NABIRE – Malam itu, Kamis (30/7/2026), langit di Kampung Waroki seakan ikut berduka. Di sebuah sudut jalan dekat Pantai Naikere, warga menemukan sesosok tubuh remaja putri yang terbaring tanpa kehidupan. Ia adalah CK (14), seorang anak yang seharusnya masih dipenuhi tawa, mimpi, dan harapan untuk menatap masa depan.
Namun malam itu, semua mimpi itu berhenti untuk selamanya.
Korban ditemukan dalam posisi tertelungkup. Sebagian tubuh, kepala, dan rambutnya hangus terbakar. Pemandangan yang menyayat hati itu membuat siapa pun yang melihatnya sulit menahan rasa pilu. Tak ada lagi senyum seorang anak yang sebelumnya masih hidup di tengah keluarganya. Yang tersisa hanyalah kesedihan yang membekas di hati orang-orang yang mencintainya.
Personel Polres Nabire segera mendatangi lokasi dan mengevakuasi jenazah ke rumah sakit. Proses mengenali identitas korban tidak mudah. Luka bakar yang cukup parah membuat wajahnya sulit dikenali. Dengan penuh kesabaran, polisi melakukan identifikasi melalui sidik jari, berkoordinasi dengan Disdukcapil, hingga akhirnya keluarga datang memastikan bahwa jasad itu benar adalah putri yang selama ini mereka cari.
Sejak saat itu, waktu seolah menjadi perlombaan. Polisi bergerak tanpa henti demi mengungkap siapa yang telah merenggut masa depan seorang anak yang baru berusia 14 tahun.
Petunjuk demi petunjuk mulai terbuka.
Rekaman CCTV memperlihatkan korban terakhir kali bersama seorang remaja laki-laki berinisial A (14). Berbekal bukti tersebut, tim Satreskrim, Unit Resmob, dan Tim Khusus Regu II bergerak cepat hingga pada Jumat dini hari, sekitar pukul 02.40 WIT, terduga pelaku berhasil diamankan.
Dari hasil penyelidikan awal, polisi mengungkap bahwa korban dan terduga pelaku pernah menjalin hubungan asmara. Hubungan yang semula dipenuhi kedekatan itu, menurut penyidik, kemudian berubah menjadi persoalan yang berujung pada tragedi. Motif perkara ini masih terus didalami sesuai proses hukum yang berlaku.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut hasil penyidikan sementara, sebelum pertemuan terakhir, terduga pelaku diduga telah menyiapkan sejumlah barang yang kemudian menjadi barang bukti. Keduanya bertemu dan menuju lokasi yang kini menjadi saksi bisu berakhirnya kehidupan seorang remaja yang bahkan belum sempat menggapai cita-citanya.
Polisi menduga di lokasi tersebut terjadi tindak kekerasan yang menyebabkan korban meninggal dunia. Setelah itu, tubuh korban diduga disiram dengan minyak tanah dan dibakar.
Penyidik kemudian mengamankan sejumlah barang bukti, termasuk sepeda motor, sebilah pisau, sebotol minyak tanah, beberapa telepon genggam, serta barang-barang milik korban.
Kasus ini bukan hanya tentang cepatnya polisi mengungkap pelaku. Lebih dari itu, tragedi ini meninggalkan luka yang tak mudah sembuh. Di rumah korban, sebuah kursi mungkin akan selamanya kosong. Tawa seorang anak tak lagi terdengar. Impian yang baru mulai tumbuh kini terkubur bersama kepergiannya.
Sementara itu, seorang remaja lain harus menjalani proses hukum atas dugaan perbuatannya. Dua keluarga kini sama-sama memikul beban yang begitu berat—satu kehilangan buah hati untuk selamanya, sementara yang lain harus menghadapi kenyataan pahit bahwa anak mereka berhadapan dengan hukum.
Peristiwa ini menjadi pengingat bagi semua pihak bahwa setiap persoalan harus diselesaikan dengan kepala dingin, komunikasi, dan pendampingan dari keluarga serta lingkungan. Sebab ketika amarah mengalahkan nurani, penyesalan yang datang kemudian tidak akan pernah mampu mengembalikan nyawa yang telah hilang.
Bayu













