SERDANG BEDAGAI – Deru alat berat kembali menggetarkan bantaran Sungai Ular. Di saat publik berharap aktivitas yang selama ini dipersoalkan telah berhenti, sebuah video yang beredar justru memunculkan kegelisahan baru. Rekaman yang memperlihatkan ekskavator dan truk diduga kembali beroperasi di Desa Citaman Jernih, Kecamatan Perbaungan, seakan menghidupkan kembali pertanyaan yang belum pernah benar-benar terjawab: mengapa aktivitas yang diduga merusak lingkungan itu masih terus muncul?
Bagi masyarakat, ini bukan sekadar persoalan penambangan. Ini menyangkut kelestarian Sungai Ular, keselamatan lingkungan, dan kepercayaan terhadap penegakan hukum. Di tengah gencarnya komitmen pemerintah memberantas praktik galian C ilegal, warga berharap hukum tidak berhenti pada peringatan atau penertiban sesaat. Mereka menunggu tindakan nyata yang mampu memberikan kepastian bahwa tidak ada ruang bagi aktivitas yang diduga melanggar aturan untuk terus berlangsung.
Beredarnya video tersebut pun kembali menyulut sorotan publik. Masyarakat kini mempertanyakan sejauh mana efektivitas pengawasan dan penindakan aparat terhadap dugaan aktivitas galian C di kawasan itu. Harapan warga sederhana, bila memang terdapat pelanggaran, penegakan hukum dilakukan secara tegas, transparan, dan tanpa pandang bulu, agar Sungai Ular tidak terus menjadi saksi atas dugaan eksploitasi yang berulang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ind













