Medan ~ Di bawah terik matahari pagi yang menyinari Lapangan Hanyaken Musuh Mako Sat Brimob Polda Sumut Ksatriaan K.E. Lumi, Jalan Bhayangkara, Medan Tembung, Jumat (22/05/2026), puluhan personel Brimob berdiri tegap dengan wajah penuh semangat dan tekad. Di balik seragam loreng dan ketegasan sikap mereka, tersimpan satu tujuan mulia: menjaga keselamatan masyarakat, bahkan bila harus mempertaruhkan diri sendiri.
Upacara Penutupan Latihan Peningkatan Kemampuan Wanteror Semester I Tahun Anggaran 2026 bukan hanya menjadi akhir dari sebuah latihan. Lebih dari itu, kegiatan ini adalah bukti nyata bagaimana personel Brimob Sumatera Utara terus menempa diri dalam diam, berlatih tanpa lelah, agar selalu siap hadir di garis terdepan saat masyarakat membutuhkan perlindungan.
Dipimpin langsung oleh Komandan Satuan Brimob Polda Sumut, Rantau Isnur Eka, sebanyak 50 personel gabungan dari unsur Satuan Brimob, Batalyon A Pelopor, Batalyon B Pelopor, Batalyon C Pelopor, hingga Detasemen Gegana telah melewati berbagai tahapan latihan berat yang menguras tenaga, fisik, dan mental. Namun tak satu pun menyerah. Sebab bagi mereka, tugas menjaga keamanan bangsa adalah kehormatan yang tak bisa ditawar.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Hari demi hari mereka jalani latihan penuh disiplin. Peluh bercucuran, tubuh ditempa, mental diuji. Semua dilakukan demi satu harapan sederhana: agar masyarakat dapat hidup dengan rasa aman dan tenang tanpa harus merasakan ancaman yang sewaktu-waktu bisa datang.
Dalam amanatnya, Dansat Brimob Polda Sumut menegaskan bahwa kemampuan wanteror bukan sekadar kemampuan tempur biasa. Kemampuan itu adalah bentuk kesiapan menghadapi ancaman nyata yang dapat mengganggu stabilitas keamanan masyarakat dan negara. Karena itu, disiplin, loyalitas, soliditas, dan profesionalisme harus terus dijaga dalam setiap langkah pengabdian.
“Latihan ini bukan hanya sekadar rutinitas, namun menjadi bagian dari proses pembentukan personel Brimob yang tangguh, profesional, dan siap menghadapi segala bentuk ancaman yang dapat mengganggu stabilitas keamanan masyarakat,” tegas beliau dengan penuh penekanan.
Kalimat itu seolah menjadi pengingat bahwa di balik rasa aman yang dinikmati masyarakat hari ini, ada pengorbanan para personel yang rela jauh dari keluarga, menahan lelah, bahkan mempertaruhkan nyawa demi menjaga negeri tetap damai.
Mereka tidak meminta tepuk tangan. Tidak pula mencari pujian. Namun melalui latihan dan pengabdian tanpa henti, Brimob Sumut kembali menunjukkan bahwa menjaga keamanan bukan sekadar tugas, melainkan panggilan jiwa dan bentuk cinta kepada bangsa serta rakyat Indonesia.
Humas/indra













