidak hanya dikenang melalui usia organisasi, tetapi melalui jejak yang ditinggalkan di tanah.
Jejak itu berupa pohon-pohon yang tumbuh, tanah yang tetap terjaga, udara yang lebih sehat, serta harapan yang terus hidup.
Karena pada akhirnya, usia sebuah organisasi bukan hanya tentang berapa lama ia berdiri, tetapi seberapa banyak kebaikan yang mampu ia tinggalkan.
Dan di Sungayang, satu dekade AMPHIBI ditandai dengan sebuah pesan sederhana namun mendalam:
Jika hari ini kita menanam kehidupan, maka suatu hari nanti generasi penerus akan memanen harapan.
Semoga pohon-pohon yang ditanam itu kelak tumbuh tinggi, menjadi teduh bagi masyarakat, menjadi rumah bagi kehidupan, dan menjadi pengingat bahwa pernah ada tangan-tangan yang bekerja dengan tulus demi menjaga bumi.
AMPHIBI menanam pohon hari ini. Alam dan generasi mendatanglah yang akan mengenang kebaikannya.
Indra













