JOMBANG — Ada pertemuan yang tidak sekadar menghadirkan dua sosok dalam satu ruangan. Ada pertemuan yang menghadirkan rasa hormat, kasih sayang, doa dan harapan tentang masa depan.
Nuansa penuh keharuan itulah yang terasa ketika tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU), Muhammad Safrizal Almalik, bersilaturahmi dengan Ketua Umum PBNU terpilih, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, di kediaman beliau di lingkungan kompleks Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Selasa (1/9/2026).
Safrizal yang juga Pengurus Harian PB IKA PMII datang bukan sekadar untuk mengucapkan selamat. Ia datang membawa rasa hormat seorang anak kepada sosok yang dipandangnya sebagai ayah, sekaligus membawa doa dan harapan agar amanah besar yang kini berada di pundak Gus Kikin dapat dijalankan dengan penuh keberkahan.
Di tengah suasana kekeluargaan itu, Safrizal menyampaikan ucapan selamat secara langsung atas amanah Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU terpilih.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Sudah seperti anak kepada Ayah, setelah Ayahnya menang merebut mayoritas hati umat Nahdliyyin se-Indonesia. Wajiblah anaknya memberikan ucapan selamat sembari mendoakan dan mendukungnya sebagai Ayah warga Nahdliyyin sedunia,” ujar Rizal.
Kalimat itu seolah menggambarkan bahwa di balik hiruk-pikuk organisasi dan besarnya amanah kepemimpinan, masih ada ikatan yang jauh lebih dalam: hubungan batin antara seorang anak dengan ayah yang menjadi tempat meminta doa dan restu.
Momen semakin menyentuh ketika Safrizal memohon doa, keberkahan dan restu kepada Gus Kikin. Tidak banyak yang diminta, hanya doa dari seorang ulama dan orang tua yang diharapkan menjadi penerang dalam setiap langkah pengabdian.
Gus Kikin kemudian mendoakan Safrizal.
Doa itu menjadi bagian paling sederhana sekaligus paling dalam dari pertemuan tersebut. Sebab terkadang, seorang anak tidak membutuhkan banyak nasihat. Ia hanya ingin mendengar doa dari orang yang ia hormati, agar perjalanan hidupnya diberi keselamatan, keberkahan dan kekuatan untuk terus mengabdi.
Pertemuan itu pun ditutup dengan pesan Gus Kikin agar seluruh warga Nahdliyyin senantiasa saling mengingatkan dan bersama-sama memperkuat sumber daya manusia.
“Jika SDM kita kuat, sumber daya alam bisa kita kelola demi kesejahteraan dan superioritas bangsa,” pesan Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng tersebut.
Pesan itu terasa seperti amanah yang dititipkan kepada generasi muda.
Bahwa perjuangan tidak berhenti pada pergantian kepemimpinan. Bahwa estafet pengabdian harus terus berjalan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dan dari Tebuireng hari itu, Safrizal datang membawa ucapan selamat, menyampaikan hormat, meminta doa.
Ia pulang membawa sesuatu yang mungkin jauh lebih berharga: restu seorang ayah, doa seorang ulama, dan amanah untuk terus berbuat bagi umat dan bangsa.
Di tempat yang penuh sejarah perjuangan para ulama itu, sebuah pertemuan singkat kembali mengingatkan bahwa kekuatan NU bukan hanya terletak pada besarnya organisasi, tetapi juga pada ikatan hati, doa para kiai, dan kesetiaan generasi mudanya dalam meneruskan perjuangan.
Indra













