PALEMBANG, SUMSEL — Harapan warga Kenten Raya untuk mendapatkan air bersih yang layak kembali menggantung di ruang mediasi. Gugatan terhadap PDAM Tirta Betuah Banyuasin kini telah memasuki pertemuan persidangan ketiga di Pengadilan Negeri Palembang, Selasa (26/8/2026).
Namun, perjuangan warga belum berakhir. Proses hukum tersebut masih berada pada tahap mediasi berkelanjutan, dengan harapan dapat melahirkan kesepakatan konkret untuk mengakhiri persoalan pelayanan air bersih yang, menurut warga, telah mereka alami selama bertahun-tahun.
ENAM WARGA MENGGUGAT, AIR DISEBUT HANYA MENGALIR DUA KALI SEBULAN
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Gugatan tersebut diajukan oleh enam perwakilan warga Kenten Raya, yakni Ferryadi Asri Munandar, Awaludin, Heryadi, Dedison, Arwin Antoni, dan Muslim, melalui kuasa hukum dari YLBH Ganta Keadilan Sriwijaya.
Keluhan utama warga bukan perkara sepele.
Mereka menyebut pasokan air bersih sangat minim. Air, menurut pengakuan warga, dilaporkan hanya mengalir sekitar dua kali dalam sebulan. Bahkan, dalam kondisi tertentu, pasokan air disebut pernah hanya mengalir sekali dalam sebulan.
Persoalan tidak berhenti sampai di situ.
Warga juga mengeluhkan kualitas air yang dinilai keruh dan berlumpur. Kondisi tersebut, menurut mereka, sangat mengganggu kebutuhan sehari-hari dan menimbulkan kekhawatiran terhadap kelayakan air untuk digunakan, terlebih untuk dikonsumsi.
Bagi warga, air bersih bukan lagi sekadar persoalan pelayanan.
Ini adalah kebutuhan hidup.
DARI SIDANG TERTUNDA HINGGA MEDIASI BERLANJUT
Rangkaian persidangan gugatan warga Kenten terhadap PDAM Tirta Betuah dimulai pada 28 Juli 2026 di Pengadilan Negeri Palembang.
Sidang pertama sempat mengalami penundaan karena pihak tergugat tidak hadir.
Persidangan kemudian berlanjut pada 11 Agustus 2026, ketika proses mediasi formal digelar dan mempertemukan pihak penggugat dengan pihak tergugat.
Dalam proses tersebut hadir Direktur PDAM Tirta Betuah, Hendra Gunawan, serta perwakilan Pemerintah Kabupaten Banyuasin dan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan selaku pihak tergugat dalam perkara tersebut.
Selanjutnya, pada 26 Agustus 2026, digelar kembali pertemuan ketiga sebagai kelanjutan dari rangkaian mediasi.
Kedua belah pihak masih berupaya mengedepankan penyelesaian secara damai dan mencari jalan keluar bersama melalui penyusunan sejumlah poin teknis, khususnya terkait langkah nyata perbaikan pelayanan dan fasilitas air bersih.
Namun, bagi warga, mediasi tentu tidak boleh berhenti hanya pada pertemuan dan pembicaraan.
Mereka menunggu sesuatu yang lebih nyata.
Air yang benar-benar mengalir.
WARGA TUNTUT TRANSPARANSI DAN KEPASTIAN PASOKAN AIR
Dalam proses mediasi, warga juga mendorong adanya keterbukaan terkait kondisi dan kemampuan pelayanan air bersih.
Mulai dari kapasitas produksi air, ketersediaan sumber air, pola distribusi hingga proses pengolahan air menjadi sejumlah persoalan yang diharapkan dapat dijelaskan secara terbuka.
Warga menginginkan adanya jaminan bahwa kapasitas produksi dapat mencukupi kebutuhan masyarakat dan distribusi air dapat dilakukan secara lebih teratur.
Selain kuantitas, kualitas air juga menjadi perhatian serius.
Masyarakat berharap air yang didistribusikan kepada pelanggan dapat melalui proses pengolahan yang memadai sehingga layak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
Warga juga menegaskan bahwa air merupakan salah satu kekayaan alam yang dikuasai oleh negara dan harus dipergunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan masyarakat.
Karena itu, pelayanan air bersih dinilai bukan semata persoalan bisnis atau pelayanan administratif.
Air bersih adalah kebutuhan dasar masyarakat yang harus menjadi prioritas pemerintah.
PDAM JANJIKAN BANTUAN TANGKI AIR, WTP BARU JADI HARAPAN
Di tengah proses gugatan dan mediasi yang masih berlangsung, PDAM Tirta Betuah disebut telah menyiapkan sejumlah langkah untuk mengatasi persoalan krisis air di wilayah Kenten dan sekitarnya.
Salah satunya adalah rencana pembangunan Water Treatment Plant (WTP) atau instalasi pengolahan air baru untuk membantu mengatasi persoalan pasokan air bersih, khususnya di wilayah Kenten Laut.
Selain itu, di tengah kondisi krisis air bersih yang juga diperparah oleh cuaca kemarau ekstrem, Direktur PDAM Tirta Betuah, Hendra Gunawan, menyampaikan rencana bantuan distribusi air bersih menggunakan mobil tangki.
“Nanti akan kita upayakan bantuan air bersih dengan tiga mobil tangki dan akan disalurkan kepada warga Kenten sekitarnya. Satu mobil tangki akan melakukan tiga kali pengantaran. Paling tidak bisa membantu kebutuhan air masyarakat Kenten, sambil menunggu solusi ke depan, langkah apa yang akan kita ambil untuk melakukan perbaikan atau membangun fasilitas PDAM yang baru,” ujar Hendra.
Pernyataan tersebut menjadi secercah harapan bagi warga yang selama ini mengaku kesulitan mendapatkan pasokan air bersih secara normal.
Namun demikian, warga tetap berharap agar rencana tersebut tidak berhenti pada janji.
“KAMI MENUNGGU REALISASINYA”
Arwin Antoni, salah satu perwakilan masyarakat Kenten yang juga tergabung dalam Fast Respons Indonesia Center, menyambut baik rencana bantuan air bersih melalui mobil tangki selama proses perbaikan dilakukan.
Namun, ia menegaskan bahwa masyarakat kini menunggu realisasi nyata.
“Kami sebagai masyarakat menyambut baik inisiatif PDAM Tirta Betuah untuk membantu masyarakat dengan memberikan air bersih melalui mobil tangki. Kami menunggu realisasi yang baik ini. Sudah belasan tahun kami belum merasakan pelayanan seperti ini, apalagi diberikan bantuan air bersih,” ujar Arwin.
Menurut Arwin, persoalan distribusi air di wilayah Kenten perlu mendapatkan perhatian serius dan solusi jangka panjang.
Ia menilai salah satu langkah yang dapat dipertimbangkan adalah pembangunan fasilitas pengolahan air bersih yang lebih dekat dengan wilayah Kenten Laut.
JARAK DISTRIBUSI JADI SOROTAN, WARGA DORONG SOLUSI PERMANEN
Arwin mengatakan, pembangunan fasilitas pengolahan air di sekitar wilayah Kenten Laut dapat menjadi salah satu solusi yang perlu dipertimbangkan.
Menurutnya, jarak distribusi air yang terlalu jauh dari wilayah Merah Mata disebut menjadi salah satu persoalan yang selama ini dikeluhkan karena berpotensi menimbulkan berbagai kendala dalam penyaluran air.
Kebocoran jaringan dan tersendatnya pasokan air disebut menjadi persoalan yang harus dicarikan solusi secara serius.
Selain pembangunan fasilitas baru, Arwin juga mendorong adanya koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk kemungkinan kerja sama atau koordinasi dengan pihak terkait lainnya.
“Alangkah baiknya bila PDAM Tirta Betuah melakukan pembangunan tempat pengolahan air bersih di sekitar Kenten Laut yang jaraknya lebih dekat. Jarak distribusi yang terlalu jauh dari Merah Mata, seperti yang selama ini dikeluhkan, harus menjadi perhatian karena dapat menyebabkan berbagai kendala dalam penyaluran air,” ujarnya.
Ia menegaskan, yang paling penting bagi masyarakat adalah kepastian realisasi solusi.
Bukan sekadar rencana.
Bukan sekadar janji.
Dan bukan pula sekadar pembahasan yang terus berulang di meja mediasi.
“Masyarakat menunggu realisasi pasti dengan solusi yang terbaik. Persoalan ini harus diprioritaskan dan dianggarkan. Bila perlu berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi maupun Pemerintah Pusat. Karena pelayanan air bersih dan kebutuhan masyarakat ini adalah sesuatu yang sangat vital,” tutup Arwin.
Kini, proses mediasi masih terus berjalan.
Di satu sisi, warga memilih membuka ruang penyelesaian secara damai.
Di sisi lain, waktu terus berjalan, sementara kebutuhan air bersih tidak bisa menunggu.
Sidang mungkin masih berada di meja mediasi. Namun bagi warga Kenten, harapan sesungguhnya jauh lebih sederhana: membuka keran, dan melihat air bersih benar-benar mengalir.
Syarudin













