Sound Horeg di Jawa Timur: Antara Gegap Gempita Hiburan Rakyat, Peluang Ekonomi, dan Ancaman Kesehatan

- Penulis

Senin, 19 Oktober 2026 - 13:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MALANG — Dentuman musik yang menggelegar, deretan kendaraan dengan pengeras suara berdaya tinggi, serta kerumunan warga yang larut dalam kemeriahan menjadi pemandangan yang kian lekat dengan festival sound horeg di Jawa Timur. Bagi sebagian masyarakat, fenomena ini merupakan hiburan yang menghadirkan kegembiraan. Namun, di balik gemuruh suara yang memancing antusiasme, tersimpan persoalan yang tidak boleh diabaikan: kesehatan, ketenteraman, keselamatan, dan hak masyarakat untuk menikmati lingkungan yang nyaman.

Penulis: Andre Hariyanto

Pemuda yang tinggal di Malang Raya dan jurnalis freelance

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Festival sound horeg telah berkembang menjadi fenomena hiburan rakyat yang menyita perhatian publik. Kegiatan ini kerap hadir dalam karnaval, perayaan desa, dan berbagai acara masyarakat. Dengan perangkat audio berdaya tinggi yang dipasang pada kendaraan, festival tersebut menawarkan pengalaman hiburan yang berbeda sekaligus menjadi daya tarik bagi warga.

Di satu sisi, sound horeg menjadi ruang ekspresi bagi komunitas audio, membuka peluang usaha, dan menggerakkan roda ekonomi masyarakat. Pedagang kecil memperoleh kesempatan menambah penghasilan, jasa parkir kebanjiran pelanggan, sementara teknisi, operator suara, pengemudi, dan kru lapangan mendapatkan peluang kerja.

Namun, di sisi lain, kemeriahan itu dapat berubah menjadi keresahan ketika suara yang dihasilkan melampaui batas kenyamanan. Apa yang bagi sebagian orang terdengar sebagai musik yang membangkitkan semangat, bagi warga lainnya bisa menjadi kebisingan yang merampas ketenangan.

Di sinilah persoalan sound horeg perlu dilihat secara jernih. Bukan semata-mata soal suka atau tidak suka terhadap musik, melainkan bagaimana sebuah hiburan dapat dinikmati tanpa mengorbankan kesehatan dan hak orang lain.

Ketika Hiburan Menjadi Penggerak Ekonomi Rakyat

Tidak dapat dimungkiri, festival sound horeg memiliki potensi ekonomi yang cukup besar. Keramaian yang tercipta dapat mendatangkan pembeli bagi pedagang makanan dan minuman, pelaku UMKM, penyedia jasa parkir, hingga usaha penyewaan peralatan hiburan.

Penyelenggaraan acara juga membutuhkan tenaga kerja dengan beragam keterampilan. Teknisi audio, operator, pengemudi, kru panggung, dan petugas keamanan menjadi bagian dari ekosistem kegiatan tersebut.

Bagi sebagian warga, kesempatan itu bukan sekadar tambahan penghasilan, melainkan peluang untuk menopang kebutuhan keluarga. Di tengah tantangan ekonomi, setiap kegiatan yang membuka ruang usaha tentu memiliki arti tersendiri.

Selain itu, komunitas sound system dapat mengembangkan kreativitas dalam merancang perangkat, mengatur kualitas suara, dan mengelola pertunjukan. Jika dikelola secara profesional, kegiatan ini berpotensi menjadi industri hiburan yang memberikan manfaat lebih luas.

Namun, manfaat ekonomi perlu dinilai bersama tanggung jawab penyelenggara. Keramaian tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan keselamatan, ketertiban, dan kenyamanan masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi acara.

Di Balik Dentuman, Ada Risiko yang Mengintai Pendengaran

Persoalan paling serius dari penggunaan pengeras suara berintensitas tinggi adalah risiko gangguan pendengaran.

Baca Juga:  Dugaan Maladministrasi Berat: Kadisdik Batam Hendri Arulan Dinilai Melecehkan Permendikbudristek dan Tabrak Hirarki Hukum Pendidikan Nasional

Paparan suara yang terlalu keras, terutama dalam jarak dekat dan berlangsung lama, dapat menyebabkan telinga berdenging, penurunan kemampuan mendengar, bahkan kerusakan pendengaran permanen. Risiko tersebut perlu menjadi perhatian, khususnya bagi penonton yang berada di dekat sumber suara.

Kemeriahan sesaat tentu tidak sebanding dengan kemungkinan gangguan kesehatan yang dapat berlangsung dalam jangka panjang.

Karena itu, pengaturan tingkat kebisingan, jarak aman dari pengeras suara, dan pembatasan durasi paparan harus menjadi bagian penting dari penyelenggaraan festival. Penonton juga perlu menghindari berdiri tepat di depan speaker dan menggunakan pelindung pendengaran apabila diperlukan.

Perhatian khusus perlu diberikan kepada bayi, anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki kondisi kesehatan tertentu. Mereka dapat lebih rentan terhadap dampak lingkungan yang bising dan situasi keramaian.

Festival seharusnya menghadirkan kebahagiaan, bukan meninggalkan risiko kesehatan yang baru disadari setelah acara berakhir.

Ketika Ketenteraman Warga Terganggu

Tidak semua warga memiliki selera hiburan yang sama. Ada yang menikmati dentuman musik dengan penuh antusiasme, tetapi ada pula yang membutuhkan ketenangan untuk beristirahat, belajar, bekerja, beribadah, atau merawat anggota keluarga.

Bagi warga yang rumahnya berada di sekitar lokasi maupun jalur festival, suara keras yang berlangsung dalam waktu lama dapat menjadi beban tersendiri. Gangguan tidur, kesulitan berkonsentrasi, stres, dan sakit kepala merupakan sejumlah dampak yang dapat berkaitan dengan paparan kebisingan.

Bayangkan seorang anak yang harus belajar di tengah suara menggelegar, seorang lansia yang membutuhkan istirahat, atau keluarga yang sedang merawat anggota rumah tangga yang sakit. Bagi mereka, suara yang dianggap meriah oleh sebagian orang bisa terasa sebagai gangguan yang melelahkan.

Persoalan ini mengingatkan kita bahwa ruang publik bukan hanya milik mereka yang sedang berpesta. Ada hak masyarakat lain yang juga harus dihormati.

Kebebasan menikmati hiburan perlu berjalan beriringan dengan kesadaran bahwa kebebasan seseorang memiliki batas ketika mulai mengganggu hak orang lain.

Getaran, Kemacetan, dan Ancaman Keselamatan

Penggunaan sistem audio berdaya tinggi juga dapat menghasilkan getaran yang dirasakan di sekitar lokasi. Besarnya dampak bergantung pada kondisi, tingkat suara, frekuensi, jarak, dan karakteristik bangunan. Karena itu, dugaan kerusakan bangunan perlu dinilai berdasarkan kondisi nyata dan pemeriksaan yang tepat, bukan sekadar asumsi.

Selain itu, festival yang melibatkan kendaraan besar dan menarik banyak penonton dapat meningkatkan kepadatan lalu lintas. Tanpa pengaturan rute, area parkir, serta pengamanan yang memadai, risiko kecelakaan dan terhambatnya akses kendaraan darurat dapat meningkat.

Kondisi tersebut menuntut penyelenggara untuk tidak hanya memikirkan kemegahan perangkat audio dan kemeriahan pertunjukan. Keselamatan penonton, kelancaran lalu lintas, akses warga, dan kesiapan petugas harus mendapat perhatian yang sama besarnya.

Tim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel pakarinvestigasi.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

“TOLAK EKSEKUSI! WARGA PASAR IV HELVETIA BERTAHAN DI TENGAH ANCAMAN PENGOSONGAN: ‘KAMI SIAP MATI DEMI TANAH INI!’”
TRAGIS! DANA IRIGASI P3TGAI ASAHAN DISOROT, ENAM KELOMPOK PETANI MENGAKU TERLILIT UTANG DAN TEKANAN — Rp570 JUTA DIPERSOALKAN, APH DITANTANG UNGKAP FAKTA!
SK PBNU Belum Terbit, Bayang-Bayang Pilpres 2029 Menguat: Ambisi Saifullah Yusuf dan Perebutan Pengaruh di Jantung Nahdlatul Ulama
SELAMATKAN GENERASI DARI CENGKERAMAN NARKOBA! Brimob dan Ditresnarkoba Polda Sumut Gerebek Lokasi di Medan, 8 Pria Diamankan
PROF. DR. KH. SUTAN NASOMAL SEMATKAN GELAR CFLE KE-2.500 KEPADA AHMAD HUSEIN BATU BARA, AMANAH BARU UNTUK MEMPERJUANGKAN KEADILAN
BNCT Buka Jalan Kolaborasi Logistik Indonesia–Malaysia, Pelabuhan Belawan Bidik Peluang Pasar Regional
Ketum Relawan Tegak Lurus Prabowo Arse Pane Ucapkan Selamat atas Pelantikan Hj. Lilis Tutilaswati Suganda sebagai Bendahara PDBI DKI Jakarta
Peduli Kesehatan Warga, PT PHPO KIM II Gelar Fogging Gratis di Mabar Hilir dan Saentis
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 14:36 WIB

“TOLAK EKSEKUSI! WARGA PASAR IV HELVETIA BERTAHAN DI TENGAH ANCAMAN PENGOSONGAN: ‘KAMI SIAP MATI DEMI TANAH INI!’”

Rabu, 28 Oktober 2026 - 10:18 WIB

TRAGIS! DANA IRIGASI P3TGAI ASAHAN DISOROT, ENAM KELOMPOK PETANI MENGAKU TERLILIT UTANG DAN TEKANAN — Rp570 JUTA DIPERSOALKAN, APH DITANTANG UNGKAP FAKTA!

Rabu, 28 Oktober 2026 - 09:25 WIB

SK PBNU Belum Terbit, Bayang-Bayang Pilpres 2029 Menguat: Ambisi Saifullah Yusuf dan Perebutan Pengaruh di Jantung Nahdlatul Ulama

Rabu, 28 Oktober 2026 - 08:21 WIB

SELAMATKAN GENERASI DARI CENGKERAMAN NARKOBA! Brimob dan Ditresnarkoba Polda Sumut Gerebek Lokasi di Medan, 8 Pria Diamankan

Rabu, 28 Oktober 2026 - 00:59 WIB

PROF. DR. KH. SUTAN NASOMAL SEMATKAN GELAR CFLE KE-2.500 KEPADA AHMAD HUSEIN BATU BARA, AMANAH BARU UNTUK MEMPERJUANGKAN KEADILAN

Berita Terbaru