LABUHAN DELI — Pagi itu berjalan seperti biasa di Desa Manunggal, Kecamatan Labuhan Deli. Aktivitas warga perlahan mulai menggeliat. Namun di sudut-sudut rumah sederhana, ada kisah lain yang tak banyak terlihat—tentang mereka yang tak lagi mampu melangkah keluar, terbaring dalam sakit, menahan hari dengan sunyi.
Bagi sebagian warga, hari pembagian Bantuan Langsung Tunai (BLT) mungkin hanya tentang datang, antre, lalu pulang membawa harapan. Tapi bagi yang sakit, bahkan sekadar berdiri pun menjadi perjuangan.
Rabu (29/4/2026), Pemerintah Desa Manunggal tetap menyalurkan BLT kepada 15 warga yang berhak menerima. Namun dari jumlah itu, empat di antaranya tak bisa hadir. Kondisi fisik yang lemah membuat mereka hanya bisa menunggu—entah kabar, entah kepastian.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun hari itu, mereka tak hanya menunggu.
Kepala Desa Manunggal, Mukhlisin, memilih untuk tidak membiarkan jarak dan keadaan menjadi penghalang. Ia melangkah keluar dari kantor desa, menyusuri jalan-jalan kecil, mendatangi rumah demi rumah warga yang terbaring sakit.
Di balik pintu-pintu sederhana itu, suasana haru terasa. Ada tatapan lemah yang tiba-tiba berbinar, ada senyum yang muncul perlahan, bahkan mungkin ada air mata yang jatuh diam-diam. Bukan semata karena bantuan itu datang, tetapi karena mereka merasa dilihat, diperhatikan, dan tidak dilupakan.
Satu per satu bantuan diserahkan langsung. Nilainya Rp750.000 untuk bulan Januari hingga Maret. Angka yang mungkin tak besar, namun di tengah keterbatasan, ia menjadi penopang harapan.
Lebih dari itu, cara bantuan itu disampaikan menghadirkan makna yang jauh lebih dalam. Ada ketulusan di setiap langkah yang ditempuh, ada kepedulian yang tak bisa diukur dengan angka.
“Empat warga dalam kondisi sakit, jadi kami yang datang langsung ke rumah mereka,” ujar Mukhlisin dengan sederhana.
Kalimat itu mungkin terdengar biasa. Namun di baliknya, ada pilihan untuk hadir, untuk peduli, untuk memastikan tak ada yang tertinggal—bahkan mereka yang paling lemah sekalipun.
Di desa kecil itu, hari itu menjadi berbeda. Bantuan bukan hanya disalurkan, tapi juga diantarkan dengan hati.
Dan di antara rumah-rumah yang sunyi, terselip sebuah pesan yang tak terucap keras: bahwa dalam keadaan paling sulit, masih ada tangan yang datang… membawa harapan.
Tim













