Medan Marelan — Di tengah derasnya lalu lintas Jalan Platina Raya, Kelurahan Titi Papan, Kecamatan Medan Deli, sebuah ancaman maut menganga tanpa kepastian kapan akan ditangani.
Bukan sekadar jalan rusak. Sebuah lubang besar dengan lebar sekitar 70 sentimeter, panjang mencapai 1,5 meter, dan kedalaman diperkirakan 2 meter, kini berdiri seperti jebakan maut di tengah jalur yang setiap hari dilalui masyarakat.
Ironisnya, lubang berbahaya itu disebut masih dibiarkan terbuka.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Siang hari mungkin masih bisa terlihat. Namun ketika malam menutup pandangan dan hujan mengguyur kawasan itu, ancaman berubah menjadi jauh lebih mengerikan. Lampu kendaraan, genangan air, dan kondisi jalan yang minim pandangan dapat membuat pengendara terlambat menyadari bahwa di hadapannya ada lubang menganga yang siap mencelakai siapa saja.
Satu detik lengah, satu nyawa bisa menjadi taruhannya.
Andi (32), salah seorang warga, mengaku pernah menyaksikan seorang pengendara sepeda motor nyaris terperosok ke dalam lubang tersebut.
“Hampir saja masuk ke dalam lubang. Kalau saja tidak terhalang sepeda motornya,” ujar Andi kepada wartawan, Selasa (25/8/2026).
Peristiwa itu menjadi alarm keras. Hari ini mungkin hanya nyaris. Namun siapa yang dapat menjamin besok tidak ada korban yang benar-benar terjatuh?
Penggiat sosial, Syarijal (48), pun mendesak agar instansi terkait segera turun tangan dan tidak menjadikan keselamatan warga sebagai persoalan yang bisa ditunda-tunda.
“Jangan sampai korban jiwa jatuh baru mereka kewalahan,” tegas Syarijal.
Peringatan itu seharusnya tidak dipandang sebelah mata.
Jangan sampai jalan yang seharusnya menjadi penghubung justru berubah menjadi pintu menuju maut. Jangan sampai jeritan keluarga baru terdengar setelah ada korban. Jangan sampai penanganan baru dilakukan ketika nyawa sudah melayang.
Warga kini menunggu tindakan nyata, bukan sekadar janji dan alasan.
Sebab ketika lubang maut sudah terlihat jelas, lalu tetap dibiarkan menganga, pertanyaannya bukan lagi kapan diperbaiki—melainkan, apakah harus menunggu korban terlebih dahulu?
Indra













