Dugaan Korup Dana Hibah Rp1,4 Miliar: Kontingen Pesparawi Kepri Terlantar di Bandara akibat Tiket Fiktif

- Penulis

Minggu, 28 Juni 2026 - 13:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA — Dugaan penyelewengan dana hibah sebesar Rp1,4 Miliar mencuat setelah 27 anggota kontingen Paduan Suara Wanita (PSW) asal Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri), gagal berangkat ke Pesparawi Nasional XIV di Manokwari.

Rombongan tersebut terlantar di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta pada Jumat, 26 Juni 2026, akibat tiket penerbangan lanjutan yang dibawa ternyata hanya berupa dokumen pemesanan (booking) yang belum dibayar oleh pihak panitia daerah.

Meskipun gagal bertanding, kontingen Kepri menuai simpati publik setelah video mereka menyanyikan lagu lomba di lantai bandara viral di media sosial sebagai bentuk protes damai dan bermartabat.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

– Kajian Hukum: Potensi Tindak Pidana Korupsi (Tipikor)

Kasus gagal berangkatnya kontingen yang didanai oleh uang rakyat ini tidak bisa sekadar diselesaikan lewat jalur administrasi atau “evaluasi internal”. Berdasarkan fakta lapangan, terdapat indikasi kuat terjadinya tindak pidana korupsi yang memenuhi unsur-unsur dalam UU No. 31 Tahun 1999 juncto UU No. 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi:

1. Penyalahgunaan Wewenang dan Kerugian Keuangan Negara (Pasal 2 dan Pasal 3)

Dana hibah sebesar Rp1,4 Miliar yang bersumber dari APBD seharusnya dialokasikan secara utuh untuk membiayai akomodasi, transportasi, dan keperluan kontingen.

Unsur Pelanggaran: Membiarkan peserta terbang ke Jakarta dengan tiket bookingan kosong mengindikasikan bahwa anggaran transportasi tidak disalurkan sebagaimana mestinya.

Jika dana tersebut telah dicairkan oleh panitia daerah namun tidak dibayarkan ke maskapai, maka terdapat unsur perbuatan melawan hukum yang memperkaya diri sendiri/orang lain serta merugikan keuangan negara.

Baca Juga:  Belawan Bersiap Jadi Gerbang Logistik Regional, BNCT dan Mitra Shipping Jajaki Layanan Barge Langsung ke Port Klang

2. Penggelapan dalam Jabatan (Pasal 8)

Unsur Pelanggaran: Pengurus atau panitia yang ditunjuk oleh Pemerintah Daerah merupakan subordinat yang diserahi tugas mengelola uang publik. Jika ditemukan fakta bahwa uang tersebut sengaja “disimpan”, dialihkan, atau digelapkan hingga menyebabkan tiket gagal bayar, pelaku dapat dijerat pasal penggelapan dalam jabatan dengan sanksi pidana yang berat.

3. Kelalaian yang Mengarah pada Kerugian Publik (Tipikor Akibat Disfungsi Anggaran)

Sekalipun panitia berdalih adanya “kesalahan teknis” atau kelalaian administratif, dalam hukum pidana korupsi, kelalaian serius (culpa lata) yang mengakibatkan hilangnya kemanfaatan keuangan negara (dana hibah terbuang sia-sia tanpa hasil/kegiatan gagal total) tetap dapat dimintai pertanggungjawaban pidana.

– Rekomendasi Tindak Lanjut Hukum

Aparat Penegak Hukum (Polri/Kejaksaan):

– Harus segera melakukan penyelidikan (full bucket) terhadap Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) awal dan aliran dana (cash flow) dari rekening panitia daerah untuk melacak ke mana larinya dana hibah Rp1,4 Miliar tersebut.

– Audit Investigatif BPK/BPKP: Diperlukan audit menyeluruh untuk menilai kerugian negara secara riil akibat kegagalan keberangkatan ini.

– Sanksi Panitia Nasional: Panitia Pusat harus memberikan sanksi/teguran keras secara kelembagaan kepada Pemda dan Lembaga Pengembangan Pesparawi Daerah (LPPD) Kepri demi menjaga marwah hajat negara ini di masa depan.

H3NDRI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel pakarinvestigasi.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

SAMBUT HUT KE-81 KORPS BRIMOB POLRI, BATALYON C PELOPOR SAT BRIMOB POLDA SUMUT TEBAR BIBIT IKAN, MERAWAT ALAM DEMI MASA DEPAN
Toko Roti DMR Srigunting Resmi Melaporkan Yono Selaku Perwakilan Atik Bakery yang Melakukan Tindakan Pencurian.
Aneh, Ditanya Mengapa Ada NPWPD Pajak Parkir diatas Parit dan Trotoar, Kabid Parkir Bapenda, Malah Ngaku Akan Cek kembali
Bapenda Kota Medan Dan Manager DIY William Iskandar Rampas Hak Pejalan Kaki, Buat Kegiatan Parkir Diatas Parit dan Trotoar.
BBM Subsidi Dikeruk, H. Asril Doyok Lempar Badan: Siapa “Beking” dan Pemilik Asli PT BMBM di SPBU KM 5 Perawang?
KLAIM ULAYAT TAPI PAKAI SKRPT PRIBADI: RONALDI TAK BISA BUKTIKAN LEGALITAS TANAH HPL, MALAH SESUMBAR DAN BLOKIR MEDIA! KAPOLRES SIAK, TANGKAP TERLAPOR!!
Satu Dekade AMPHIBI: Menanam Mangrove, Menjaga Warisan, Menitipkan Harapan untuk Anak Cucu
Dari Ruang Rapat Polda Sumut, Alarm untuk Mafia LPG Bersubsidi Dinyalakan: Tabung Hijau Harus Kembali ke Rakyat!
Berita ini 33 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 07:08 WIB

SAMBUT HUT KE-81 KORPS BRIMOB POLRI, BATALYON C PELOPOR SAT BRIMOB POLDA SUMUT TEBAR BIBIT IKAN, MERAWAT ALAM DEMI MASA DEPAN

Rabu, 14 Oktober 2026 - 17:36 WIB

Toko Roti DMR Srigunting Resmi Melaporkan Yono Selaku Perwakilan Atik Bakery yang Melakukan Tindakan Pencurian.

Minggu, 11 Oktober 2026 - 01:32 WIB

Aneh, Ditanya Mengapa Ada NPWPD Pajak Parkir diatas Parit dan Trotoar, Kabid Parkir Bapenda, Malah Ngaku Akan Cek kembali

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 11:06 WIB

Bapenda Kota Medan Dan Manager DIY William Iskandar Rampas Hak Pejalan Kaki, Buat Kegiatan Parkir Diatas Parit dan Trotoar.

Selasa, 29 September 2026 - 02:34 WIB

BBM Subsidi Dikeruk, H. Asril Doyok Lempar Badan: Siapa “Beking” dan Pemilik Asli PT BMBM di SPBU KM 5 Perawang?

Berita Terbaru