BATU BARA – Angin laut berhembus perlahan di Pantai Sejarah, Desa Perupuk. Ombak datang dan pergi, seakan membawa pesan dari alam yang selama ini setia memberi kehidupan, namun tak jarang terluka oleh tangan manusia.
Di tempat itulah, pada peringatan 10 tahun perjalanan AMPHIBI, sebuah suara kepedulian kembali dipertemukan dengan suara alam.
Bukan sekadar perayaan perjalanan sebuah organisasi. Bukan pula hanya seremoni menandai bertambahnya usia.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, menjadi sebuah pengingat bahwa alam yang diwariskan leluhur tidak boleh habis di tangan generasi hari ini.
Dalam Kuliah Umum Peringatan HUT AMPHIBI ke-10 di Pantai Sejarah, Desa Perupuk, Kecamatan Lima Puluh Pesisir, Kabupaten Batu Bara, Jumat (29/08/2026), Pembina AMPHIBI Kabupaten Batu Bara, Dr. H. Elfi Haris, SH., M.Hum, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk kembali membuka mata dan hati terhadap lingkungan serta budaya yang perlahan terancam dilupakan.
Ketika Alam Meminta untuk Dijaga
Dr. H. Elfi Haris mengingatkan bahwa hutan bukan sekadar hamparan pohon yang menunggu untuk ditebang.
Di dalamnya ada kehidupan. Ada udara yang kita hirup. Ada air yang mengalir. Ada masa depan yang diam-diam sedang bergantung pada keputusan manusia hari ini.
Menurutnya, menjaga hutan, mangrove, dan ekosistem tidak berarti mengorbankan pertumbuhan ekonomi.
Justru sebaliknya, kelestarian alam dapat menjadi kekuatan ekonomi berkelanjutan melalui jasa lingkungan dan potensi perdagangan karbon.
“Pihak yang menghasilkan emisi karbon bisa melakukan kompensasi. Menjaga hutan, mangrove, dan ekosistem lainnya harus kita pandang sebagai investasi masa depan,” tegasnya.
Sebab pohon yang tetap berdiri bukan berarti tidak menghasilkan.
Mangrove yang tumbuh di tepian laut bukan sekadar kumpulan akar yang menjulang dari lumpur.
Ia adalah benteng.
Ia adalah penjaga.
Ia adalah harapan bagi daratan agar tidak terus hilang ditelan gelombang.
Daratan yang Perlahan Hilang
Namun, di balik keindahan pesisir Batu Bara, ada luka yang tidak bisa diabaikan.
Abrasi perlahan menggerus daratan.
Tanah yang dahulu menjadi tempat berpijak, sedikit demi sedikit hilang dibawa ombak.
“Banyak daratan telah hilang akibat abrasi. Ini harus menjadi perhatian serius kepala daerah dan seluruh pemangku kepentingan. Jangan sampai kita abai terhadap kerusakan lingkungan,” ujar Dr. H. Elfi Haris.
Ketika daratan hilang, yang pergi bukan hanya tanah.
Ada ruang kehidupan yang ikut lenyap.
Ada kenangan masyarakat yang perlahan terkikis.
Dan ada kekhawatiran yang diam-diam tumbuh tentang bagaimana wajah pesisir ini akan terlihat di masa depan.
Karena itu, menjaga lingkungan bukan lagi sekadar pilihan.
Ia adalah kewajiban.
Jangan Biarkan Budaya Tinggal Cerita
Di tengah kegiatan itu, senandung dan tarian Melayu turut mengalun.
Irama tradisi seakan membawa semua yang hadir kembali mengingat pesan leluhur.
Bahwa sebuah bangsa tidak akan kuat apabila ia kehilangan akar.
Dr. H. Elfi Haris pun mengingatkan pentingnya menjaga budaya agar tidak hanya tinggal sebagai cerita yang dikenang generasi masa depan.
“Kita harus menjaga budaya leluhur agar tidak punah. Generasi muda wajib mengenal dan melestarikannya,” katanya.
Sebab suatu hari nanti, anak-anak akan bertanya:
Dari mana kami berasal?
Dan jangan sampai kita tidak lagi memiliki jawaban.
Jangan sampai lagu-lagu leluhur hanya tinggal rekaman.
Jangan sampai tarian tradisi hanya tinggal cerita.
Jangan sampai identitas bangsa hilang karena generasinya sendiri lupa untuk menjaganya.
Ketika Sungai, Angin dan Laut Tidak Mengenal Batas
Ketua AMPHIBI Kabupaten Batu Bara, Aidil Syukri, ST, mengingatkan bahwa alam tidak pernah mengenal batas yang dibuat manusia.
“Sungai tidak mengenal batas administrasi. Angin tidak mengenal batas wilayah. Laut tidak mengenal batas desa. Pencemaran juga tidak mengenal batas organisasi. Karena itu kita butuh kolaborasi,” ujarnya.
Satu sungai yang tercemar akan membawa lukanya jauh.
Satu hutan yang rusak dapat mengubah kehidupan banyak orang.
Satu pantai yang dibiarkan terkikis dapat menghilangkan masa depan sebuah kampung.
Maka, tidak ada ruang untuk berjalan sendiri.
Pemerintah, masyarakat, dunia usaha, organisasi, tokoh adat, dan generasi muda harus berdiri dalam satu barisan.
Bukan untuk mencari siapa yang paling hebat menjaga lingkungan.
Tetapi untuk memastikan tidak ada lagi yang merasa sendirian dalam memperjuangkan alam.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Desa Perupuk Syarkawi, Kepala Desa Gambus Laut, Anggota DPRD Batu Bara Suriadi, SH selaku Penasihat AMPHIBI Batu Bara, serta Ucu Mukhsin, Anggota DPRD Batu Bara dua periode yang juga merupakan Pembina AMPHIBI Batu Bara.
Hadir pula Miswarindra dari Humas PT KINRA, yang mengajak AMPHIBI Kabupaten Batu Bara membangun kerja sama dengan tetap mengikuti mekanisme dan persyaratan yang berlaku.
Sejumlah organisasi kemasyarakatan, tokoh masyarakat, dan aktivis lingkungan turut hadir, menyatukan langkah dalam satu kepedulian.
Menanam Mangrove, Menanam Masa Depan
Menjelang akhir kegiatan, seluruh peserta bergerak menuju kawasan pesisir Pantai Sejarah Desa Perupuk.
Mereka membawa bibit mangrove.
Mungkin kecil.
Mungkin masih rapuh.
Namun, di dalam setiap bibit itu, tersimpan harapan yang jauh lebih besar daripada bentuknya.
Tangan-tangan yang berbeda latar belakang menyentuh tanah yang sama.
Ada yang datang sebagai pemerintah.
Ada yang hadir sebagai aktivis.
Ada yang datang sebagai tokoh masyarakat.
Ada pula yang hanya membawa satu niat sederhana:
Jangan biarkan alam ini hilang.
Satu per satu bibit mangrove ditanam.
Hari ini mungkin hanya berupa batang kecil yang belum mampu menahan ganasnya ombak.
Tetapi waktu akan membuatnya tumbuh.
Akarnya akan semakin kuat.
Batangnya akan semakin kokoh.
Dan suatu hari nanti, mungkin mangrove-mangrove itulah yang berdiri menjaga tanah tempat anak cucu berpijak.
Peringatan 10 tahun AMPHIBI pun menjadi lebih dari sekadar perayaan usia.
Ia menjadi perjalanan tentang kepedulian.
Tentang orang-orang yang memilih untuk tidak diam ketika alam mulai terluka.
Tentang mereka yang percaya bahwa menjaga lingkungan bukan pekerjaan sehari atau setahun.
Melainkan perjuangan yang harus diwariskan.
Karena pada akhirnya, manusia mungkin bisa meninggalkan alam.
Namun, alam tidak pernah bisa meninggalkan manusia.
Maka sebelum semuanya terlambat, mari menanam.
Mari menjaga.
Mari merawat.
Sebab apa yang kita tanam hari ini, mungkin bukan untuk kita nikmati.
Tetapi untuk anak cucu yang kelak akan berdiri di tanah ini dan berkata:
“Terima kasih, karena kalian pernah memikirkan kami.”
(red-amphibi)













