JAKARTA — Di balik kecanggihan teknologi kendaraan modern, tersimpan satu pertanyaan yang kini kembali menghantui pemilik sepeda motor: seberapa aman kendaraan yang hanya mengandalkan kunci elektronik?
Kekhawatiran itu mencuat setelah sebuah kasus pencurian sepeda motor di Thailand menjadi sorotan di media sosial. Dalam rekonstruksi yang beredar, pelaku disebut mampu mengakses sistem elektronik sebuah Honda Giorno+ 125 tanpa merusak rumah kunci atau menggunakan cara paksa sebagaimana modus pencurian konvensional.

Peristiwa tersebut sontak menjadi alarm bagi para pemilik kendaraan berteknologi keyless.
Bukan suara kaca pecah. Bukan pula bunyi congkelan pada rumah kunci. Namun, teknologi justru disebut menjadi pintu masuk bagi aksi kejahatan tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam rekonstruksi yang beredar, pelaku memanfaatkan perangkat elektronik tertentu yang kemudian dikombinasikan dengan telepon pintar. Setelah proses tersebut dilakukan, sistem kendaraan disebut dapat kembali aktif sehingga sepeda motor bisa dihidupkan tanpa remote keyless asli berada di tangan pelaku.
Fenomena itu pun menjadi perbincangan luas. Sebab, kendaraan yang selama ini dianggap lebih modern dan aman ternyata tetap membutuhkan lapisan perlindungan tambahan.
Namun, kasus di Thailand tersebut tidak serta-merta membuktikan bahwa seluruh sepeda motor keyless memiliki kelemahan yang sama. Setiap produsen menggunakan sistem keamanan, rancangan elektronik, dan mekanisme perlindungan yang berbeda.
Informasi tersebut lebih tepat dijadikan peringatan keras agar pemilik kendaraan tidak terlena oleh kecanggihan teknologi.
Unggahan mengenai kasus tersebut, sebagaimana diberitakan akun Facebook Koran Harian, Senin (17/8/2026), beberapa jam setelah diunggah telah memperoleh 76 tanda suka, enam komentar dan delapan kali dibagikan ulang.
PROFESOR SUTAN NASOMAL ANGKAT BICARA
Fenomena tersebut turut mendapat perhatian dari Profesor Sutan Nasomal SH MH, Pakar Hukum Internasional dan Ekonomi. Ia mengingatkan agar perkembangan teknologi kendaraan tidak mengabaikan aspek keamanan yang sederhana dan sudah lama dikenal masyarakat.
“Saya menghimbau pabrik jangan coba-coba menciptakan kendaraan dengan kunci elektrik tanpa mempertimbangkan sistem pengamanan manual yang lebih aman,” ujar Sutan Nasomal.
Menurutnya, sistem manual telah menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat di berbagai negara sehingga pengguna sudah memahami mekanisme pengunciannya.
“Thailand memberikan pelajaran. Kendaraan dengan kunci manual menurut saya lebih aman dalam konteks tertentu, karena masyarakat sudah terbiasa mengunci kendaraannya secara manual. Sementara pada sistem elektrik, pemilik bisa saja lupa memastikan kendaraan benar-benar terkunci,” katanya.
Pernyataan tersebut disampaikan Profesor Sutan Nasomal saat menanggapi pertanyaan sejumlah pemimpin redaksi media massa cetak dan online melalui sambungan telepon seluler dari kantornya di Markas Pusat Partai Oposisi Merdeka, kawasan Cijantung, Jakarta, Senin (17/8/2026).
JANGAN TERLENA DENGAN KECANGGIHAN
Kasus tersebut menjadi pengingat bahwa teknologi bukan berarti tanpa celah.
Pemilik kendaraan disarankan tidak hanya mengandalkan sistem keyless. Penggunaan kunci pengaman tambahan, alarm, GPS tracker, serta parkir di lokasi terang dan berada dalam pengawasan kamera CCTV dapat menjadi
lapisan perlindungan tambahan.
Yang tidak kalah penting, pemilik kendaraan perlu memahami petunjuk keamanan yang diberikan produsen serta memperhatikan informasi pembaruan sistem apabila tersedia.
Sebab, di tengah kemajuan teknologi yang membuat kendaraan semakin praktis, para pelaku kejahatan juga terus mencari cara baru.
Hari ini pencuri mungkin membawa obeng dan kunci T. Besok, bisa jadi yang mereka bawa adalah perangkat elektronik dan sebuah telepon pintar.
Karena itu, kewaspadaan tidak boleh ikut menjadi korban dari rasa aman yang berlebihan.
Masyarakat yang melihat aktivitas mencurigakan terhadap kendaraan sebaiknya segera melaporkannya kepada aparat kepolisian dan tidak melakukan tindakan sendiri yang dapat membahayakan keselamatan.
Profesor Sutan Nasomal SH MH dikenal sebagai Pakar Hukum Internasional dan Ekonomi, Presiden Partai Oposisi Merdeka Jenderal Kompii, Ketua Umum Perkumpulan Advokat Muda Indonesian (PAMID), Ketua Umum YPLBH, Pendiri sekaligus Pengasuh Ponpes ASS SAQWA PLUS, serta Rektor Universitas STIA STIH Pronass.
Pesan terpenting dari fenomena ini sederhana: secanggih apa pun kendaraan, kewaspadaan pemilik tetap menjadi benteng pertama.
Indra













