TEKA-TEKI KEMATIAN EKS ISTRI POLISI MEMANAS: KELUARGA CURIGA ADA KEKERASAN, DOKTER FORENSIK BANTAH TEMUKAN JEJAK PENGANIAYAAN

- Penulis

Jumat, 7 Agustus 2026 - 13:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MEDAN — Kematian wanita berinisial W (30), mantan istri seorang Brigadir I, masih menyisakan tanda tanya besar. Di tengah duka keluarga dan dugaan adanya kekerasan sebelum kematian, tim dokter forensik RS Bhayangkara justru menyampaikan kesimpulan medis yang berbeda.

Keluarga sebelumnya mencurigai adanya tanda-tanda penganiayaan pada tubuh W. Namun, hasil pemeriksaan medis yang disampaikan dokter forensik menyebut tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.

Perbedaan antara dugaan keluarga dan penjelasan medis inilah yang kini menjadi sorotan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dokter Forensik RS Bhayangkara, Dr. Mistar Ritonga, menegaskan bahwa berdasarkan pemeriksaan awal, dirinya tidak menemukan tanda penganiayaan pada jenazah W.

“Dari pemeriksaan awal, saya tidak menjumpai tanda-tanda kekerasan,” ujar Mistar saat memberikan keterangan di Polrestabes Medan, Kamis (6/8/2026).

Pernyataan tersebut sekaligus menjawab dugaan keluarga yang sebelumnya mempertanyakan sejumlah kondisi fisik pada tubuh W.

LEBAM DI LEHER BUKAN CEKIKAN?

Salah satu bagian tubuh yang menjadi perhatian keluarga adalah bagian leher. Lebam tersebut diduga sebagai bekas cekikan.

Namun dokter forensik menjelaskan bahwa perubahan warna pada bagian tersebut tidak serta-merta menunjukkan adanya kekerasan.

Menurut Mistar, kondisi tersebut dapat terjadi secara fisiologis. Begitu pula dengan lebam pada bagian mata yang oleh keluarga sebelumnya dianggap sebagai indikasi adanya penganiayaan.

Ia menjelaskan, kondisi pada mata berkaitan dengan dampak luka tembak yang menjalar hingga dasar tengkorak dan dapat menyebabkan pembuluh darah mengalami pecah sehingga menimbulkan hematom.

Kondisi tersebut dikenal sebagai “hematom kacamata”.

JAHITAN DI LEHER JUGA DIPERTANYAKAN

Pertanyaan lain muncul terkait adanya jahitan pada bagian bawah dagu hingga area tenggorokan.

Dokter forensik menjelaskan bahwa jahitan tersebut merupakan bagian dari proses pemeriksaan autopsi.

“Bukan hanya leher, kepala juga. Jadi, kami buka dari insisi sampai simfisis, atau perut bawahnya. Sesudah itu, kami keluarkan organ, diperiksa semua, baru kami jahit kembali,” jelas Mistar.

Dengan demikian, bagian tubuh yang terlihat memiliki jahitan tersebut disebut berkaitan dengan prosedur pemeriksaan jenazah, bukan secara otomatis menunjukkan adanya luka akibat penganiayaan.

LEBAM DI KAKI DAN TANGAN: BUKAN BERARTI DIANIAYA

Mistar juga menjelaskan mengenai lebam yang ditemukan pada punggung kaki dan sejumlah jemari tangan.

Baca Juga:  Hasil Semifinal Kejuaraan Turnamen Voli Antar Desa se-Kabupaten Beltim 2026

Menurutnya, kondisi tersebut merupakan lebam mayat (livor mortis), yakni perubahan yang terjadi akibat penumpukan darah pada bagian tubuh tertentu setelah seseorang meninggal.

“Lebam mayat itu ialah penumpukan cairan darah di posisi tubuh. Jadi, itu fisiologis, berbeda nanti dia lebamnya itu oleh karena kekerasan,” katanya.

Ia menambahkan, secara kasatmata warna lebam mayat dan lebam akibat kekerasan memang dapat terlihat serupa karena sama-sama berkaitan dengan darah atau hemoglobin. Namun, secara medis keduanya memiliki mekanisme yang berbeda.

KELUARGA SEBELUMNYA UNGKAP KEGELISAHAN

Sebelumnya, ayah korban berinisial SG (56) menyampaikan dugaan berbeda.

Ia meyakini kematian putrinya bukan akibat mengakhiri hidup dengan menggunakan senjata api milik mantan suaminya, Brigadir I, melainkan diduga akibat penganiayaan.

“Ini bukan penembakan diri sendiri. Ini hasil dianiaya,” kata SG saat ditemui di rumah duka di Kota Medan, Rabu (5/8/2026).

SG juga mengaku melihat kondisi tubuh putrinya yang menurutnya menimbulkan kecurigaan.

Ia mempertanyakan kondisi leher yang disebut tampak lebam, mata yang terlihat lebam serta bagian tubuh lainnya yang menurut keluarga terlihat kebiru-biruan.

Keluarga bahkan mengaku sempat mempertanyakan kondisi tersebut kepada petugas, namun mengaku belum memperoleh penjelasan yang mereka anggap memuaskan.

DUA VERSI, SATU PERTANYAAN BESAR

Kini, dua pandangan berbeda berada di tengah pusaran kasus kematian W.

Di satu sisi, keluarga melihat sejumlah kondisi fisik jenazah sebagai sesuatu yang janggal dan patut dipertanyakan.

Di sisi lain, dokter forensik memberikan penjelasan medis bahwa kondisi tersebut dapat dijelaskan secara fisiologis maupun sebagai dampak dari luka tembak dan proses autopsi.

Perbedaan inilah yang membuat kematian W belum sepenuhnya lepas dari sorotan publik.

Keluarga meminta semua dugaan dijawab. Tim forensik menyampaikan penjelasan berdasarkan pemeriksaan medis. Dan di antara keduanya, fakta ilmiah serta proses penyelidikan menjadi kunci untuk mengurai apa yang sebenarnya terjadi sebelum W ditemukan meninggal dunia.

Sebab pada akhirnya, bukan dugaan yang harus menjadi penentu, melainkan bukti. Bukan asumsi yang harus memenangkan perkara, melainkan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.

(Yopie S./red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel pakarinvestigasi.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Api Mengamuk di KEK Sei Mangkei, Brimob Polda Sumut Bergerak Cepat Bantu Pemadaman — Tiga Nyawa Tak Terselamatkan
TANPA TANDA SNI: DIPERTANYAKAN PT.SARANA ASTRA MOTOR DIMINTA BUKA ASAL-USUL SPAREPART
SK Baru Guncang TKBM Rengas Pulau: Kepengurusan Lama Dibekukan, Bendera Organisasi Diperingatkan Tak Boleh Dijual untuk Kepentingan Pribadi
FRIC RESMI SURAT RDP DPRD BATAM,LINTAS SEKTOR BONGKAR SKANDAL PERIZINAN DAN PAJAK TEMPAT SENANG
Di Tengah Erupsi Sinabung, Brimob Polda Sumut Hadir Membawa Harapan: Makanan dan Air Bersih Mengalir untuk Pengungsi Karo
Hujan dan Angin Tak Jadi Penghalang, Tim SAR Brimob Terobos Cuaca Ekstrem Buka Kembali Jalan Warga Medan Tembung
Bukan Sekadar Berebut Juara, Turnamen Badminton PB Mitra Sporty Medan Menyalakan Harapan Atlet Muda
Dari Kampung untuk Bumi: Pelindo Multi Terminal Nyalakan Semangat Warga Aceh Besar Menjaga Lingkungan
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 15:40 WIB

Api Mengamuk di KEK Sei Mangkei, Brimob Polda Sumut Bergerak Cepat Bantu Pemadaman — Tiga Nyawa Tak Terselamatkan

Kamis, 3 September 2026 - 14:16 WIB

TANPA TANDA SNI: DIPERTANYAKAN PT.SARANA ASTRA MOTOR DIMINTA BUKA ASAL-USUL SPAREPART

Kamis, 3 September 2026 - 14:10 WIB

SK Baru Guncang TKBM Rengas Pulau: Kepengurusan Lama Dibekukan, Bendera Organisasi Diperingatkan Tak Boleh Dijual untuk Kepentingan Pribadi

Kamis, 3 September 2026 - 10:00 WIB

FRIC RESMI SURAT RDP DPRD BATAM,LINTAS SEKTOR BONGKAR SKANDAL PERIZINAN DAN PAJAK TEMPAT SENANG

Kamis, 3 September 2026 - 09:06 WIB

Di Tengah Erupsi Sinabung, Brimob Polda Sumut Hadir Membawa Harapan: Makanan dan Air Bersih Mengalir untuk Pengungsi Karo

Berita Terbaru